Iklan

Petani Dieng Mulai Kesulitan Air, Telaga Merdada Jadi Andalan Pengairan

Iklan

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Musim kemarau mulai berdampak terhadap ketersediaan air bagi petani hortikultura di dataran tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara.

Sejumlah petani di Kecamatan Batur kini harus mengandalkan berbagai sumber air untuk menjaga tanaman tetap tumbuh di tengah debit air yang mulai menurun.

Salah satu sumber air yang masih dimanfaatkan petani adalah Telaga Merdada, yang selama ini menjadi salah satu sumber pengairan lahan pertanian di kawasan Dieng.

Selain Telaga Merdada, petani juga memanfaatkan aliran sungai dan sumur untuk memenuhi kebutuhan air tanaman.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan air menjadi salah satu tantangan bagi petani hortikultura ketika memasuki periode kemarau.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Banjarnegara, Firman Sapta Adi, mengatakan pemanfaatan air Telaga Merdada oleh petani sudah berlangsung sejak lama.

“Penggunaan air dari dulu mengambil dari Merdada, khususnya Dusun Krajan Desa Karangtengah dan sebagian Desa Bakal,” ujar Firman, Minggu (13/9/2026).

Menurut Firman, diperkirakan terdapat sekitar 400 petani yang memanfaatkan sumber air dari Telaga Merdada untuk kebutuhan pengairan lahan.

Namun, pemerintah daerah belum memiliki data secara rinci mengenai jumlah petani yang menggunakan sumber air tersebut maupun jumlah pompa yang digunakan.

Pendataan menjadi tidak sederhana karena sebagian petani memiliki lebih dari satu pompa untuk membantu mengalirkan air menuju lahan pertanian.

Pemanfaatan pompa menjadi salah satu cara yang dilakukan petani untuk mengambil air dari sumber yang tersedia.

Air kemudian digunakan untuk menjaga kebutuhan tanaman hortikultura selama debit sumber air belum mencukupi kebutuhan secara alami.

Kondisi ini menjadi semakin penting bagi petani di dataran tinggi Dieng karena tanaman hortikultura membutuhkan ketersediaan air yang cukup untuk mempertahankan pertumbuhan.

Meski demikian, DPPKP Banjarnegara memastikan kondisi pertanian di wilayah dataran tinggi hingga saat ini masih relatif terkendali.

Ketergantungan terhadap Telaga Merdada tidak terjadi pada seluruh wilayah Desa Karangtengah.

Petani di beberapa dusun memiliki sumber air yang berbeda sesuai kondisi wilayah masing-masing.

Petani di Dusun Simpangan, misalnya, mengandalkan aliran Sungai Dolok untuk memenuhi kebutuhan pengairan lahan.

Sementara itu, petani di Dusun Pawuhan memanfaatkan kombinasi sumber air dari Sungai Dolok dan sumur.

Penggunaan beberapa sumber air tersebut menjadi strategi petani untuk mempertahankan produktivitas lahan selama musim kemarau.

Ketika debit salah satu sumber air mengalami penurunan, petani dapat memanfaatkan sumber lain yang masih tersedia.

Namun, kondisi tersebut juga membutuhkan biaya dan tenaga tambahan, terutama apabila air harus dipompa menuju lahan yang lokasinya lebih tinggi atau cukup jauh dari sumber air.

Bagi petani hortikultura di kawasan Dieng, keberadaan sumber air menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan aktivitas pertanian.

Memasuki musim kemarau, debit sejumlah sumber air memang mulai mengalami penurunan.

Namun, kondisi tersebut belum sampai menyebabkan gangguan serius terhadap lahan pertanian di dataran tinggi Banjarnegara.

Firman mengatakan DPPKP hingga saat ini belum menerima laporan mengenai tanaman pertanian yang mengalami dampak kekeringan parah hingga menyebabkan gagal panen.

“Untuk dampak kekeringan ke lahan pertanian di dataran tinggi sampai saat ini masih terkendali, belum ada laporan,” katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meskipun petani mulai menghadapi keterbatasan air, kondisi tanaman masih dapat dipertahankan.

Petani tetap melakukan pengairan dengan memanfaatkan sumber air yang tersedia.

Telaga Merdada menjadi salah satu sumber penting, sementara sungai dan sumur digunakan oleh petani di wilayah lain.

Pemerintah daerah juga terus melakukan pemantauan untuk melihat perkembangan kondisi lahan dan ketersediaan air.

DPPKP Banjarnegara mencatat dampak kemarau saat ini justru lebih terasa pada kebutuhan air bersih masyarakat dibandingkan lahan pertanian di dataran tinggi.

Salah satu wilayah yang mengalami kondisi kekeringan cukup parah untuk kebutuhan rumah tangga berada di RW 04, Dusun Krajan, Desa Karangtengah.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan ketersediaan air selama musim kemarau tidak hanya berkaitan dengan sektor pertanian.

Kebutuhan air rumah tangga juga menjadi perhatian ketika sumber air mengalami penurunan debit.

Pemerintah perlu memantau kedua kebutuhan tersebut secara bersamaan. Di satu sisi, ketersediaan air harus dijaga agar tanaman pertanian tetap dapat tumbuh.

Di sisi lain, kebutuhan dasar masyarakat terhadap air bersih juga harus dipenuhi.

Pemantauan menjadi semakin penting apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan.

Penurunan debit sumber air secara berkelanjutan dapat meningkatkan tekanan terhadap kebutuhan air pertanian maupun rumah tangga.

Di tengah keterbatasan air, petani berharap pemerintah dapat memberikan tambahan dukungan melalui program irigasi perpompaan.

Program tersebut dinilai dapat membantu petani memperoleh pasokan air ketika sumber air alami mengalami penurunan debit.

Kecamatan Batur menjadi salah satu wilayah yang dinilai membutuhkan dukungan tersebut karena aktivitas pertanian hortikultura cukup bergantung pada ketersediaan air.

Dukungan irigasi perpompaan juga diharapkan dapat membuat pengairan lahan lebih terencana.

Petani tidak hanya mengandalkan kondisi sumber air alami, tetapi memiliki fasilitas pendukung ketika debit air menurun.

Namun, kebutuhan masing-masing wilayah tentu berbeda. Karena itu, penentuan lokasi program perlu mempertimbangkan kondisi sumber air, luas lahan, jumlah petani, serta tingkat kebutuhan pengairan.

Pendataan petani dan sarana pompa juga dapat menjadi bagian penting untuk menentukan kebutuhan tersebut.

DPPKP Banjarnegara masih memantau kondisi lahan pertanian dan ketersediaan air di wilayah dataran tinggi.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan kemarau berlangsung lebih panjang.

Pemantauan penting dilakukan karena kondisi ketersediaan air dapat berubah seiring berjalannya musim kemarau.

Debit sumber air yang saat ini masih mampu memenuhi kebutuhan petani dapat kembali menurun apabila curah hujan tidak kunjung meningkat.

Petani juga diharapkan dapat menyesuaikan pola pengairan dengan kondisi sumber air yang tersedia.

Telaga Merdada hingga kini masih menjadi salah satu sumber penting bagi petani di Dusun Krajan, Desa Karangtengah, dan sebagian wilayah Desa Bakal.

Sementara petani di Dusun Simpangan dan Pawuhan memanfaatkan Sungai Dolok serta sumur.

Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana petani di kawasan Dieng beradaptasi menghadapi keterbatasan air saat kemarau.

Meskipun belum ada laporan gagal panen akibat kekeringan parah, kebutuhan terhadap dukungan infrastruktur air tetap menjadi perhatian.

Program irigasi perpompaan diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk menjaga pasokan air bagi lahan pertanian, terutama jika debit sumber alami terus mengalami penurunan.

Dengan pemantauan yang berkelanjutan dan dukungan infrastruktur yang tepat, petani hortikultura di dataran tinggi Dieng diharapkan tetap mampu mempertahankan aktivitas pertanian selama musim kemarau. (jud/stch/dda)

Iklan