BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa angka kelahiran di Indonesia terus mengalami penurunan dalam lebih dari lima dekade terakhir.
Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, rata-rata jumlah anak yang dilahirkan oleh setiap perempuan selama masa reproduksinya atau Total Fertility Rate (TFR) kini berada di angka 2,13 anak per perempuan usia 15–49 tahun.
Data tersebut menunjukkan perubahan besar dibandingkan kondisi pada awal 1970-an, ketika rata-rata perempuan Indonesia melahirkan antara lima hingga enam anak.
Penurunan ini mencerminkan perubahan pola pikir masyarakat yang kini lebih memilih membangun keluarga dengan jumlah anak yang lebih sedikit.
Wakil Kepala BPS Sonny Harry Budiutomo mengatakan, tren penurunan angka kelahiran merupakan hasil perubahan yang berlangsung secara bertahap selama puluhan tahun.
Menurutnya, dampak dari berbagai kebijakan kependudukan mulai terlihat secara nyata sejak dekade 1990-an.
“Dampaknya baru benar-benar terasa pada 1990-an ketika angka kelahiran mulai menurun,” kata Sonny.
Dengan TFR sebesar 2,13, mayoritas keluarga di Indonesia saat ini memiliki sekitar dua orang anak.
Pola tersebut berbeda jauh dibandingkan generasi terdahulu yang umumnya memiliki keluarga dengan jumlah anak lebih banyak.
Meski demikian, Sonny menjelaskan bahwa penurunan angka kelahiran tidak serta-merta membuat pertumbuhan jumlah penduduk berhenti.
Indonesia masih mengalami pertambahan jumlah penduduk akibat fenomena population momentum, yakni kondisi ketika jumlah penduduk usia produktif dan usia reproduksi sangat besar sehingga angka kelahiran secara keseluruhan tetap tinggi.
Fenomena tersebut terjadi karena generasi yang lahir pada masa angka kelahiran masih tinggi kini telah memasuki usia menikah dan memiliki anak.
Akibatnya, jumlah bayi yang lahir secara nasional masih cukup besar meskipun rata-rata jumlah anak dalam setiap keluarga terus menurun.
Menurut Sonny, masyarakat Indonesia saat ini juga semakin menerima konsep keluarga kecil yang selama bertahun-tahun diperkenalkan melalui Program Keluarga Berencana (KB).
Nilai tersebut kini telah menjadi bagian dari budaya di banyak keluarga Indonesia.
“Nilai-nilai yang diperkenalkan melalui Program KB telah mengakar sehingga semakin banyak pasangan yang memilih memiliki dua anak,” ujarnya.
Selain keberhasilan Program KB, peningkatan kualitas layanan kesehatan dinilai menjadi faktor penting yang ikut mendorong penurunan angka kelahiran.
Akses masyarakat terhadap layanan kesehatan ibu dan anak kini semakin mudah, baik di perkotaan maupun pedesaan.
Pemeriksaan kehamilan yang lebih rutin, fasilitas persalinan yang semakin memadai, hingga meningkatnya pelayanan kesehatan bayi membuat tingkat kelangsungan hidup anak menjadi lebih tinggi dibandingkan beberapa dekade lalu.
Menurut Sonny, kondisi tersebut membuat banyak keluarga merasa tidak perlu lagi memiliki banyak anak sebagai bentuk antisipasi terhadap tingginya angka kematian bayi seperti yang pernah terjadi pada masa lalu.
“Karena tingkat kelangsungan hidup anak semakin tinggi, masyarakat merasa dua anak sudah cukup dan tidak lagi merasa perlu memiliki banyak anak seperti generasi sebelumnya,” pungkasnya.
Tren penurunan Total Fertility Rate (TFR) ini sekaligus menunjukkan perubahan demografi yang tengah berlangsung di Indonesia.
Di satu sisi, kondisi tersebut dapat menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia karena perhatian keluarga terhadap pendidikan dan kesehatan anak menjadi lebih optimal.
Namun di sisi lain, pemerintah juga perlu menyiapkan berbagai kebijakan jangka panjang untuk menghadapi perubahan struktur penduduk pada masa mendatang, termasuk menjaga keseimbangan jumlah penduduk usia produktif dan lanjut usia agar pembangunan nasional tetap berkelanjutan. (*/stch/dda)