BANYUMASEKSPRES.ID, Rencana FIFA membuka peluang investasi eksternal dalam pengelolaan hak komersial turnamen kembali memicu perdebatan di dunia sepak bola.
Proposal yang digagas Presiden FIFA Gianni Infantino tersebut mendapat dukungan dari Asosiasi Sepak Bola Republik Ceko, tetapi masih menghadapi penolakan dari UEFA dan kekhawatiran dari Asosiasi Sepak Bola Inggris atau FA Inggris.
Infantino mengusulkan pembentukan FIFA Forward Enterprise, sebuah perusahaan baru yang nantinya mengelola hak komersial berbagai turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia.
Melalui skema tersebut, FIFA berencana membuka kepemilikan minoritas perusahaan kepada investor eksternal.
Rencana investasi ini menjadi salah satu kebijakan penting yang tengah dibahas di internal FIFA.
Jika proposal tersebut mendapat persetujuan, investor dari luar organisasi sepak bola akan memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam perusahaan yang mengelola aset komersial turnamen FIFA.
Dalam proposal tersebut, sebanyak 211 federasi anggota FIFA juga dijanjikan akses pendanaan hingga 40 juta dolar AS apabila menyetujui rencana tersebut sebelum batas waktu 19 September 2026.
Besarnya potensi pendanaan tersebut membuat proposal FIFA mendapat respons berbeda dari federasi anggota.
Sebagian melihat peluang investasi sebagai sumber tambahan untuk mengembangkan sepak bola di negara masing-masing.
Namun, sejumlah pihak lainnya mempertanyakan dampaknya terhadap tata kelola dan kepentingan sepak bola secara keseluruhan.
Presiden Asosiasi Sepak Bola Republik Ceko, David Trunda, menjadi salah satu tokoh yang menyatakan dukungan terhadap rencana Gianni Infantino.
Trunda menilai proposal tersebut berpotensi memberikan manfaat nyata bagi perkembangan sepak bola di Republik Ceko.
Meskipun mengakui masih membutuhkan penjelasan lebih rinci mengenai mekanisme investasi, ia melihat arah kebijakan FIFA secara positif.
“Saya melihat manfaat yang nyata bagi sepak bola Ceko melalui kerja sama yang erat dengan Gianni Infantino dan timnya. Tentu kami masih membutuhkan rincian lebih lanjut, tetapi secara pribadi saya melihat dampak positif dari niat FIFA ini,” kata Trunda.
Ia juga menilai kerja sama yang selama ini dilakukan bersama FIFA memberikan dampak positif terhadap perkembangan sepak bola di Eropa.
“Saya baru menjabat sedikit lebih dari satu tahun dan seluruh proyek yang saya alami bersama FIFA sejauh ini sangat positif bagi perkembangan sepak bola Eropa,” lanjutnya.
Dukungan dari Republik Ceko menjadi salah satu suara yang memperlihatkan bahwa proposal investasi FIFA tidak sepenuhnya mendapat penolakan dari seluruh anggota organisasi.
Berbeda dengan federasi sepak bola Republik Ceko, UEFA masih mempertahankan sikap keras terhadap rencana FIFA tersebut.
UEFA menilai sepak bola tidak seharusnya diperlakukan sebagai komoditas investasi.
Organisasi sepak bola Eropa itu juga mempertanyakan dampak proposal terhadap berbagai pihak yang terlibat dalam ekosistem sepak bola, mulai dari federasi, klub, liga, pemain hingga suporter.
Penolakan UEFA menjadi tantangan serius bagi FIFA karena organisasi tersebut menaungi 55 federasi anggota di Eropa.
UEFA bahkan dijadwalkan menggelar pertemuan darurat dengan seluruh 55 federasi anggotanya.
Pertemuan tersebut akan digunakan untuk membahas perkembangan proposal FIFA sekaligus menentukan respons terhadap rencana investasi yang diajukan Infantino.
Sikap UEFA menunjukkan bahwa persoalan ini tidak hanya menyangkut potensi keuntungan finansial.
Ada kekhawatiran mengenai bagaimana pengelolaan hak komersial Piala Dunia dan turnamen FIFA lainnya akan berubah apabila terdapat kepemilikan dari investor eksternal.
Penolakan terhadap proposal FIFA juga datang dari Inggris. Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) menyatakan keprihatinan terhadap rencana tersebut.
FA Inggris mengaku belum memperoleh penjelasan secara lengkap mengenai isi proposal maupun proses penyusunannya.
Kondisi tersebut membuat federasi sepak bola Inggris masih membutuhkan informasi lebih lanjut sebelum menentukan sikap terhadap rencana investasi FIFA.
Sikap FA Inggris semakin memperlihatkan adanya perbedaan pandangan di antara anggota FIFA.
Di satu sisi, terdapat federasi yang melihat peluang pendanaan sebagai keuntungan untuk pengembangan sepak bola.
Di sisi lain, sejumlah federasi besar justru meminta transparansi dan penjelasan lebih mendalam mengenai konsekuensi investasi tersebut.
Perbedaan sikap antara FIFA, UEFA, FA Inggris, dan federasi lainnya membuat masa depan FIFA Forward Enterprise masih menjadi perdebatan.
FIFA melihat proposal tersebut sebagai peluang untuk mengembangkan potensi komersial turnamen dan memberikan manfaat pendanaan kepada federasi anggota.
Sementara itu, pihak yang menolak atau masih keberatan menilai diperlukan pertimbangan lebih mendalam mengenai dampak jangka panjang terhadap tata kelola sepak bola.
Batas waktu persetujuan proposal ditetapkan pada 19 September 2026. Artinya, FIFA dan federasi anggota masih memiliki waktu untuk melakukan pembahasan sebelum menentukan keputusan.
Dalam beberapa pekan mendatang, negosiasi dan pembahasan diperkirakan semakin intensif.
Sikap UEFA dan FA Inggris juga berpotensi memengaruhi dinamika pembahasan di antara federasi anggota FIFA.
Jika proposal tersebut akhirnya disetujui, pembentukan FIFA Forward Enterprise dapat menjadi perubahan besar dalam pengelolaan aset komersial sepak bola dunia.
Namun, jika penolakan dari federasi-federasi besar semakin kuat, FIFA harus menghadapi tantangan untuk meyakinkan anggotanya mengenai manfaat dan mekanisme investasi tersebut.
Untuk saat ini, belum ada keputusan final mengenai masa depan proposal tersebut.
Perdebatan antara FIFA dan sejumlah federasi sepak bola masih akan berlangsung hingga batas waktu persetujuan pada September mendatang.
Yang jelas, rencana investasi Piala Dunia telah membuka diskusi besar mengenai masa depan bisnis sepak bola dunia.
Keputusan yang diambil FIFA dan para federasi anggota nantinya tidak hanya menentukan arah pengelolaan hak komersial turnamen, tetapi juga dapat memengaruhi hubungan antara FIFA, konfederasi, federasi nasional, klub, pemain, dan suporter. (*/stch/dda)