Iklan

Jangan Sampai Culture Shock Saat Traveling, Inilah 5 Kebiasaan Warga Spanyol Yang Berbeda Dengan RI

Iklan

BANYUMASEKSPRES.ID, Spanyol dikenal sebagai salah satu negara Eropa yang memiliki kekayaan budaya, sejarah, kuliner, hingga gaya hidup yang khas.

Selain terkenal dengan sepak bola dan berbagai destinasi wisatanya, kehidupan sehari-hari masyarakat Spanyol juga memiliki sejumlah kebiasaan yang bisa terasa tidak biasa bagi wisatawan asal Indonesia.

Perbedaan budaya memang kerap menimbulkan culture shock, terutama bagi orang yang baru pertama kali mengunjungi suatu negara.

Kebiasaan yang dianggap normal oleh masyarakat setempat belum tentu memiliki makna yang sama di negara lain.

Mulai dari jadwal makan malam yang jauh lebih larut, cara menyapa orang lain, hingga gaya berbicara yang ekspresif, berikut lima kebiasaan warga Spanyol yang mungkin terasa unik bagi orang Indonesia.

1. Makan Malam pada Waktu yang Sangat Larut

Salah satu kebiasaan paling terkenal dari masyarakat Spanyol adalah waktu makan malam yang relatif terlambat.

Jika banyak orang Indonesia terbiasa makan malam sekitar pukul 18.00 hingga 19.00, warga Spanyol justru bisa mulai makan malam pada pukul 21.00 atau bahkan lebih malam.

Jadwal ini juga memengaruhi jam operasional sejumlah restoran. Di beberapa wilayah, restoran baru ramai menjelang malam karena masyarakat setempat belum terbiasa makan malam lebih awal seperti wisatawan dari negara lain.

Pola makan masyarakat Spanyol yang berbeda menjadi salah satu alasan di balik kebiasaan tersebut. Mereka memiliki beberapa waktu makan sepanjang hari, termasuk sarapan pagi dan makanan ringan pertengahan pagi.

Makan siang pun biasanya dilakukan lebih lambat, sekitar pukul 14.00 hingga 15.30. Bahkan, makan siang sering dianggap sebagai salah satu waktu makan utama dalam sehari.

Karena ritme tersebut, wisatawan mungkin akan menemukan suasana restoran yang masih relatif sepi pada tengah hari.

Memahami jadwal makan lokal dapat membantu pelancong menyesuaikan aktivitas selama berada di Spanyol. Selain itu, inilah daftar negara yang naikkan harga Visa WNI selama tahun 2026.

2. Sampah Tisu Bisa Terlihat Berserakan di Lantai Bar

Kebiasaan berikutnya cukup mengejutkan bagi sebagian wisatawan. Saat mengunjungi bar atau tempat makan tertentu di Spanyol, pengunjung terkadang melihat tisu bekas atau sampah kecil berserakan di lantai.

Dalam banyak budaya, membuang sampah ke lantai tentu dianggap sebagai tindakan yang kurang menjaga kebersihan.

Namun, pada sejumlah tempat di Spanyol, kondisi tersebut memiliki konteks budaya tersendiri. Sampah yang terkumpul kemudian akan dibersihkan oleh pekerja secara berkala.

Selain berkaitan dengan kebiasaan pelayanan di tempat tersebut, lantai yang terlihat penuh tisu kadang justru diasosiasikan dengan suasana bar yang ramai dan banyak dikunjungi pelanggan.

Meski begitu, wisatawan tetap perlu memperhatikan aturan di setiap tempat. Tidak semua restoran atau bar menerapkan kebiasaan yang sama, sehingga menjaga kebersihan tetap menjadi hal penting ketika berkunjung.

3. Tidak Selalu Tersenyum kepada Orang Asing

Indonesia dikenal dengan budaya yang hangat dan ramah. Tersenyum kepada orang yang ditemui, termasuk orang asing, sering dianggap sebagai bentuk keramahan.

Namun, kebiasaan tersebut tidak selalu berlaku dengan cara yang sama di Spanyol. Seseorang mungkin tidak langsung tersenyum ketika berpapasan dengan orang yang belum dikenal.

Hal ini bukan berarti masyarakat Spanyol tidak ramah. Dalam interaksi sosial, mereka justru dikenal dapat menjadi sangat hangat, terbuka, dan ekspresif ketika percakapan sudah dimulai.

Budaya sosial di Spanyol cenderung membedakan interaksi singkat dengan orang asing dan hubungan yang sudah terjalin. Karena itu, ekspresi wajah netral saat bertemu orang yang belum dikenal tidak selalu menunjukkan sikap dingin atau tidak bersahabat.

Kesopanan bisa ditunjukkan melalui sapaan, percakapan yang baik, serta kontak mata yang wajar tanpa harus selalu diawali dengan senyuman.

4. Salam dengan Kecupan di Kedua Pipi

Kebiasaan menyapa di Spanyol juga bisa membuat wisatawan asal Indonesia merasa canggung. Dalam situasi sosial tertentu, masyarakat Spanyol terbiasa memberikan dua kecupan di pipi sebagai bentuk salam.

Biasanya, salam dilakukan dengan mendekatkan pipi secara bergantian ke sisi kiri dan kanan. Bagi masyarakat yang terbiasa hanya berjabat tangan, kebiasaan tersebut mungkin terasa lebih personal.

Dalam budaya Spanyol, kecupan di pipi dapat menjadi tanda keakraban dan keramahan. Tradisi ini umum dijumpai dalam pertemuan sosial, terutama antara perempuan dengan perempuan atau perempuan dengan laki-laki.

Sementara itu, interaksi antara laki-laki dalam situasi tertentu lebih sering dilakukan melalui jabat tangan atau bentuk salam lainnya. Kebiasaan dapat berbeda bergantung pada wilayah, hubungan sosial, dan situasi yang dihadapi.

5. Berbicara dengan Suara Lantang dan Penuh Gestur

Jangan terburu-buru menganggap orang Spanyol sedang bertengkar hanya karena mendengar percakapan dengan suara cukup keras. Masyarakat Spanyol dikenal memiliki gaya komunikasi yang ekspresif.

Nada suara yang lantang sering disertai gerakan tangan dan ekspresi wajah yang aktif. Bagi orang dari budaya yang terbiasa berbicara dengan volume lebih rendah, situasi tersebut mungkin terlihat seperti perdebatan serius.

Padahal, suara lantang dan gestur yang banyak tidak selalu menunjukkan kemarahan. Gaya komunikasi tersebut dapat menjadi bagian dari cara seseorang menunjukkan antusiasme dan keterlibatan dalam percakapan.

Memahami Budaya Lokal sebelum Berkunjung ke Spanyol

Setiap negara memiliki norma sosial berdasarkan sejarah dan budaya masyarakatnya. Kebiasaan warga Spanyol yang tidak biasa bagi orang Indonesia belum tentu dianggap aneh oleh masyarakat setempat.

Memahami perbedaan budaya menjadi bekal penting sebelum bepergian. Dengan mengenal kebiasaan makan, cara menyapa, hingga gaya berkomunikasi masyarakat Spanyol, wisatawan mudah beradaptasi budaya lokal.

Perbedaan inilah juga membuat pengalaman bepergian menjadi menarik. Bukan hanya mengunjungi tempat wisata, mengenal kehidupan sehari-hari masyarakat setempat memberikan pengalaman yang berkesan. (*/nds)

Iklan