Iklan

120 Bangunan Hangus Terbakar, Desa Adat Sade Lombok Akan Dibangun Kembali

Iklan

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Desa Adat Sade di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), akan direstorasi setelah kebakaran besar menghanguskan sekitar 120 bangunan di kawasan tersebut.

Pemerintah memastikan pembangunan kembali akan tetap mempertahankan karakter budaya masyarakat Sasak, sekaligus memperkuat aspek keselamatan dan mitigasi bencana.

Restorasi Desa Adat Sade akan melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta masyarakat setempat.

Proses pembangunan kembali juga akan dikoordinasikan dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes-PDT).

Utusan Khusus Presiden (UKP) Bidang Pariwisata, Zita Anjani, mengatakan restorasi tidak sekadar bertujuan mengembalikan bangunan yang rusak akibat kebakaran.

Pemerintah juga ingin memastikan kawasan tersebut lebih aman dan mampu mendukung keberlanjutan kehidupan masyarakat serta sektor pariwisata.

“Restorasi akan memperhatikan karakter desa adat, arsitektur tradisional, nilai budaya Sasak, aspek keselamatan, serta keberlanjutan ekonomi masyarakat,” ujar Zita, Senin (24/8/2026).

Zita menjelaskan, pembangunan kembali kawasan Desa Adat Sade membutuhkan waktu dan perencanaan yang matang.

Hal tersebut diperlukan agar proses restorasi tidak menghilangkan identitas kawasan yang selama ini menjadi salah satu destinasi wisata budaya penting di Lombok.

Menurutnya, Desa Adat Sade bukan sekadar kawasan yang memiliki bangunan tradisional.

Tempat tersebut merupakan ruang hidup masyarakat yang memiliki nilai budaya dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Karena itu, pembangunan kembali harus dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga karakter arsitektur tradisional Sasak.

“Kita ingin membangun kembali Sade sebagai desa adat yang tetap hidup, budayanya terjaga, masyarakatnya berdaya, dan pariwisatanya dapat berkembang secara berkelanjutan,” katanya.

Pendekatan tersebut diharapkan membuat proses pemulihan tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga memperhatikan keberlangsungan sosial dan ekonomi warga yang terdampak.

Kebakaran besar di Desa Adat Sade berdampak cukup luas. Sekitar 120 kepala keluarga atau kurang lebih 320 jiwa terdampak akibat peristiwa tersebut.

Tidak hanya rumah warga, sejumlah bangunan yang digunakan untuk kegiatan budaya dan aktivitas ekonomi masyarakat juga ikut terbakar.

Kondisi tersebut membuat proses pemulihan menjadi tantangan tersendiri.

Selain harus menyediakan kembali tempat tinggal dan fasilitas masyarakat, pemerintah juga perlu memastikan aktivitas ekonomi serta pariwisata di kawasan tersebut dapat kembali berjalan.

Desa Adat Sade selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan yang memperlihatkan kehidupan dan kebudayaan masyarakat Sasak.

Rumah tradisional, tata kawasan, serta berbagai aktivitas budaya menjadi bagian dari daya tarik bagi wisatawan.

Karena itu, pembangunan kembali diharapkan mampu mempertahankan identitas tersebut tanpa mengabaikan faktor keamanan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB, Ahmad Nur Aulia, menilai kebakaran Desa Adat Sade menjadi pelajaran penting dalam pengembangan destinasi wisata.

Menurutnya, pembangunan kawasan wisata ke depan perlu semakin memperhatikan kesiapsiagaan terhadap berbagai potensi bencana.

“Pengembangan destinasi wisata ke depan harus semakin mengedepankan prinsip keberlanjutan, termasuk kesiapsiagaan dan mitigasi bencana,” jelas Ahmad.

Penguatan mitigasi menjadi penting karena Desa Adat Sade merupakan kawasan yang tidak hanya dihuni masyarakat, tetapi juga dikunjungi wisatawan.

Sistem keselamatan yang baik diperlukan untuk melindungi warga maupun pengunjung ketika terjadi keadaan darurat.

Restorasi diharapkan dapat memasukkan berbagai aspek keselamatan ke dalam perencanaan pembangunan.

Dengan demikian, upaya mempertahankan bangunan dan karakter tradisional dapat berjalan beriringan dengan kebutuhan perlindungan masyarakat.

Meski aspek keselamatan akan diperkuat, pemerintah memastikan nilai budaya masyarakat Sasak tetap menjadi bagian penting dalam proses restorasi.

Arsitektur tradisional dan karakter Desa Adat Sade diharapkan tidak hilang akibat pembangunan kembali.

Pemerintah ingin kawasan tersebut tetap menjadi desa adat yang hidup, bukan sekadar kawasan wisata.

Konsep tersebut juga berkaitan dengan keberlanjutan ekonomi masyarakat. Aktivitas wisata diharapkan dapat kembali memberikan manfaat kepada warga setelah proses pemulihan selesai.

Dengan demikian, restorasi Desa Adat Sade akan diarahkan untuk mencapai beberapa tujuan sekaligus, yakni memulihkan kawasan yang terdampak kebakaran, menjaga budaya Sasak, meningkatkan keselamatan, memperkuat mitigasi bencana, serta menghidupkan kembali aktivitas ekonomi masyarakat.

Pemerintah berharap proses tersebut dapat dilakukan secara bertahap dan melibatkan masyarakat setempat.

Keterlibatan warga dinilai penting karena mereka merupakan bagian utama dari kehidupan dan budaya Desa Adat Sade. (*/stch/dda)

Iklan