BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Industri bulu mata palsu yang selama ini menjadi salah satu sektor manufaktur andalan Kabupaten Purbalingga menghadapi tantangan baru.
Pelemahan kondisi ekonomi di Amerika Serikat (AS) berdampak langsung pada penurunan permintaan produk dari para pembeli (buyer), sehingga volume pesanan ekspor yang diterima produsen di Purbalingga mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Purbalingga, Rocky Djungjunan, mengatakan sebagian besar hasil produksi bulu mata palsu dari Purbalingga selama ini dipasarkan ke Amerika Serikat.
Karena itu, perubahan kondisi ekonomi di negara tujuan ekspor tersebut sangat memengaruhi keberlangsungan industri lokal.
“Saat ini, order bulu mata palsu dari buyer kepada produsen bulu mata palsu di Kabupaten Purbalingga jauh menurun,” ungkap Rocky kepada Radarmas, Kamis (30/7/2026).
Menurutnya, perlambatan ekonomi di Amerika Serikat menyebabkan daya beli pasar menurun.
Dampaknya, banyak buyer mengurangi jumlah pemesanan kepada produsen di Indonesia, termasuk perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Purbalingga.
“Selama ini, pangsa pasar utama bulu mata palsu buatan Purbalingga adalah di Amerika. Sehingga, kondisi yang terjadi di Amerika mempengaruhi industri bulu mata palsu di Purbalingga,” ujarnya.
Selama bertahun-tahun, industri bulu mata palsu menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Kabupaten Purbalingga.
Produk yang dihasilkan dipasarkan ke berbagai negara, namun Amerika Serikat tetap menjadi pasar utama dengan kontribusi permintaan yang sangat besar.
Karena tingginya ketergantungan terhadap pasar Amerika, perubahan ekonomi di negara tersebut secara langsung memengaruhi aktivitas produksi di pabrik-pabrik bulu mata palsu di Purbalingga.
Rocky menjelaskan bahwa hingga kini pasar Eropa belum mampu menjadi alternatif pengganti yang ideal.
Menurutnya, biaya logistik dan ekspor menuju kawasan Eropa masih relatif tinggi sehingga belum memberikan keuntungan yang kompetitif bagi pelaku industri.
“Biayanya sangat tinggi untuk ekspor ke Eropa. Jadi, Eropa masih belum menjadi pilihan,” tambahnya.
Penurunan jumlah pesanan tersebut juga mulai berdampak terhadap kondisi ketenagakerjaan di sektor industri bulu mata palsu.
Meski tidak merinci jumlah pekerja yang terdampak, Rocky mengakui bahwa berkurangnya order membuat aktivitas produksi ikut menurun dibandingkan saat permintaan ekspor berada pada kondisi normal.
Namun demikian, kondisi berbeda justru terjadi pada industri rambut palsu di Kabupaten Purbalingga.
Menurut Rocky, sektor tersebut saat ini masih menunjukkan tren permintaan yang positif sehingga tidak mengalami tekanan seperti industri bulu mata palsu.
Ia juga meluruskan anggapan bahwa penutupan salah satu perusahaan rambut palsu di Purbalingga disebabkan oleh lesunya pasar.
Rocky menegaskan bahwa penutupan PT HPS bukan dipicu oleh penurunan permintaan produk, melainkan karena persoalan internal dalam pengelolaan perusahaan.
“Memang ada pabrik rambut palsu yang tutup, yakni PT HPS. Namun, itu bukan disebabkan lesunya bisnis rambut palsu, tapi karena kesalahan manajemen di pabrik tersebut,” jelasnya.
Apindo berharap kondisi ekonomi global, khususnya di Amerika Serikat, dapat segera membaik sehingga permintaan produk ekspor kembali meningkat.
Selain itu, pelaku usaha juga mendorong adanya perluasan pasar ekspor ke negara lain agar industri di Purbalingga tidak terlalu bergantung pada satu tujuan ekspor saja.
Diversifikasi pasar dinilai menjadi salah satu strategi penting untuk menjaga keberlanjutan industri manufaktur yang selama ini menjadi penopang perekonomian daerah sekaligus penyerap ribuan tenaga kerja.
Dengan terbukanya pasar baru di berbagai kawasan dunia, pelaku industri berharap risiko akibat perlambatan ekonomi di satu negara dapat diminimalkan.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas produksi, mempertahankan lapangan kerja, serta memperkuat daya saing industri bulu mata palsu asal Purbalingga di pasar internasional. (tya/stch/dda)