BANYUMASEKSPRES.ID, Nama Taylor Swift kini tidak hanya dikenal dalam industri musik. Penyanyi asal Amerika Serikat itu mendapat penghormatan unik dari dunia sains setelah namanya menjadi inspirasi penamaan genus dan sejumlah spesies serangga pemakan tumbuhan yang baru dideskripsikan dari Australia.
Penamaan tersebut dilakukan oleh peneliti dari University of California, Riverside (UCR) melalui penelitian yang mendeskripsikan 12 spesies serangga baru.
Hasil penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Insect Systematics and Evolution pada September 2026.
Salah satu genus yang diberi nama khusus adalah Swiftiephylus. Nama tersebut merupakan gabungan dari kata “Swiftie”, sebutan bagi penggemar Taylor Swift, dengan “Phylus”, nama yang umum digunakan untuk kelompok serangga tersebut.
Tidak berhenti pada nama genus, empat spesies dalam kelompok tersebut juga mendapatkan nama yang berkaitan dengan Taylor Swift dan sejumlah albumnya.
Keempatnya adalah Swiftiephylus taylorae, Swiftiephylus amator, Swiftiephylus intrepidus, dan Swiftiephylus poetorum.
Keempat nama ilmiah tersebut memiliki hubungan dengan nama Taylor Swift maupun karya musiknya.
Swiftiephylus taylorae mengambil bentuk Latin dari nama Taylor. Sementara itu, Swiftiephylus amator merujuk pada kata Latin yang berkaitan dengan “lover”, terinspirasi dari album Lover.
Berikutnya terdapat Swiftiephylus intrepidus, yang menggunakan istilah Latin yang berarti “fearless” dan berkaitan dengan album Fearless. Sedangkan Swiftiephylus poetorum merujuk pada “poets” atau para penyair, yang dikaitkan dengan album The Tortured Poets Department.
Dengan demikian, nama Taylor Swift tidak hanya digunakan sebagai inspirasi budaya populer, tetapi menjadi bagian dari nomenklatur ilmiah untuk organisme yang sebelumnya belum dideskripsikan secara resmi.
Penamaan tersebut dilakukan Sarah Schroeder, kandidat doktor bidang entomologi di UCR sekaligus penggemar Taylor Swift sejak lama.
Schroeder mengatakan penamaan itu menjadi cara personal untuk menghormati musisi yang telah menemani perjalanan hidupnya. Namun, tujuan utamanya bukan sekadar membuat nama ilmiah terdengar menarik.
Ia berharap keterkaitan dengan Taylor Swift dapat membantu menarik perhatian masyarakat terhadap keanekaragaman serangga dan pentingnya konservasi.
Ada alasan lain yang membuat Schroeder merasa nama Taylor Swift cocok digunakan untuk kelompok serangga tersebut.
Serangga Swiftiephylus memiliki tubuh berwarna kuning pucat atau krem dengan aksen merah.
Kombinasi warna tersebut kemudian dikaitkan Schroeder dengan ciri visual Taylor Swift yang dikenal dengan rambut pirang dan warna merah pada bibirnya.
UCR menyebut pewarnaan tubuh serangga tersebut juga memiliki fungsi ekologis.
Warna krem dan merah diduga membantu serangga menyamarkan diri di antara bunga pohon she-oak yang menjadi tanaman inangnya.
Dalam keterangan peneliti, serangga tersebut berasosiasi erat dengan pohon dan semak she-oak Australia.
Tumbuhan tersebut dapat ditemukan pada beragam lingkungan, mulai dari kawasan tropis hingga daerah pesisir dan wilayah dengan kondisi panas ekstrem.
Sebagian serangga pemakan tumbuhan dari kelompok tersebut bahkan menjalani sebagian besar siklus hidupnya pada tanaman inang yang sama, mulai dari menetas hingga dewasa dan berkembang biak.
Menariknya, meskipun memakan bagian dari tanaman, serangga yang baru dideskripsikan itu tidak diketahui menyebabkan kerusakan serius pada tanaman inangnya.
Serangga tersebut juga tidak dikenal sebagai hama bagi manusia maupun hewan.
Secara taksonomi, Swiftiephylus termasuk dalam keluarga Miridae, salah satu kelompok besar dalam ordo Hemiptera atau kelompok serangga sejati.
UCR menyebut keluarga Miridae memiliki lebih dari 11.000 spesies yang telah dideskripsikan di seluruh dunia.
Kelompok tersebut memiliki keragaman perilaku dan pola hidup, termasuk spesies pemakan tumbuhan serta spesies predator.
Temuan 12 spesies baru dari Australia tersebut menunjukkan bahwa masih banyak keragaman serangga yang belum sepenuhnya dipahami oleh ilmu pengetahuan.
Penelitian semacam ini tidak hanya berkaitan dengan pemberian nama. Para ilmuwan juga dapat mempelajari hubungan evolusi, keterkaitan organisme dengan tumbuhan inang, serta bagaimana kelompok serangga berkembang dan menyebar.
Schroeder dan profesor entomologi UCR Christiane Weirauch memeriksa 593 spesimen yang dipinjam dari American Museum of Natural History dan Australian Museum.
Penelitian tersebut menggunakan pendekatan taksonomi tradisional sekaligus data genomik untuk mempelajari hubungan evolusioner serangga.
Meskipun baru resmi dideskripsikan pada 2026, serangga-serangga tersebut sebenarnya telah berada dalam koleksi ilmiah selama puluhan tahun.
Spesimen awal dikumpulkan antara 1995 hingga 2004 melalui proyek penelitian keanekaragaman hayati yang melibatkan peneliti dari American Museum of Natural History dan mitra dari Australia.
Proyek tersebut menghasilkan lebih dari 50.000 spesimen. Karena jumlahnya sangat besar dan proses identifikasi organisme membutuhkan penelitian mendalam, sebagian spesimen memerlukan waktu bertahun-tahun sebelum akhirnya dapat diteliti dan dideskripsikan secara resmi.
Weirauch, yang menjadi pembimbing Schroeder sekaligus salah satu penulis penelitian, sebelumnya terlibat dalam proyek pengumpulan tersebut.
Bertahun-tahun kemudian, ia menyarankan Schroeder mempelajari spesimen yang belum terdeskripsikan sebagai bagian dari penelitian disertasinya.
Dari penelitian itulah kemudian terungkap kelompok serangga yang memiliki karakteristik berbeda dan layak dikenali sebagai spesies baru.
Di balik nama yang terdengar dekat dengan budaya pop, terdapat alasan ilmiah yang lebih luas.
Schroeder berharap popularitas Taylor Swift dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal dunia taksonomi dan keanekaragaman serangga.
Menurut UCR, identifikasi dan pemberian nama ilmiah merupakan bagian penting dari upaya konservasi.
Suatu spesies perlu dikenali dan dideskripsikan terlebih dahulu agar keberadaannya dapat dipelajari serta dipertimbangkan dalam upaya perlindungan keanekaragaman hayati.
Schroeder menilai penggunaan nama Taylor Swift dapat membantu membawa perhatian publik kepada organisme yang selama ini kurang mendapatkan sorotan.
Hal tersebut menjadi penting karena serangga merupakan salah satu kelompok organisme dengan tingkat keanekaragaman yang sangat tinggi.
UCR bahkan memperkirakan masih terdapat jutaan spesies serangga yang belum terdokumentasi secara ilmiah.
Dengan demikian, Swiftiephylus bukan sekadar nama yang dibuat untuk menarik perhatian penggemar Taylor Swift.
Nama tersebut menjadi bagian dari hasil penelitian taksonomi sekaligus cara peneliti menghubungkan sains dengan budaya populer.
Bagi Taylor Swift, penamaan genus dan empat spesies serangga tersebut menjadi salah satu bentuk penghormatan paling tidak biasa sepanjang kariernya.
Sementara bagi dunia entomologi, temuan ini kembali menunjukkan bahwa masih banyak organisme yang menunggu untuk diidentifikasi, dipelajari, dan mendapatkan tempat dalam catatan ilmiah. (*/stch/dda)