BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Kebakaran masih menjadi salah satu ancaman yang perlu diwaspadai masyarakat Kabupaten Cilacap.
Hingga akhir Agustus 2026, tercatat sebanyak 73 bangunan mengalami kerusakan akibat kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah.
Selain menyebabkan kerusakan bangunan, rangkaian kejadian kebakaran tersebut juga menimbulkan kerugian material yang cukup besar.
Total kerugian akibat kebakaran di Kabupaten Cilacap hingga akhir Agustus 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp2,9 miliar.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Satpol PP Cilacap, Gatot Arief Wibowo, mengatakan tidak ada korban jiwa dalam berbagai kejadian kebakaran tersebut. Namun, satu orang dilaporkan mengalami luka-luka.
“Akibat kebakaran menyebabkan 73 bangunan mengalami kerusakan. Tidak menimbulkan korban jiwa dan satu orang dilaporkan mengalami luka-luka. Total kerugian material diperkirakan sekitar Rp2,9 miliar,” kata Gatot, Rabu (2/9/2026).
Gatot menjelaskan, sebagian besar kejadian kebakaran sebenarnya dapat dicegah apabila masyarakat lebih memperhatikan faktor keselamatan.
Berdasarkan data yang dihimpun Damkar Cilacap, kelalaian manusia atau human error menjadi salah satu penyebab yang paling banyak ditemukan.
Tercatat sebanyak 42 kasus kebakaran disebabkan oleh kelalaian manusia. Sementara itu, 36 kasus lainnya dipicu oleh korsleting atau gangguan pada instalasi listrik.
Selain kedua penyebab tersebut, terdapat pula lima kasus yang dipicu oleh tungku maupun kebocoran gas LPG. Kemudian, tiga kasus lainnya disebabkan oleh rokok atau korek api.
Data tersebut menunjukkan bahwa faktor manusia dan kondisi instalasi listrik menjadi perhatian utama dalam upaya pencegahan kebakaran di Cilacap.
“Mayoritas kebakaran berawal dari kelalaian maupun instalasi listrik yang bermasalah. Karena itu kami terus mengingatkan masyarakat agar rutin memeriksa instalasi listrik dan tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan,” ujar Gatot.
Memasuki musim kemarau, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.
Kondisi lingkungan yang lebih kering membuat api lebih mudah menyebar apabila terjadi kebakaran.
Kewaspadaan tersebut terutama diperlukan di kawasan permukiman padat.
Api yang muncul dari rumah atau bangunan dapat dengan cepat merambat ke bangunan lain apabila jaraknya berdekatan dan kondisi lingkungan mendukung penyebaran api.
Damkar Cilacap juga terus melakukan berbagai langkah pencegahan untuk menekan risiko kebakaran.
Salah satunya melalui kegiatan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya kebakaran dan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegahnya.
Hingga akhir Juli 2026, Damkar Cilacap telah melaksanakan 207 kegiatan sosialisasi dengan jumlah peserta mencapai 13.458 orang.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai keselamatan kebakaran.
Edukasi juga menjadi penting agar masyarakat dapat mengenali potensi bahaya sejak awal dan mengambil tindakan pencegahan sebelum terjadi kebakaran.
Selain memberikan edukasi, Damkar Cilacap juga melakukan pemeriksaan terhadap sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung.
Hingga periode yang sama, sebanyak 14 inspeksi sistem proteksi kebakaran telah dilakukan.
Pemeriksaan tersebut bertujuan memastikan berbagai perlengkapan keselamatan kebakaran pada bangunan dapat berfungsi dengan baik ketika dibutuhkan.
Menurut Gatot, pencegahan merupakan bagian penting dalam upaya mengurangi dampak kebakaran.
Masyarakat tidak seharusnya hanya mengandalkan petugas pemadam kebakaran ketika api sudah membesar.
Langkah sederhana di lingkungan rumah, seperti memeriksa instalasi listrik secara berkala, dapat menjadi bagian dari pencegahan.
Warga juga perlu memastikan penggunaan kompor dan gas LPG dilakukan dengan aman.
Begitu pula dengan berbagai sumber api lainnya. Rokok, korek api, tungku, maupun peralatan yang menghasilkan panas harus digunakan secara hati-hati dan tidak dibiarkan tanpa pengawasan.
Gatot mengimbau masyarakat Cilacap lebih berhati-hati ketika menggunakan listrik, kompor, LPG, dan sumber api lainnya.
Kebiasaan meninggalkan kompor dalam keadaan menyala atau membiarkan peralatan listrik bermasalah dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran.
Saat meninggalkan rumah, warga juga diminta memastikan kompor telah dimatikan dan seluruh sumber api berada dalam kondisi aman.
Instalasi listrik yang bermasalah juga sebaiknya segera diperiksa dan diperbaiki.
Upaya pencegahan tersebut menjadi semakin penting di tengah kondisi musim kemarau.
Dengan meningkatnya kewaspadaan masyarakat, risiko kebakaran maupun kerugian yang ditimbulkannya diharapkan dapat ditekan.
Catatan hingga akhir Agustus 2026 yang menunjukkan 73 bangunan rusak dan kerugian sekitar Rp2,9 miliar menjadi pengingat bahwa pencegahan kebakaran perlu dilakukan bersama.
Kesadaran masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan menjadi salah satu kunci untuk mengurangi kejadian dan dampak kebakaran di Kabupaten Cilacap. (jul/stch/dda)