Iklan

Paus Kerdil 3,2 Meter Terdampar di Pantai Cilacap, Sempat Diselamatkan Nelayan

Iklan

BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Seekor paus kerdil sepanjang sekitar 3,2 meter ditemukan terdampar di Pantai Cemara Jajar, Kelurahan Tegal Kamulyan, Kecamatan Cilacap Selatan, Senin (17/8/2026) sore.

Mamalia laut tersebut ditemukan dalam kondisi masih hidup, tetapi terlihat lemah dan mengalami sejumlah luka pada bagian tubuhnya.

Hewan laut dengan berat diperkirakan mencapai 300 kilogram itu sempat mendapatkan pertolongan dari nelayan dan masyarakat sekitar.

Warga berupaya mengembalikannya ke tengah laut agar dapat kembali berenang dan melanjutkan kehidupannya di habitat alami.

Namun, upaya penyelamatan tersebut beberapa kali mengalami kegagalan. Paus yang diduga sedang dalam kondisi sakit itu terus kembali mendekati garis pantai.

Ketua Nelayan Tegal Katilayu, Temu, mengatakan informasi mengenai paus yang terdampar diterimanya sekitar pukul 16.00 WIB.

Setelah mendapatkan informasi tersebut, Temu langsung mendatangi lokasi bersama sejumlah nelayan lainnya.

Mereka kemudian berusaha mendorong dan menarik paus tersebut kembali ke perairan yang lebih dalam.

Akan tetapi, upaya tersebut tidak mudah. Setelah beberapa kali berhasil ditarik ke tengah, paus justru kembali bergerak menuju tepi pantai.

“Hidup sampai tadi malam sekitar jam 7-an itu masih hidup. Sudah ditarik ke tengah berkali-kali, tapi dia tetap minggir terus,” kata Temu, Selasa (18/8/2026).

Kondisi tersebut membuat warga menduga paus mengalami gangguan kesehatan sehingga tidak mampu kembali ke laut secara normal.

Selain terlihat lemah, paus tersebut juga ditemukan memiliki sejumlah luka di beberapa bagian tubuhnya.

Temu mengatakan luka terlihat antara lain pada bagian sirip atas. Sebagian luka diduga telah terjadi dalam waktu cukup lama.

“Luka-lukanya itu banyak. Di siripnya juga, sirip atas sudah luka. Sebagian tubuh juga mungkin luka lama karena memang kondisi dia sakit,” ujarnya.

Kondisi fisik tersebut menjadi salah satu perhatian warga ketika melakukan upaya penyelamatan.

Masyarakat berusaha mengembalikan hewan tersebut ke habitatnya, tetapi kondisi paus yang terus kembali ke pantai membuat upaya tersebut tidak berhasil.

Paus masih terlihat hidup hingga sekitar pukul 19.00 WIB pada Senin malam.

Namun, kondisi berubah pada Selasa pagi. Warga menemukan mamalia laut tersebut sudah tidak bernyawa.

Sekitar pukul 07.30 WIB, masyarakat bersama unsur TNI dan Polri, pihak Kelurahan Tegal Kamulyan, serta Dinas Perikanan Cilacap melakukan penanganan terhadap bangkai paus.

Bangkai hewan tersebut kemudian dikuburkan di lokasi yang telah ditentukan.

Penguburan dilakukan sebagai langkah penanganan setelah paus dinyatakan mati.

Selain mencegah munculnya bau tidak sedap, langkah tersebut juga bertujuan mengantisipasi agar bangkai hewan tidak dimanfaatkan atau dikonsumsi oleh masyarakat.

“Penguburan dilakukan untuk mencegah bau serta mengantisipasi bangkai dimanfaatkan atau dikonsumsi warga,” tandas Temu.

Penanganan bangkai juga telah dikoordinasikan dengan sejumlah pihak terkait, termasuk Sea Life Indonesia.

Meski paus ditemukan dalam kondisi lemah dan memiliki sejumlah luka, penyebab pasti kematiannya belum diketahui.

Hal tersebut karena tidak dilakukan proses nekropsi terhadap bangkai paus.

Tanpa pemeriksaan lebih lanjut terhadap kondisi organ dan jaringan tubuh, sulit memastikan apakah kematian disebabkan oleh penyakit, luka, kondisi lingkungan, interaksi dengan aktivitas manusia, atau faktor lain.

Karena itu, dugaan mengenai penyebab kematian belum dapat dipastikan.

Peristiwa terdamparnya paus di Pantai Cemara Jajar menjadi perhatian masyarakat karena mamalia laut merupakan bagian penting dari ekosistem perairan.

Penanganan yang cepat ketika satwa laut ditemukan terdampar diperlukan untuk meningkatkan peluang penyelamatan, khususnya apabila hewan masih dalam kondisi hidup.

Dalam kasus ini, masyarakat dan nelayan telah berupaya mengembalikan paus ke laut setelah menemukannya dalam kondisi hidup.

Namun, kondisi fisik paus yang lemah dan kecenderungannya kembali ke tepian membuat upaya penyelamatan tidak berhasil.

Peristiwa tersebut juga menjadi pengingat pentingnya pelaporan dan koordinasi ketika masyarakat menemukan satwa laut terdampar.

Penanganan oleh pihak yang memiliki kompetensi dapat membantu menentukan langkah yang tepat, baik untuk satwa yang masih hidup maupun bangkai yang telah mati. (jul/stch/dda)

Iklan