Iklan

Michele Pirro Kritik Casey Stoner, Sebut Tak Fokus Kembangkan Motor Ducati

Iklan

BANYUMASEKSPRES.ID, Mantan juara dunia MotoGP dua kali, Casey Stoner, kembali menjadi sorotan setelah mendapat kritik terkait perannya sebagai test rider Ducati.

Test rider utama Ducati, Michele Pirro, menilai Stoner tidak menjalankan tugas pengembangan motor secara maksimal ketika kembali bergabung dengan pabrikan asal Italia tersebut pada musim 2016.

Menurut Pirro, Stoner lebih banyak memperlihatkan kemampuan luar biasanya sebagai pembalap dibanding memberikan kontribusi yang konsisten dalam proses pengembangan motor Ducati Desmosedici.

Penilaian tersebut disampaikan Pirro saat berbicara dalam podcast Mig Babol, di mana ia membagikan pengalamannya bekerja bersama legenda MotoGP asal Australia tersebut.

Casey Stoner merupakan salah satu pembalap paling sukses dalam sejarah Ducati.

Pada musim MotoGP 2007, ia berhasil mempersembahkan gelar juara dunia pertama bagi Ducati, sebuah pencapaian yang hingga kini masih menjadi bagian penting dalam perjalanan tim pabrikan Italia tersebut.

Setelah memutuskan pensiun dari MotoGP pada akhir musim 2012, Stoner sempat menjauh dari dunia balap sebelum akhirnya kembali ke Ducati pada 2016 sebagai test rider.

Kehadirannya saat itu disambut antusias karena banyak pihak meyakini pengalaman dan kemampuannya dapat membantu mempercepat pengembangan motor Desmosedici.

Selain bertugas melakukan pengujian, Stoner bahkan sempat dikabarkan berpeluang tampil sebagai pembalap wildcard dalam beberapa seri MotoGP. Namun, kesempatan tersebut tidak pernah benar-benar terwujud.

Pirro mengungkapkan bahwa ekspektasi tinggi terhadap Stoner ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Menurutnya, mantan juara dunia itu lebih fokus menunjukkan kemampuan mengendarai motor dibanding menjalankan proses pengujian secara sistematis.

“Saya sempat berpikir dia ingin kembali balapan dan mengendarai motor. Namun pada kenyataannya, dia lebih ingin menunjukkan ego, bakat, dan kemampuan yang dimilikinya,” ujar Pirro.

Ia menambahkan bahwa Stoner dinilai kurang tertarik melakukan pekerjaan pengujian yang membutuhkan analisis mendalam dan umpan balik teknis bagi para insinyur Ducati.

“Dia tidak terlalu tertarik menjalankan pekerjaan pengujian secara sistematis atau memberikan masukan yang benar-benar membantu pengembangan motor,” lanjut Pirro.

Pada 2016, nama Casey Stoner juga sempat dikaitkan dengan peluang menggantikan Danilo Petrucci yang mengalami cedera pada MotoGP Argentina.

Namun, rencana tersebut akhirnya batal karena kondisi fisik Stoner dinilai belum cukup siap untuk kembali bersaing di lintasan balap.

Menurut Pirro, salah satu kendala terbesar adalah karakter setelan motor Stoner yang sangat unik.

Pengaturan motor yang disukai Stoner dianggap terlalu spesifik sehingga sulit digunakan pembalap lain, bahkan oleh pembalap berpengalaman sekalipun.

Pirro mengungkapkan bahwa Jorge Lorenzo, yang saat itu membela Ducati, pernah mencoba motor dengan setelan ala Stoner.

Namun, Lorenzo hanya mampu menyelesaikan satu putaran sebelum memutuskan kembali ke garasi.

“Saya juga mencobanya dan langsung berhenti setelah satu lap. Setelan motor yang dia sukai hanya bisa dikendarai olehnya,” kata Pirro.

Ia menjelaskan bahwa kemampuan Stoner mengendalikan motor berada pada level yang sangat berbeda dibanding mayoritas pembalap MotoGP lainnya.

Karena itulah, setelan motor yang sesuai untuk Stoner justru tidak memberikan manfaat bagi pembalap Ducati lainnya.

Pirro juga mengungkapkan bahwa Stoner memiliki filosofi berkendara yang sangat khas.

Pembalap asal Australia itu lebih mengandalkan keterampilan mengontrol motor secara manual dibanding memanfaatkan bantuan perangkat elektronik modern.

Menurutnya, Stoner tidak menyukai sistem traction control maupun anti-wheelie yang bekerja terlalu dominan karena merasa dapat mengendalikan traksi dan kestabilan motor menggunakan teknik balapnya sendiri.

“Dia ingin mengontrol semuanya sendiri. Traksi diatur menggunakan rem belakang sehingga dia tidak menyukai traction control atau anti-wheelie yang terlalu banyak bekerja. Bahkan saat wheelie, dia ingin mengendalikannya sendiri,” jelas Pirro.

Meski mendapat kritik terkait perannya sebagai test rider Ducati, Casey Stoner tetap dikenang sebagai salah satu pembalap terbaik dalam sejarah MotoGP.

Gelar juara dunia bersama Ducati pada 2007 menjadi pencapaian bersejarah yang mengangkat nama pabrikan Italia tersebut ke level tertinggi.

Namun, pernyataan Michele Pirro menunjukkan bahwa kemampuan luar biasa sebagai pembalap tidak selalu sejalan dengan efektivitas menjalankan tugas sebagai pengembang motor.

Dalam dunia MotoGP modern, seorang test rider tidak hanya dituntut cepat di lintasan, tetapi juga mampu memberikan data, analisis, dan masukan teknis yang dapat membantu tim meningkatkan performa motor untuk seluruh pembalap. (*/stch/dda)

Iklan