Iklan

Warga Jakarta Mulai Borong Masker Imbas Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau

Iklan

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau mulai dirasakan warga di sejumlah wilayah Jakarta.

Kondisi tersebut membuat masyarakat meningkatkan kewaspadaan, termasuk dengan memburu masker untuk melindungi diri dari paparan abu.

Salah satu lokasi yang terlihat ramai oleh warga yang mencari masker adalah kawasan kolong Tol Andara, Pondok Labu, Jakarta Selatan, Minggu (6/9/2026).

Lapak pedagang masker di kawasan tersebut dipenuhi pembeli yang ingin menambah persediaan di rumah.

Beberapa warga bahkan membeli dalam jumlah cukup banyak. Ada pembeli yang memborong dua kotak masker, masing-masing berisi 50 lembar.

Tidak hanya masker untuk orang dewasa, warga juga mencari masker anak-anak.

Masker yang dinilai nyaman digunakan oleh pengguna hijab juga menjadi salah satu pilihan yang dicari.

Kondisi tersebut menunjukkan meningkatnya kewaspadaan masyarakat setelah abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terdeteksi mencapai sejumlah wilayah, termasuk sebagian DKI Jakarta.

BMKG pada Minggu (6/9) melaporkan sebaran abu vulkanik terpantau melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga wilayah lainnya.

Dian dan Supri, warga Lebak Bulus II, menjadi salah satu masyarakat yang membeli masker sebagai langkah antisipasi.

Supri mengatakan dirinya memang terbiasa menyediakan masker di rumah. Namun, munculnya abu vulkanik membuatnya kembali membeli masker sebagai persediaan tambahan.

“Kalau beli masker sih saya emang biasa beli, cuma kan kali ini pas ada abu ya, Bu, ya? Beli lagi,” kata Supri.

Bagi warga, persediaan masker dianggap penting ketika kondisi udara mengalami perubahan akibat sebaran abu vulkanik.

Supri dan warga lainnya memilih melakukan antisipasi sejak awal, terutama apabila kondisi tersebut berlangsung lebih lama.

Hal serupa dilakukan Reino, warga Andara. Ia juga memilih menggunakan masker karena merasakan kondisi udara yang memburuk.

Reino mengaku terkejut ketika melihat rumahnya dipenuhi abu sejak pagi.

“Sebetulnya memang sekali-sekali memang saya mempersiapkan masker selalu di rumah. Karena memang kondisi udara kita juga kurang baik kan,” ujar Reino.

Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau bukan hanya menjadi perhatian warga di sekitar gunung.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan abu vulkanik telah terdeteksi mencapai sebagian wilayah ibu kota.

Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak panik, tetapi meningkatkan kewaspadaan serta mengikuti informasi resmi pemerintah.

Berdasarkan informasi PVMBG Badan Geologi yang disampaikan Pemprov DKI, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.

Aktivitas erupsi telah berlangsung sejak Jumat malam, 4 September 2026, dan hingga Minggu belum ada peningkatan status.

BMKG juga terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan erupsi dan pergerakan abu vulkanik.

Analisis citra satelit pada Minggu pagi menunjukkan adanya dua klaster sebaran abu yang mencakup Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga wilayah lainnya.

Marulitua mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika berada di luar rumah.

Abu vulkanik memiliki partikel sangat halus yang dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit.

Warga juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah, khususnya kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

Selain menggunakan masker, masyarakat diminta menutup pintu, jendela, dan ventilasi rumah untuk mengurangi masuknya abu dari luar.

Jika kondisi udara di sekitar rumah terdampak abu, warga juga disarankan memperhatikan penggunaan kipas atau pendingin ruangan yang dapat menarik udara dari luar.

Imbauan tersebut menjadi penting mengingat sebaran abu dapat berubah mengikuti arah dan kecepatan angin.

Karena itu, masyarakat diminta mengikuti perkembangan informasi dari instansi resmi.

Selain melindungi saluran pernapasan, masyarakat juga perlu memperhatikan cara membersihkan abu yang masuk atau menempel di lingkungan rumah.

Abu yang terkumpul sebaiknya tidak langsung disapu dalam kondisi kering karena dapat membuat partikel kembali beterbangan dan berpotensi terhirup.

Masyarakat dapat membasahi abu terlebih dahulu sebelum membersihkannya.

Langkah tersebut membantu mengurangi kemungkinan abu kembali beterbangan ke udara.

Warga juga diimbau menutup makanan dan tempat penyimpanan air agar tidak terkontaminasi abu.

Langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari upaya sederhana untuk mengurangi paparan abu vulkanik di lingkungan tempat tinggal.

Meski sebaran abu vulkanik telah mencapai Jakarta, Pemprov DKI meminta masyarakat tidak panik.

Pemerintah menekankan pentingnya kewaspadaan yang proporsional serta mengikuti informasi resmi dari lembaga berwenang.

BMKG juga mengintensifkan pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau selama 24 jam, termasuk dampaknya terhadap atmosfer, penerbangan, dan kondisi laut di sekitar Selat Sunda.

Masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan setelah terpapar abu diminta tidak mengabaikan kondisi tersebut.

Jika muncul keluhan berat seperti sesak napas, nyeri dada, batuk terus-menerus, atau iritasi mata yang semakin parah, warga dianjurkan segera mencari pertolongan medis.

Sementara itu, kondisi sebaran abu masih dapat berubah mengikuti perkembangan erupsi dan arah angin.

Karena itu, warga Jakarta dan wilayah terdampak lainnya perlu terus memantau informasi terbaru.

Fenomena warga memburu masker di sejumlah lokasi Jakarta menjadi gambaran meningkatnya kewaspadaan masyarakat setelah abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mencapai ibu kota.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah mengingatkan warga untuk tetap tenang, membatasi paparan abu, dan mengutamakan informasi resmi dalam mengambil langkah perlindungan diri. (*/stch/dda)

Iklan