Iklan

Lomba Menjala Ikan di Sungai Klawing Jadi Tradisi Unik Warga Penaruban Sambut HUT RI

Iklan

BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Penaruban, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga, berlangsung dengan cara yang berbeda.

Puluhan warga turun langsung ke Sungai Klawing untuk mengikuti lomba menjala ikan, Minggu (9/8/2026).

Sebanyak 33 warga mengikuti lomba menjala ikan yang digelar Panitia Peringatan Hari Nasional (PPHN) Desa Penaruban.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI sekaligus mengangkat kehidupan warga yang selama ini dekat dengan Sungai Klawing.

Sejak pagi, suasana di sekitar Sungai Klawing terlihat ramai. Warga membentangkan jala dan menyusuri aliran sungai untuk mencari ikan.

Bagi sebagian peserta, aktivitas tersebut bukan sesuatu yang asing karena mencari ikan di Sungai Klawing sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kepala Desa Penaruban Siti Syarifah mengatakan, lomba menjala ikan sengaja dibuat dekat dengan aktivitas masyarakat.

Sebagian warga Desa Penaruban memang memanfaatkan Sungai Klawing untuk mencari ikan dan membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

“Lomba menjala untuk tahun 2026 memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia. Banyak warga masyarakat yang kesehariannya mencari ikan di Sungai Klawing sebagai perekonomian di keluarga,” katanya.

Namun, lomba tersebut tidak hanya bertujuan memeriahkan HUT RI. Panitia juga ingin menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga kondisi Sungai Klawing.

Hal itu karena warga mulai merasakan adanya penurunan jumlah ikan yang dapat ditemukan di sungai.

Setelah perlombaan menjala ikan, panitia melakukan penebaran benih ikan ke Sungai Klawing.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga populasi ikan sekaligus mempertahankan ekosistem perairan di wilayah Desa Penaruban.

“Dengan adanya lomba menjala ikan, kita juga menyeimbangkan dengan menebar benih ikan. Harapannya populasi ikan di Sungai Klawing Desa Penaruban tetap ada untuk menjaga ekosistem perairan dan memperbanyak keanekaragaman ikan,” jelas Siti.

Kondisi berkurangnya populasi ikan juga dirasakan langsung oleh peserta lomba. Sugito, salah seorang warga yang mengikuti perlombaan, mengaku hanya memperoleh sekitar tiga ekor ikan. Salah satunya merupakan ikan mujair atau jaer.

“Ya, agak susah. Ikannya berkurang. Baru dapat tiga,” ujarnya.

Menurut Sugito, jumlah ikan di Sungai Klawing memang terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi tersebut juga berdampak terhadap warga yang menggantungkan sebagian pendapatannya dari aktivitas mencari ikan.

“Ya memang berkurang. Tahun-tahun belakangan ini terus berkurang. Pendapatan juga berkurang,” katanya.

Sugito berharap kegiatan penebaran benih ikan dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Menurutnya, upaya tersebut penting untuk menjaga ketersediaan ikan, terutama ketika memasuki musim kemarau.

Meski hasil tangkapan dalam perlombaan tidak banyak, Sugito tetap menikmati kegiatan tersebut.

Baginya, lomba menjala ikan menjadi salah satu cara warga Desa Penaruban memperingati kemerdekaan.

“Ya, senang memperingati hari kemerdekaan. Kita sebagai warga negara kan enggak ikut berperang, jadi kita meneruskan perjuangan para pendahulu. Salah satunya ikut lomba menjala ikan untuk memperingati HUT ke-81,” tuturnya.

Peserta lainnya, Jasman, mengatakan menangkap ikan bukan hal sulit bagi warga yang sudah terbiasa mencari ikan di Sungai Klawing.

Ia bahkan telah mengetahui sejumlah lokasi yang biasanya menjadi tempat ikan berkumpul.

“Masalah menangkap ikan bagi kami, kami sudah terbiasa, jadi enggak ada kesulitan. Cuma ikannya yang kurang banyak,” katanya.

Jasman berhasil mendapatkan sejumlah ikan, di antaranya mujair dan nila. Namun, hasil tersebut tetap membuatnya prihatin jika dibandingkan dengan kondisi Sungai Klawing pada masa lalu.

Menurutnya, ikan dahulu lebih mudah ditemukan. Kondisi tersebut berubah karena munculnya berbagai cara menangkap ikan yang dinilai dapat mengancam populasi ikan di sungai.

“Wah, dibandingkan dulu sama sekarang itu banyakan dulu. Dulu belum ada obat, belum ada setrum. Sekarang sudah banyak obat dan setrum. Itu juga membuat ikan berkurang,” ujarnya.

Penggunaan obat maupun setrum untuk menangkap ikan dinilai menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian.

Jika aktivitas tersebut terus berlangsung tanpa pengendalian, populasi ikan di Sungai Klawing dikhawatirkan semakin berkurang.

Bagi masyarakat Penaruban, keberadaan ikan di Sungai Klawing bukan hanya berkaitan dengan ekosistem.

Sungai juga menjadi salah satu sumber kehidupan warga yang selama ini memanfaatkannya untuk mencari ikan.

Karena itu, Jasman mengajak masyarakat menjaga Sungai Klawing agar tetap dapat memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

Menurutnya, kelestarian sungai harus menjadi tanggung jawab bersama.

“Saya mengimbau kepada masyarakat, tolong dilestarikan Sungai Klawing untuk masa ke depannya, untuk anak cucu kami, supaya bisa makan ikan terus dan bisa menangkap. Jangan sampai punah,” katanya.

Lomba menjala ikan di Desa Penaruban akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan untuk memeriahkan HUT RI.

Di balik keseruan warga turun ke Sungai Klawing, muncul kembali persoalan mengenai berkurangnya populasi ikan dan pentingnya menjaga lingkungan.

Penebaran benih ikan yang dilakukan setelah perlombaan menjadi simbol bahwa perayaan kemerdekaan juga dapat diisi dengan kegiatan yang memberikan manfaat bagi lingkungan.

Warga tidak hanya mengambil hasil dari sungai, tetapi juga berupaya mengembalikan kehidupan ke dalam ekosistemnya.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat Desa Penaruban menunjukkan bahwa menjaga Sungai Klawing dapat berjalan beriringan dengan tradisi dan perayaan HUT Kemerdekaan RI.

Sungai yang tetap terjaga diharapkan dapat terus menjadi sumber kehidupan bagi warga hingga generasi berikutnya. (*/stch/dda)

Iklan