BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Sejumlah sumber mata air dan sumur warga mengalami penurunan debit, bahkan beberapa di antaranya mengering sehingga masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap terus menyalurkan bantuan air bersih ke desa-desa yang terdampak kekeringan.
Hingga 24 Juli 2026, BPBD Kabupaten Cilacap telah mendistribusikan sebanyak 623.000 liter air bersih atau setara dengan 121 tangki.
Bantuan tersebut disalurkan secara bertahap ke 18 desa yang tersebar di 10 kecamatan.
Penyaluran dilakukan berdasarkan laporan dan kebutuhan yang disampaikan pemerintah desa agar bantuan dapat diterima oleh masyarakat yang benar-benar mengalami krisis air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap, Taryo, mengatakan distribusi air bersih akan terus dilakukan selama masyarakat masih membutuhkan bantuan.
Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan pemerintah desa agar proses penyaluran berjalan tepat sasaran dan tidak terjadi keterlambatan.
“Penyaluran air bersih terus kami lakukan sesuai kebutuhan di lapangan. Kami juga berkoordinasi dengan pemerintah desa agar distribusi tepat sasaran kepada warga yang mengalami kesulitan air bersih,” kata Taryo, Sabtu (25/7).
Dari total bantuan yang telah disalurkan, sebanyak 355.000 liter atau setara 71 tangki berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Cilacap.
Sementara itu, sebanyak 268.000 liter atau sekitar 50 tangki merupakan bantuan dari berbagai perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).
Menurut BPBD, bantuan tersebut telah menjangkau sekitar 5.204 kepala keluarga atau sekitar 17.390 jiwa yang tersebar di sejumlah wilayah terdampak kekeringan.
Air bersih digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti memasak, minum, mandi, mencuci, hingga keperluan sanitasi sehari-hari.
Penyaluran bantuan masih terus berlangsung. Pada Jumat (24/7), BPBD kembali mengirimkan enam tangki air bersih ke sejumlah desa yang membutuhkan.
Dua tangki disalurkan ke Desa Rawaapu, Kecamatan Patimuan, tiga tangki menuju Desa Karangkemiri, Kecamatan Jeruklegi, dan satu tangki lainnya dikirim ke Desa Kalijeruk, Kecamatan Kawunganten.
BPBD juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak yang ikut membantu penanganan dampak kekeringan di Kabupaten Cilacap.
Salah satunya Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Cilacap yang telah menyalurkan 44 tangki atau sekitar 220.000 liter air bersih kepada masyarakat.
Selain itu, Pertamina Patra Niaga melalui program Siaga Peduli Kabupaten Cilacap turut memberikan enam tangki atau sekitar 48.000 liter air bersih.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi kemanusiaan, dan sektor swasta dinilai sangat membantu mempercepat distribusi bantuan ke wilayah-wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Dengan dukungan tersebut, BPBD dapat menjangkau lebih banyak desa dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.
Meski distribusi bantuan terus dilakukan, BPBD mengingatkan masyarakat agar menggunakan air secara bijaksana.
Penghematan dinilai penting mengingat musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung hingga September 2026, sehingga kebutuhan air bersih diperkirakan masih cukup tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Taryo juga meminta pemerintah desa yang mulai mengalami kesulitan air bersih agar segera berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Cilacap.
Dengan laporan yang cepat, penyaluran bantuan dapat segera dijadwalkan sehingga masyarakat tidak terlalu lama mengalami kekurangan air bersih.
“Segera hubungi kami dan gunakan air tersebut secara hemat, karena diprediksi musim kemarau terjadi hingga bulan September mendatang,” pungkasnya.
Pemerintah Kabupaten Cilacap berharap distribusi bantuan air bersih dapat terus berjalan lancar hingga musim kemarau berakhir.
Selain memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, langkah ini juga menjadi upaya untuk meminimalkan dampak kekeringan terhadap kesehatan, sanitasi, dan aktivitas sehari-hari warga di wilayah yang paling terdampak. (jul/stch/dda)