Iklan

Kesehatan Jemaah Haji Purbalingga Dievaluasi, Kelelahan dan Riwayat Penyakit Jadi Sorotan

Iklan

BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DinkesPPKB) Kabupaten Purbalingga melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan layanan kesehatan jemaah haji 2026.

Evaluasi tersebut menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari kelelahan sebelum keberangkatan hingga kurang terbukanya jemaah mengenai riwayat penyakit.

Evaluasi dilakukan sebagai bahan perbaikan pelayanan kesehatan menjelang musim haji 2027.

Pemerintah daerah ingin memastikan persoalan yang ditemukan selama penyelenggaraan haji 2026 tidak kembali terjadi pada musim haji berikutnya.

Rapat evaluasi digelar Rabu (5/8/2026) dan diikuti perwakilan dari 23 puskesmas serta dua rumah sakit.

Kegiatan tersebut juga menghadirkan dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis kesehatan jiwa untuk memberikan masukan mengenai kondisi kesehatan jemaah.

Ketua Tim Surveilans dan Imunisasi DinkesPPKB Purbalingga, Devvy Herawati, mengatakan evaluasi diperlukan untuk mengukur efektivitas berbagai intervensi kesehatan yang telah dilakukan selama musim haji 2026.

“Program dievaluasi untuk mengukur efektivitas intervensi kesehatan yang telah berjalan. Langkah perbaikan segera dirumuskan agar kendala serupa tidak terulang pada musim haji 2027,” kata Devvy.

Salah satu persoalan yang ditemukan adalah pengisian data medis pada Sistem Komputerisasi Haji Terpadu Bidang Kesehatan (Siskohatkes) yang belum sepenuhnya lengkap.

Kondisi tersebut membuat sejumlah data kesehatan harus kembali dilengkapi ketika jemaah tiba di Embarkasi Donohudan, Solo.

Kelengkapan data kesehatan menjadi penting karena informasi tersebut menjadi bagian dari proses pemantauan kondisi jemaah.

Data medis yang lengkap juga dapat membantu petugas mengetahui riwayat kesehatan jemaah sebelum maupun selama menjalankan ibadah haji.

Selain masalah data, faktor kelelahan fisik sebelum keberangkatan juga menjadi perhatian.

Salah satu kegiatan yang dinilai perlu diperhatikan adalah tradisi walimatul haji yang biasanya dilakukan menjelang keberangkatan.

Devvy mengingatkan jemaah agar tidak terlalu banyak menerima tamu dalam beberapa hari sebelum berangkat.

Aktivitas tersebut dinilai dapat membuat kondisi fisik jemaah menurun sebelum menjalani perjalanan menuju Tanah Suci.

“Sebaiknya tiga hari sebelum keberangkatan tidak menerima tamu lagi. Banyak kejadian setelah sampai di Embarkasi Donohudan mengalami kelelahan,” ujarnya, Jumat (7/8/2026).

Menurutnya, kondisi fisik yang prima menjadi salah satu hal penting yang perlu dipersiapkan jemaah.

Perjalanan dan rangkaian ibadah haji membutuhkan stamina sehingga jemaah disarankan menjaga kondisi tubuh sejak sebelum keberangkatan.

Perhatian khusus juga diberikan kepada jemaah yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

Jemaah dengan riwayat penyakit tertentu diminta tidak memaksakan diri melakukan aktivitas fisik maupun ibadah sunah secara berlebihan selama berada di Tanah Suci.

Petugas juga menemukan masih adanya jemaah yang tidak menyampaikan riwayat penyakit kronis kepada tenaga kesehatan.

Kondisi tersebut justru dapat menyulitkan jemaah ketika menjalani pemeriksaan kesehatan menjelang keberangkatan.

Devvy mencontohkan seorang jemaah yang tidak menyampaikan kepada petugas bahwa dirinya pernah menjalani operasi hernia.

Riwayat tersebut baru diketahui kemudian, padahal operasi dilakukan sekitar dua tahun sebelumnya.

“Ada satu jemaah yang tidak menyampaikan ke petugas kesehatan, padahal dua tahun lalu ternyata pernah operasi hernia. Itu yang merugikan jemaah sendiri,” tegasnya.

Keterbukaan mengenai riwayat kesehatan dinilai penting agar petugas dapat melakukan pemeriksaan dan memberikan penanganan sesuai kondisi masing-masing jemaah.

Informasi yang lengkap juga membantu petugas melakukan pemantauan terhadap jemaah yang memiliki risiko kesehatan lebih tinggi.

Dari hasil evaluasi pascahaji, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi salah satu penyakit yang paling banyak dikeluhkan jemaah asal Purbalingga.

Meski demikian, hasil pemeriksaan MERS dan Covid-19 seluruhnya dinyatakan negatif saat jemaah berada di Embarkasi Donohudan.

Setelah kepulangan, pemantauan kesehatan tetap dilakukan oleh puskesmas.

Pemantauan tersebut berlangsung selama 21 hari untuk mengetahui kondisi kesehatan jemaah setelah kembali dari Tanah Suci.

Pada musim haji 2026, tercatat dua jemaah asal Purbalingga meninggal dunia ketika berada di Tanah Suci. Keduanya meninggal akibat stroke dan penyakit jantung.

Sementara satu jemaah lainnya meninggal dunia setelah kembali ke Indonesia. Jemaah tersebut meninggal akibat komplikasi diabetes.

Data tersebut menjadi salah satu perhatian dalam evaluasi layanan kesehatan haji Purbalingga.

Pemerintah daerah perlu memastikan persiapan kesehatan dilakukan sejak sebelum keberangkatan hingga setelah jemaah kembali ke daerah asal.

DinkesPPKB Purbalingga selanjutnya akan menggunakan hasil evaluasi tersebut sebagai bahan penyusunan langkah perbaikan untuk musim haji 2027.

Penguatan pendataan kesehatan, edukasi kepada calon jemaah, serta peningkatan pemantauan terhadap jemaah dengan penyakit penyerta menjadi bagian penting dalam persiapan.

Dengan evaluasi yang dilakukan sejak jauh hari, layanan kesehatan jemaah haji diharapkan semakin baik.

Jemaah juga diharapkan lebih memahami pentingnya menjaga kondisi fisik, melengkapi data kesehatan, serta menyampaikan seluruh riwayat penyakit kepada petugas secara terbuka.

Persiapan tersebut menjadi penting agar jemaah dapat menjalankan rangkaian ibadah haji dengan kondisi kesehatan yang lebih terpantau dan pelayanan medis yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. (alw/stch/dda)

Iklan