BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Musim kemarau mulai menimbulkan dampak serius di Kabupaten Banyumas.
Krisis air bersih kini melanda sejumlah fasilitas umum di Kecamatan Sumpiuh, termasuk SDN 2 Sumpiuh dan Masjid Besar Syuhada Sumpiuh.
Sumur yang selama ini menjadi sumber utama kebutuhan air mengalami penurunan debit hingga akhirnya mengering.
Kondisi tersebut mengganggu aktivitas belajar mengajar di sekolah serta kegiatan ibadah masyarakat.
Minimnya pasokan air membuat pihak sekolah dan pengurus masjid harus segera mencari solusi agar aktivitas sehari-hari tetap dapat berlangsung.
Kepala SDN 2 Sumpiuh, Tri Hartono, mengatakan debit air sumur sekolah terus menurun selama sekitar dua pekan terakhir.
Hingga Jumat (24/7), sumur tersebut sudah tidak lagi mengeluarkan air sehingga kebutuhan air bersih di lingkungan sekolah menjadi terganggu.
“Hari ini sumur sekolah sudah tidak keluar airnya,” ujar Tri Hartono.
SDN 2 Sumpiuh memiliki sekitar 90 siswa yang setiap hari membutuhkan air untuk berbagai keperluan, mulai dari sanitasi hingga kebersihan lingkungan sekolah.
Menyikapi kondisi tersebut, pihak sekolah mengimbau seluruh siswa agar menggunakan air secara hemat.
Selain mengedukasi siswa mengenai pentingnya penghematan air, komite sekolah juga berinisiatif membawa air bersih dari rumah masing-masing.
Langkah tersebut dilakukan sebagai solusi sementara agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan meskipun pasokan air mengalami kendala.
Tidak hanya sekolah yang terdampak, krisis air bersih juga dialami Masjid Besar Syuhada Sumpiuh.
Marbot masjid, Bambang Iriandi, menjelaskan bahwa aliran air mulai berhenti sejak Kamis (23/7) malam.
Akibatnya, kebutuhan air untuk berwudu dan sanitasi menjadi terganggu, terlebih saat pelaksanaan Salat Jumat yang biasanya dihadiri banyak jamaah.
“Tadi malam, air mulai tidak mengalir, khawatirnya air tidak cukup karena jamaahnya banyak,” kata Bambang.
Melihat kondisi yang semakin mendesak, pihak sekolah dan pengurus masjid kemudian menghubungi Komunitas Pick Up Sumpiuh Trend Only (PISTON) untuk meminta bantuan distribusi air bersih.
Ketua Komunitas PISTON, Andri Agasi, mengatakan pihaknya langsung bergerak menyalurkan bantuan pada Jumat (24/7).
Sebanyak 1.000 liter air bersih dikirim ke SDN 2 Sumpiuh, sementara 4.000 liter air bersih disalurkan ke Masjid Besar Syuhada Sumpiuh menjelang pelaksanaan Salat Jumat.
“Dua mobil langsung untuk droping air bersih ke Masjid Besar Syuhada,” ujar Andri.
Bantuan tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan sementara hingga kondisi sumber air kembali normal atau terdapat bantuan lanjutan dari pemerintah maupun pihak terkait.
Musim kemarau tahun ini memang mulai memicu krisis air bersih di berbagai wilayah Banyumas.
Debit air tanah yang terus menurun menyebabkan sumur warga maupun fasilitas umum mengalami kekeringan. Kondisi ini diperkirakan masih dapat berlanjut apabila curah hujan belum kembali turun dalam waktu dekat.
Peristiwa di Kecamatan Sumpiuh menjadi gambaran bahwa dampak kemarau tidak hanya dirasakan masyarakat di permukiman, tetapi juga menyentuh sektor pendidikan dan tempat ibadah yang setiap hari membutuhkan pasokan air dalam jumlah cukup.
Melalui aksi cepat Komunitas PISTON, kebutuhan air bersih sementara dapat terpenuhi sehingga aktivitas belajar di SDN 2 Sumpiuh dan kegiatan ibadah di Masjid Besar Syuhada tetap dapat berjalan.
Namun masyarakat berharap adanya langkah jangka panjang dari pemerintah untuk mengantisipasi krisis air bersih yang berulang setiap musim kemarau, termasuk peningkatan infrastruktur penyediaan air bersih di wilayah-wilayah yang rawan kekeringan. (fij/stch/dda)