BANYUMASEKSPRES.ID, NEW YORK – Elena Rybakina menutup perjalanan impresifnya di US Open 2026 dengan meraih gelar juara sekaligus memastikan status sebagai petenis nomor satu dunia WTA.
Petenis Kazakhstan tersebut mengalahkan Aryna Sabalenka dalam pertandingan final yang berlangsung di USTA Billie Jean King National Tennis Center, New York.
Rybakina menang melalui pertarungan tiga set dengan skor 6-4, 5-7, 6-2 dalam waktu 2 jam 21 menit.
Kemenangan itu menjadi gelar US Open pertama bagi Rybakina sekaligus Grand Slam ketiga dalam kariernya setelah Wimbledon 2022 dan Australian Open 2026.
Keberhasilan tersebut membuat Rybakina mendapatkan dua pencapaian besar dalam satu turnamen.
Selain mengangkat trofi US Open, petenis kelahiran Moskow yang mewakili Kazakhstan itu juga resmi mengambil alih posisi puncak ranking WTA dari Sabalenka.
Sabalenka sebelumnya menduduki peringkat nomor satu dunia selama 99 pekan berturut-turut.
Rybakina sendiri sudah memastikan akan menjadi petenis nomor satu sebelum final setelah melaju ke semifinal US Open.
Pertandingan final US Open 2026 kembali mempertemukan dua rival yang sudah sering bertemu di panggung besar.
Rybakina dan Sabalenka sebelumnya juga berhadapan dalam final Australian Open 2026, dengan Rybakina keluar sebagai pemenang.
Di New York, Rybakina kembali menunjukkan ketenangan dalam pertandingan yang berlangsung ketat.
Pada set pertama, Rybakina mampu mengamankan keunggulan 6-4. Sabalenka kemudian bangkit pada set kedua dan memaksakan pertandingan berlanjut ke set penentuan setelah menang 7-5.
Namun, Rybakina mampu kembali mengendalikan permainan pada set ketiga.
Ia memenangkan set tersebut dengan skor 6-2 dan memastikan gelar US Open pertamanya.
Menurut situs resmi US Open, pertandingan berlangsung selama 2 jam 21 menit.
Rybakina juga menutup pertandingan dengan sebuah ace setelah sempat berada dalam situasi tegang pada game terakhir.
Kemenangan itu sekaligus menghentikan ambisi Sabalenka untuk meraih tiga gelar US Open secara beruntun.
Sabalenka sebelumnya menjadi juara di New York dalam dua edisi terakhir. Trofi US Open 2026 menjadi gelar Grand Slam ketiga bagi Rybakina.
Petenis berusia 27 tahun tersebut sebelumnya meraih gelar Grand Slam pertamanya di Wimbledon 2022.
Empat tahun kemudian, ia kembali menjadi juara di Australian Open 2026 sebelum melengkapi koleksinya dengan trofi US Open.
Dengan dua gelar Grand Slam pada musim 2026, Rybakina menjadi salah satu pemain paling sukses di sepanjang musim ini.
Situs resmi Australian Open mencatat bahwa kemenangan di New York menjadi gelar Grand Slam keduanya pada 2026 sekaligus gelar major ketiga dalam kariernya.
Rybakina kini hanya membutuhkan gelar French Open untuk melengkapi koleksi empat gelar Grand Slam dalam kariernya.
Kesuksesan di New York juga semakin memperkuat rivalitasnya dengan Sabalenka.
Dari sejumlah pertemuan penting di final, Rybakina kini semakin sering mampu mengalahkan petenis Belarus tersebut dalam pertandingan perebutan gelar.
Perjalanan Rybakina menuju gelar US Open 2026 tidak berlangsung mudah. Beberapa pekan sebelum turnamen, keikutsertaannya di New York sempat diragukan akibat cedera.
Rybakina mengalami masalah pada bagian kaki saat menghadapi Iga Swiatek di perempat final Cincinnati Open.
Ia bahkan harus mengakhiri pertandingan lebih awal setelah hanya bermain beberapa gim.
Cedera tersebut membuat persiapannya menuju US Open terganggu. Rybakina mengaku sempat tidak dapat berlatih di lapangan selama sekitar satu pekan sambil menjalani proses pemeriksaan dan pemulihan bersama tim medis.
Situasi itu membuat Rybakina harus menjalani persiapan yang tidak ideal. Namun, proses pemulihan berjalan baik sehingga ia akhirnya dapat tampil di US Open.
“Twenty-three days later” atau 23 hari setelah insiden cedera tersebut, Rybakina justru berhasil mengangkat trofi US Open di Arthur Ashe Stadium.
Situs resmi US Open menyebut pencapaian itu menjadi gambaran bagaimana proses pemulihannya berhasil membawa Rybakina melewati salah satu tantangan terbesar dalam persiapannya.
Servis menjadi salah satu senjata penting Rybakina sepanjang kariernya. Pada final melawan Sabalenka, servisnya tidak langsung bekerja maksimal sejak awal pertandingan.
Rybakina hanya memasukkan sebagian kecil servis pertamanya pada set pembuka.
Namun, ia tetap mampu menemukan cara untuk menjaga permainan dan mengambil set pertama.
Pada momen-momen penting, kemampuan Rybakina dalam menghasilkan servis keras dan akurat kembali menjadi salah satu faktor yang membantu dirinya mengontrol pertandingan.
Situasi sempat menegangkan ketika Rybakina melakukan double fault pada game terakhir.
Namun, ia segera bangkit dan mengakhiri pertandingan dengan ace.
Ketenangan tersebut menjadi salah satu gambaran penting dari permainan Rybakina.
Ia mampu tetap menjaga fokus meskipun pertandingan final Grand Slam menghadirkan tekanan besar.
“Saya sangat tegang. Sulit untuk tetap fokus,” kata Rybakina kepada AFP.
Ia menyadari Sabalenka merupakan pemain yang berani mengambil risiko sehingga dirinya harus mampu memenangkan poin-poin penting dengan permainan sendiri.
Kekalahan dari Rybakina membuat Sabalenka gagal mencetak sejarah dengan meraih tiga gelar US Open secara berturut-turut.
Sabalenka datang ke final dengan ambisi mempertahankan gelar yang diraihnya dalam dua edisi sebelumnya. Namun, perjuangannya terhenti setelah kalah dari Rybakina dalam tiga set.
Kegagalan tersebut juga mengakhiri rentetan 20 kemenangan Sabalenka di Flushing Meadows.
Rybakina sekaligus menjadi pemain yang menghentikan upayanya mencatat hat-trick gelar US Open.
Lebih dari itu, kekalahan tersebut membuat Sabalenka harus menyerahkan posisi nomor satu dunia kepada Rybakina.
Sabalenka sebelumnya menguasai ranking WTA selama 99 pekan berturut-turut.
Mulai pembaruan ranking setelah US Open, Rybakina resmi menempati posisi teratas.
Gelar US Open membuat pencapaian Rybakina semakin lengkap. Ia bukan hanya menjadi juara turnamen, tetapi juga menjadi petenis nomor satu dunia WTA.
Rybakina menjadi pemain Kazakhstan pertama yang mencapai posisi nomor satu dunia.
Pencapaian tersebut sekaligus menjadi salah satu tonggak terbesar dalam kariernya.
Rybakina sebelumnya datang ke US Open sebagai petenis nomor dua dunia. Namun, performanya di New York membuatnya mampu menggeser Sabalenka dari posisi teratas.
Menariknya, Rybakina sudah mengamankan posisi nomor satu sebelum memainkan pertandingan final.
Ia memastikan pencapaian tersebut setelah mencapai semifinal, lalu melengkapinya dengan kemenangan atas Sabalenka di partai puncak.
“Saya pikir akan sangat berbeda bangun keesokan harinya setelah tahu bahwa Anda memenangkan US Open dan mencapai peringkat nomor satu,” ujar Rybakina seusai pertandingan.
Bagi Rybakina, keberhasilan menjadi juara US Open memiliki makna khusus karena New York bukan tempat asing dalam perjalanan kariernya.
Ia mengungkapkan pernah datang ke tempat tersebut sekitar satu dekade lalu ketika masih berstatus petenis junior. Sejak saat itu, atmosfer US Open disebutnya selalu terasa istimewa.
Kini, bertahun-tahun setelah penampilan sebagai junior, Rybakina kembali ke New York sebagai juara Grand Slam sekaligus petenis nomor satu dunia.
Kemenangan atas Sabalenka menjadi penutup sempurna bagi perjalanan Rybakina di US Open 2026.
Ia berhasil melewati tantangan cedera, menghadapi tekanan perebutan ranking, serta mengalahkan rival terberatnya di partai final.
Dengan tiga gelar Grand Slam dan status baru sebagai petenis nomor satu dunia, Rybakina kini memasuki fase baru dalam kariernya.
Kesuksesan di Australian Open dan US Open 2026 juga membuatnya menjadi salah satu pemain paling menonjol dalam persaingan tenis putri tahun ini. (*/stch/dda)