Iklan

BMKG Ungkap Dampak Mencairnya Es Abadi Puncak Jaya terhadap Indonesia

Iklan

BANYUMASEKSPRES.ID, Lapisan es di kawasan Puncak Jaya, Papua, terus mengalami penyusutan dan kini berada dalam kondisi yang semakin mengkhawatirkan.

Fenomena tersebut menjadi salah satu gambaran nyata dampak perubahan iklim terhadap wilayah Indonesia.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa luas es di Pegunungan Jayawijaya telah menyusut drastis dibandingkan beberapa dekade lalu.

Jika tren pencairan terus berlangsung, lapisan es yang selama ini dikenal sebagai salah satu es abadi di kawasan tropis tersebut berpotensi menghilang dalam waktu dekat.

Kondisi ini bukan sekadar perubahan pemandangan di kawasan pegunungan Papua. Hilangnya es Puncak Jaya menjadi penanda perubahan lingkungan serta memiliki nilai penting bagi masyarakat dan ekosistem setempat.

Luas Es Puncak Jaya Menyusut Drastis

Perubahan luas lapisan es di Puncak Jaya terlihat sangat signifikan jika dibandingkan dengan kondisi pada akhir 1980-an.

Data yang disampaikan BMKG menunjukkan bahwa pada 1988, luas lapisan es di kawasan tersebut masih berada di sekitar 4,3 kilometer persegi.

Namun, berdasarkan pemantauan hingga September 2025, luas es yang tersisa hanya sekitar 0,09 kilometer persegi.

Dengan demikian, area yang masih tertutup es tinggal sebagian kecil dibandingkan luasnya pada 1988. Penyusutan tersebut menjadi salah satu indikator kuat bahwa lapisan es tropis Indonesia mengalami perubahan yang sangat cepat.

Tidak hanya luas permukaannya yang berkurang, ketebalan es juga menunjukkan tren penurunan. Pada 2010, pengamatan di salah satu titik menunjukkan ketebalan es sekitar 32 meter.

Beberapa tahun kemudian, kondisi tersebut berubah drastis. Pada 2023, ketebalan di titik yang sama dilaporkan tinggal sekitar 4 meter.

BMKG juga menyebut pemantauan terbaru menunjukkan lapisan es di titik tersebut telah mencair sepenuhnya.

Terjadi Penipisan Es Berlangsung Cepat

Penurunan ketebalan lapisan es bukan fenomena yang berlangsung dalam waktu singkat. BMKG mencatat bahwa sejak 2016, laju penipisan diperkirakan mencapai sekitar 2 hingga 2,5 meter setiap tahun.

Jika kecenderungan tersebut terus berlanjut, keberadaan lapisan es di Puncak Jaya semakin sulit dipertahankan.

Sejumlah faktor disebut berperan terhadap pencairan tersebut. Perubahan iklim global menjadi salah satu penyebab utama yang mendorong peningkatan suhu.

Kondisi tersebut kemudian dapat diperburuk oleh fenomena iklim seperti El Nino yang dapat memengaruhi suhu dan pola curah hujan di Indonesia.

Akumulasi perubahan tersebut membuat lingkungan pegunungan yang sebelumnya mampu mempertahankan lapisan es menjadi semakin sulit mendukung keberadaannya.

Hilangnya Es Bukan Sekadar Perubahan Pemandangan

Keberadaan es di Puncak Jaya memiliki arti penting, baik dari sisi lingkungan maupun sosial budaya. Bagi masyarakat adat di Papua, kawasan pegunungan tersebut tidak hanya dipandang sebagai bentang alam.

Puncak Jaya memiliki nilai budaya dan spiritual yang kuat sehingga perubahan lingkungan di wilayah tersebut juga berkaitan dengan hilangnya lanskap yang memiliki arti penting bagi masyarakat setempat.

Dari sisi ekologis, pencairan es juga menjadi bagian dari perubahan sistem air di kawasan pegunungan. Selain itu, gunung Bromo baru kembali dibuka 20 Agustus 2026 setelah kebakaran selama 13 hari.

Lapisan es dan salju dapat berperan dalam menyimpan air, meskipun kontribusinya terhadap sistem hidrologi lokal perlu dilihat bersama faktor lingkungan lainnya.

Perubahan kondisi es juga dapat menjadi indikator bahwa suhu dan kondisi lingkungan di wilayah pegunungan tinggi telah mengalami perubahan signifikan.

Indonesia Bisa Kehilangan Es Tropisnya

Puncak Jaya selama ini dikenal sebagai salah satu lokasi yang memiliki lapisan es di wilayah tropis. Namun, penyusutan terjadi dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa keberadaan es semakin terancam.

BMKG memperkirakan lapisan es yang tersisa berpotensi hilang sepenuhnya sekitar akhir 2026 hingga awal 2027 jika tren pencairan berlanjut.

Perkiraan tersebut tentu dapat berubah bergantung pada kondisi iklim dan hasil pemantauan terbaru. Fenomena ini sekaligus mengingatkan bahwa perubahan iklim bukan hanya persoalan yang terjadi jauh dari Indonesia.

Dampaknya dapat diamati langsung melalui perubahan lingkungan di berbagai wilayah, termasuk pegunungan Papua.

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mengurangi Dampaknya?

Perubahan iklim merupakan persoalan yang membutuhkan upaya bersama. Masyarakat dapat berkontribusi melalui kebiasaan yang lebih ramah lingkungan.

Hal ini seperti mengurangi penggunaan kendaraan pribadi ketika memungkinkan, menghemat energi dan air, menanam serta menjaga pohon, mengurangi sampah, dan meningkatkan praktik daur ulang.

Langkah tersebut memang tidak secara langsung menghentikan pencairan es Puncak Jaya. Namun, pengurangan emisi dan penggunaan sumber daya secara bijak menjadi upaya jangka panjang menekan laju perubahan iklim.

Kondisi es abadi Puncak Jaya yang semakin menipis pada akhirnya menjadi pengingat penting bahwa perubahan iklim memiliki dampak nyata.

Kawasan yang dahulu tampak selalu diselimuti lapisan putih kini menghadapi kemungkinan kehilangan esnya dalam waktu yang semakin dekat. (*/nds)

Iklan