BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali menggelar Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) 2026 di Kabupaten Cilacap sebagai upaya meningkatkan kemampuan nelayan dalam memahami informasi cuaca maritim.
Program ini diharapkan dapat membantu nelayan mengurangi risiko kecelakaan di laut sekaligus meningkatkan efektivitas aktivitas penangkapan ikan.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Graha Darussalam, Cilacap, pada Rabu (29/7/2026), dibuka oleh Anggota Komisi V DPR RI, Novita Wijayanti.
Sebanyak 68 peserta mengikuti pelatihan tersebut, terdiri atas 60 nelayan dan delapan perwakilan dari dinas serta instansi terkait yang memiliki peran dalam sektor kelautan dan perikanan.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Tunggul Wulung Cilacap, Bagus Pramujo, mengatakan bahwa perubahan iklim menyebabkan kondisi cuaca di wilayah perairan semakin sulit diprediksi.
Karena itu, para nelayan dituntut memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai informasi cuaca sebelum memulai aktivitas melaut.
Menurut Bagus, cuaca yang berubah secara cepat dapat meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan di laut.
Oleh sebab itu, pemanfaatan informasi cuaca resmi dari BMKG menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga keselamatan para nelayan.
Melalui Sekolah Lapang Cuaca Nelayan, peserta diberikan pelatihan mengenai cara membaca prakiraan cuaca, memahami informasi tinggi gelombang, arah dan kecepatan angin, hingga mengenali potensi cuaca ekstrem yang dapat membahayakan aktivitas pelayaran.
Selain materi teori, peserta juga diajarkan menggunakan aplikasi resmi BMKG yang menyediakan berbagai informasi cuaca maritim secara real-time.
Dengan aplikasi tersebut, nelayan dapat mengetahui kondisi laut sebelum berangkat sehingga dapat menentukan waktu yang paling aman untuk melaut.
Tidak hanya menyajikan prakiraan cuaca, aplikasi BMKG juga menyediakan informasi mengenai potensi daerah penangkapan ikan.
Fitur ini diharapkan mampu membantu nelayan menemukan lokasi ikan yang lebih potensial sehingga hasil tangkapan dapat meningkat.
Meski demikian, Bagus mengingatkan bahwa informasi lokasi ikan tetap harus dipadukan dengan perhitungan waktu tempuh.
Sebab, posisi gerombolan ikan dapat berubah mengikuti kondisi arus laut, suhu perairan, maupun faktor lingkungan lainnya.
Sementara itu, Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, mengingatkan bahwa potensi angin kencang dan gelombang tinggi masih cukup besar selama periode musim kemarau, khususnya pada bulan Juni hingga Agustus.
Menurutnya, nelayan harus selalu memantau informasi cuaca maritim resmi yang diterbitkan BMKG sebelum memutuskan berlayar.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko kecelakaan akibat cuaca buruk di perairan Indonesia.
Ia menegaskan bahwa informasi cuaca yang disediakan BMKG terus diperbarui secara berkala sehingga masyarakat, khususnya nelayan, dapat memperoleh data terbaru mengenai kondisi laut.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Cilacap, Ferry Adhi Dharma, mengapresiasi pelaksanaan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan yang dinilai memberikan manfaat langsung bagi masyarakat pesisir.
Menurut Ferry, pengetahuan yang diperoleh peserta tidak hanya bermanfaat bagi diri mereka sendiri, tetapi juga diharapkan dapat disebarluaskan kepada nelayan lainnya di wilayah Cilacap.
Dengan demikian, semakin banyak nelayan yang memahami pentingnya memanfaatkan informasi cuaca sebelum melaut.
Pemerintah Kabupaten Cilacap berharap kegiatan ini mampu meningkatkan budaya keselamatan di kalangan nelayan.
Selain mengurangi risiko kecelakaan, pemanfaatan informasi cuaca yang akurat juga diyakini dapat membantu nelayan merencanakan perjalanan dengan lebih efisien.
Jika waktu keberangkatan dan lokasi penangkapan ikan dipilih berdasarkan informasi cuaca yang tepat, biaya operasional dapat ditekan dan peluang memperoleh hasil tangkapan yang lebih banyak akan semakin besar.
Melalui penyelenggaraan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan 2026, BMKG menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan literasi cuaca masyarakat pesisir.
Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi cuaca dan gelombang laut, diharapkan keselamatan nelayan semakin terjamin, produktivitas penangkapan ikan meningkat, serta kesejahteraan masyarakat pesisir dapat terus berkembang. (jul/stch/dda)