BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Selama satu minggu terakhir, penutupan sementara Jembatan Serayu telah memberikan dampak signifikan terhadap layanan transportasi umum, khususnya pada Bus Trans Banyumas koridor 4 yang menghubungkan Terminal Bulupitu dan Kejawar.
Menurut data terbaru yang dihimpun oleh Dinas Perhubungan Banyumas melalui Dashboard Trans Banyumas, jumlah penumpang mengalami penurunan yang mencolok hingga sekitar 50 persen jika dibandingkan dengan kondisi sebelum jembatan ditutup.
Data tersebut diperoleh pada Rabu (16/6) dan Kamis (17/6), menunjukkan bahwa situasi transportasi di Banyumas mengalami perubahan drastis.
Penurunan ini sangat mencolok jika dibandingkan dengan hari-hari yang sama sebelum penutupan jembatan dilaksanakan.
Kasi Angkutan Dinas Perhubungan Banyumas, Muhammad Eka Nugraha, menjelaskan bahwa sampling data dilakukan pada dua hari tersebut untuk memastikan perbedaan kondisi antara sebelum dan sesudah penutupan.
Pada Rabu (10/6), sebelum penutupan jembatan, jumlah penumpang tercatat sebanyak 580 orang.
Angka ini meningkat pada Kamis (11/6) dengan total 687 penumpang.
Namun, situasinya berbalik pada Rabu (17/6) ketika jumlah penumpang anjlok menjadi hanya 333 orang, diikuti oleh penurunan lebih lanjut pada Kamis (18/6) yang tercatat sebanyak 304 penumpang.
Mengacu pada data tersebut, terlihat adanya penurunan signifikan dalam jumlah penumpang berkisar antara 42,5 persen hingga 55 persen.
“Penurunan jumlah penumpang mencapai angka antara 42,5 persen dan 55 persen,” ungkap Eka saat ditemui oleh awak media pada Senin (22/6).
Ia menambahkan bahwa pengambilan data dilakukan dengan mempertimbangkan bahwa pekan ini adalah awal dari libur semester bagi siswa sekolah, yang biasanya mengakibatkan pergeseran pola perjalanan masyarakat.
Meskipun terjadi penurunan tajam dalam jumlah pengguna layanan bus, Eka memastikan bahwa jadwal perjalanan atau ritase Bus Trans Banyumas koridor 4 dari Terminal Bulupitu ke Kejawar tetap beroperasi sebanyak 35 perjalanan setiap harinya.
Hal ini menunjukkan bahwa frekuensi operasional bus tidak terpengaruh oleh penutupan sementara Jembatan Serayu meskipun terjadi fluktuasi dalam jumlah penumpang.
Namun demikian, dampak dari turunnya jumlah penumpang sangat terasa pada load factor atau tingkat keterisian bus.
Pada Rabu (17/6) dan Kamis (18/6), load factor tercatat berada di bawah angka 25 persen.
Sebelumnya, sebelum terjadinya penutupan jembatan, angka keterisian bus tersebut bisa mencapai lebih dari 50 persen.
Menurut Eka, jika dibandingkan dengan koridor lain dalam jaringan Bus Trans Banyumas, load factor untuk koridor 4 merupakan yang terendah baik sebelum maupun sesudah jembatan ditutup.
Kondisi ini cukup memprihatinkan mengingat jumlah ritase harian di koridor tersebut sama besarnya dengan koridor lainnya.
Misalnya, Koridor 1 tercatat memiliki total ritase sebanyak 65 perjalanan per hari, sedangkan Koridor 2 memiliki total ritase sebesar 68 perjalanan per hari.
Sementara itu, Koridor 3A dan 3B juga memiliki jumlah ritase yang serupa namun dengan tingkat keterisian yang lebih stabil dibandingkan dengan Koridor 4.
“Koridor lain seperti Koridor 1 dan Koridor 2 memiliki lebih banyak ritase setiap harinya,” pungkas Eka menjelaskan situasi terkini mengenai layanan transportasi publik di Banyumas.
“Koridor 1 mencatatkan total ritase sebanyak 65 perjalanan dan Koridor 2 sebanyak 68 perjalanan per hari.”
Dengan adanya penutupan Jembatan Serayu selama satu minggu terakhir ini, masyarakat yang menggantungkan diri pada layanan transportasi umum harus menghadapi kenyataan pahit berupa turunnya frekuensi pelayanan serta tingginya kemungkinan keterlambatan dalam perjalanan mereka akibat perubahan rute yang harus ditempuh oleh bus. (yda/stch/dda)