BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Musim kemarau mulai memberikan dampak terhadap sektor pertanian di Kabupaten Purbalingga.
Hingga akhir Juli 2026, sedikitnya 100 hektare tanaman padi mengalami kerusakan akibat kekeringan yang melanda sejumlah wilayah.
Data tersebut tercatat dalam laporan Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Purbalingga berdasarkan hasil pengamatan selama periode 1–31 Juli 2026.
Tanaman padi yang terdampak merupakan komoditas yang ditanam pada musim tanam April–September 2026.
Kepala DPPP Kabupaten Purbalingga Prayitno mengatakan, kekeringan telah berdampak pada enam kecamatan.
Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Kemangkon, Kalimanah, Mrebet, Karangmoncol, Kertanegara, dan Karanganyar.
“Berdasarkan periode pengamatan 1-31 Juli 2026, ada enam kecamatan terdampak. Yakni, di Kecamatan Kemangkon, Kalimanah, Mrebet, Karangmoncol, Kertanegara dan Karanganyar,” kata Prayitno kepada Radarmas, Jumat (7/8/2026).
Dari enam wilayah tersebut, Kecamatan Kemangkon menjadi daerah dengan luas tanaman padi rusak paling besar.
Total lahan yang terdampak kekeringan di wilayah tersebut mencapai sekitar 39 hektare.
Kecamatan Karanganyar berada di urutan berikutnya dengan luas tanaman padi terdampak mencapai 18 hektare.
Kemudian Kecamatan Kalimanah dengan 15 hektare, Kertanegara 12 hektare, serta wilayah lainnya yang masing-masing mencatat kerusakan tanaman akibat kekeringan.
Sementara itu, Kecamatan Mrebet menjadi wilayah dengan luas kerusakan paling kecil berdasarkan data pengamatan DPPP.
Di wilayah tersebut, luas tanaman padi yang mengalami kerusakan tercatat sekitar enam hektare.
Kerusakan tanaman padi tersebut terjadi karena berkurangnya ketersediaan air selama musim kemarau.
Kondisi ini menjadi perhatian karena tanaman padi membutuhkan pasokan air yang cukup untuk mempertahankan pertumbuhan, terutama pada fase tertentu dalam masa tanam.
Dampak kekeringan juga berpotensi bertambah apabila musim kemarau berlangsung lebih lama.
Lahan pertanian yang bergantung pada jaringan irigasi menjadi salah satu kawasan yang perlu mendapatkan perhatian karena penurunan debit air dapat memengaruhi kemampuan petani mempertahankan tanaman.
Pemerintah Kabupaten Purbalingga melalui DPPP telah melakukan sejumlah langkah untuk mengurangi dampak kekeringan terhadap lahan pertanian.
Salah satunya dengan memanfaatkan irigasi perpompaan (Irpom) untuk membantu mengalirkan air ke lahan yang membutuhkan.
Selain Irpom, pemerintah juga menggunakan pompa air dan pompanisasi.
Upaya tersebut dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan air tanaman di wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan dari sistem irigasi biasa.
Prayitno mengatakan, penanganan telah dilakukan di sejumlah lokasi yang terdampak.
Pemanfaatan pompa menjadi salah satu upaya agar tanaman yang masih dapat diselamatkan tidak mengalami kerusakan yang lebih luas.
Meski demikian, kondisi pertanian Purbalingga masih perlu dipantau karena musim kemarau belum berakhir.
Potensi bertambahnya luas lahan yang terdampak tetap terbuka apabila pasokan air terus menurun.
Wilayah yang berada di area dengan keterbatasan sumber air menjadi salah satu kawasan yang perlu mendapatkan perhatian lebih.
Pemerintah dan petani harus menyesuaikan strategi pengairan agar tanaman padi yang masih tumbuh dapat memperoleh air sesuai kebutuhan.
Kekeringan tidak hanya berpengaruh terhadap kondisi tanaman, tetapi juga dapat berdampak terhadap hasil panen.
Semakin parah kerusakan tanaman, semakin besar pula kemungkinan produktivitas lahan mengalami penurunan.
Karena itu, pemantauan kondisi lahan menjadi penting selama musim kemarau berlangsung.
Pemerintah daerah melalui DPPP terus menginventarisasi wilayah terdampak sekaligus melakukan penanganan berdasarkan kondisi di lapangan.
Berdasarkan data hingga akhir Juli 2026, 100 hektare tanaman padi di enam kecamatan Purbalingga telah mengalami kerusakan akibat kekeringan.
Kecamatan Kemangkon menjadi wilayah dengan dampak paling luas, mencapai 39 hektare.
Dengan musim kemarau yang masih berlangsung, pemerintah perlu mengantisipasi kemungkinan meluasnya dampak kekeringan.
Penggunaan pompa, irigasi perpompaan, dan pompanisasi menjadi salah satu langkah yang terus dilakukan untuk menjaga lahan pertanian Purbalingga tetap mendapatkan pasokan air.
Petani juga diharapkan dapat menyesuaikan pola pengelolaan lahan dengan kondisi ketersediaan air.
Langkah tersebut penting agar dampak kekeringan terhadap produksi padi dapat ditekan dan kerusakan tanaman tidak semakin meluas hingga memasuki periode pengamatan berikutnya. (tya/stch/dda)














