BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di Kabupaten Banjarnegara terus mengembangkan metode pembelajaran yang lebih kreatif dan variatif.
Sebanyak 20 naskah inovasi pembelajaran PJOK dikembangkan dan dipamerkan dalam kegiatan Pasar PJOK yang digelar Kelompok Kerja Guru (KKG) PJOK SD Kabupaten Banjarnegara di Balai Apung Surya Yudha Park.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu, 9 September 2026, dan menjadi ruang bagi para guru untuk memamerkan sekaligus berbagi berbagai gagasan pembelajaran olahraga yang dapat diterapkan di sekolah.
Puluhan inovasi yang ditampilkan menunjukkan bahwa pembelajaran PJOK tidak hanya berkaitan dengan aktivitas olahraga di lapangan, tetapi juga dapat dipadukan dengan teknologi dan kemampuan dasar lainnya.
Berbagai inovasi yang dipamerkan mencakup media pembelajaran, modifikasi alat dan permainan olahraga, pemanfaatan teknologi, penggabungan literasi dan numerasi melalui aktivitas gerak, hingga pengenalan coding berbasis PJOK.
Pasar PJOK menjadi salah satu wadah bagi guru PJOK SD di Banjarnegara untuk saling berbagi pengalaman dan hasil kreativitas.
Dari kegiatan tersebut terkumpul sedikitnya 20 naskah inovasi pembelajaran.
Naskah-naskah tersebut menunjukkan beragam pendekatan yang dapat digunakan guru untuk membuat pembelajaran PJOK lebih menarik.
Tidak hanya mengandalkan metode konvensional, guru mulai mengeksplorasi penggunaan media, alat permainan yang dimodifikasi, serta teknologi sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Selain aspek olahraga, sejumlah inovasi juga mengintegrasikan literasi dan numerasi dengan aktivitas fisik.
Dengan pendekatan tersebut, aktivitas gerak dapat sekaligus menjadi sarana untuk mendukung kemampuan belajar murid.
Menariknya, inovasi pembelajaran yang dipamerkan juga telah menyentuh pengenalan coding berbasis PJOK.
Hal ini memperlihatkan upaya guru untuk menyesuaikan pembelajaran olahraga dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pendidikan saat ini.
Dari 20 naskah yang terkumpul, enam karya dipilih untuk didiseminasikan dalam forum tersebut.
Keenam karya itu berasal dari KKG PJOK Kecamatan Karangkobar, Sigaluh, Wanayasa, Banjarmangu, Pagedongan, dan Pejawaran.
Ketua KKG PJOK SD Kabupaten Banjarnegara, Slamet Sugiyanto, mengatakan Pasar PJOK merupakan agenda kolosal yang digelar setiap dua tahun sekali.
Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang untuk memamerkan hasil karya guru, tetapi juga menjadi sarana membangun ekosistem belajar di kalangan guru PJOK.
Menurut Slamet, melalui forum tersebut para guru dapat mengambil inspirasi dari inovasi yang telah dibuat oleh rekan-rekan mereka.
Selanjutnya, gagasan tersebut dapat disesuaikan dan diterapkan di sekolah masing-masing sesuai dengan kebutuhan murid dan kondisi lingkungan sekolah.
Slamet yang juga Kepala SDN 1 Krandegan Banjarnegara berharap inovasi yang muncul tidak berhenti pada guru atau sekolah yang menjadi pencetusnya.
Sebaliknya, inovasi tersebut diharapkan dapat menyebar dan dikembangkan oleh guru lainnya.
“Untuk tahun ini kegiatan kolosal dalam bentuk Pasar PJOK. Harapannya semua guru dapat mengambil inspirasi inovasi pembelajaran yang kemudian dapat ditiru dan diterapkan dalam pembelajaran di sekolah masing-masing,” jelas Slamet.
Ia menilai guru PJOK membutuhkan ruang untuk terus belajar dan bertukar pengalaman.
Dengan adanya forum semacam Pasar PJOK, guru memiliki kesempatan untuk melihat praktik pembelajaran dari sekolah lain sekaligus mendapatkan ide baru.
Menurutnya, pengembangan kompetensi guru juga harus dilakukan secara berkelanjutan.
Karena itu, ekosistem pembelajar perlu dibangun agar guru PJOK terdorong untuk terus belajar sepanjang hayat.
“Kita juga perlu membangun ekosistem pembelajar, yang mendorong guru PJOK mau dan mampu belajar sepanjang hayat,” ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Banjarnegara, Yusuf Agung Prabowo, memberikan apresiasi terhadap berbagai inovasi yang dikembangkan para guru PJOK.
Menurut Agung, kreativitas yang ditampilkan dalam Pasar PJOK menunjukkan bahwa guru terus berupaya menyesuaikan proses pembelajaran dengan kebutuhan murid.
Guru tidak hanya menjalankan pembelajaran, tetapi juga terus belajar, berkarya, berinovasi, dan berkolaborasi untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan.
“Ini menunjukkan guru PJOK terus belajar, berkarya, berinovasi bahkan berkolaborasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga murid dapat terlayani dengan baik,” kata Agung.
Ia juga menilai kegiatan tersebut memperlihatkan kuatnya budaya gotong royong dan berbagi di antara para guru.
Inovasi yang dibuat oleh seorang guru dapat menjadi inspirasi bagi guru lain untuk dikembangkan kembali sesuai dengan karakteristik sekolah masing-masing.
Dengan demikian, Pasar PJOK bukan hanya menjadi kegiatan pameran karya.
Forum tersebut sekaligus menjadi sarana untuk memperkuat kolaborasi dan pertukaran pengetahuan antarguru PJOK di Kabupaten Banjarnegara.
Keberadaan 20 naskah inovasi dalam Pasar PJOK menunjukkan adanya upaya guru untuk terus mencari cara baru dalam menyampaikan pembelajaran.
Variasi media, modifikasi permainan, pemanfaatan teknologi, hingga penggabungan literasi, numerasi, dan coding menjadi bagian dari perkembangan pembelajaran PJOK di tingkat sekolah dasar.
Enam karya yang didiseminasikan juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi guru dari kecamatan lainnya.
Gagasan yang muncul tidak harus diterapkan secara persis, tetapi dapat disesuaikan dengan fasilitas, karakter murid, serta kondisi masing-masing sekolah.
Melalui budaya berbagi seperti ini, inovasi pembelajaran diharapkan tidak hanya muncul sebagai kegiatan sesaat.
Guru dapat terus melakukan pengembangan, mengevaluasi metode yang digunakan, kemudian memperbaikinya berdasarkan pengalaman di kelas.
Pasar PJOK Banjarnegara pada akhirnya menjadi salah satu ruang kolaborasi guru untuk memperkuat kualitas pembelajaran olahraga sekaligus memperluas pemanfaatan teknologi dan pendekatan pembelajaran lintas kompetensi di sekolah dasar. (jud/stch/dda)