BANYUMASEKSPRES.ID, Drama Korea Teach You A Lesson menjadi salah satu serial yang ramai diperbincangkan sejak penayangannya.
Meski pembicaraan drama satu ini mulai mereda, kisah yang diangkat masih relevan karena menyoroti berbagai persoalan pendidikan yang juga banyak ditemui di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Serial berdurasi 10 episode tersebut tidak hanya menyuguhkan konflik antarmurid atau kehidupan sekolah biasa.
Drama ini mengangkat isu yang lebih kompleks, mulai dari perundungan (bullying), tekanan akademik, campur tangan orang tua yang berlebihan, penyalahgunaan kekuasaan di lingkungan sekolah.
Bahkan sampai dilemahnya perlindungan terhadap guru dan peserta didik. Tak heran jika banyak penonton menilai Teach You A Lesson bukan sekadar tontonan.
Melainkan refleksi yang mendorong masyarakat untuk kembali mempertanyakan apakah sistem pendidikan saat ini sudah benar-benar berpihak kepada anak.
Sekolah Harus Menjadi Tempat Aman untuk Belajar
Salah satu pesan kuat yang disampaikan drama ini adalah pentingnya sekolah sebagai ruang yang aman bagi seluruh warga pendidikan.
Dalam ceritanya, pemerintah Korea Selatan membentuk sebuah lembaga khusus yang bertugas menangani sekolah dengan tingkat konflik tinggi hingga situasi kembali kondusif.
Lembaga tersebut baru menyelesaikan tugasnya ketika siswa dapat belajar tanpa rasa takut, guru menjalankan profesinya dengan nyaman, dan orang tua memahami peran mereka dalam mendukung proses pendidikan.
Gambaran tersebut memunculkan diskusi luas di media sosial. Banyak warganet membandingkannya dengan kondisi pendidikan di Indonesia yang masih menghadapi berbagai tantangan.
Hal ini seperti kasus perundungan, tekanan terhadap guru, hingga kurangnya sinergi antara sekolah dan keluarga. Selain itu, drama Teach You a Lesson berhasil tempati posisi sebagai drama terbaik di Netflix 2026.
Meski memiliki sistem pendidikan yang berbeda, pesan utama yang ingin disampaikan tetap sama, yaitu pendidikan membutuhkan kerja sama semua pihak, bukan hanya guru atau sekolah.
Kepemimpinan Kepala Sekolah Menjadi Kunci
Perubahan di lingkungan pendidikan tidak bisa dilepaskan dari peran kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran.
Kepala sekolah memiliki tanggung jawab memastikan seluruh kebijakan dan budaya sekolah benar-benar berpihak pada kebutuhan peserta didik.
Dalam konsep pendidikan nasional yang diwariskan Ki Hajar Dewantara, sekolah seharusnya menerapkan sistem among.
Sistem tersebut yaitu memberikan tuntunan kepada anak agar berkembang sesuai potensi, bukan sekadar memaksa mereka mengejar nilai akademik.
Prinsip tersebut juga menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat atau yang dikenal sebagai Tri Sentra Pendidikan.
Ketika ketiga unsur tersebut berjalan seiring, pembentukan karakter anak akan berlangsung lebih efektif dibandingkan jika sekolah bekerja sendiri.
Pesan serupa juga tergambar melalui berbagai dialog dalam Teach You A Lesson yang menekankan bahwa orang dewasa memiliki tanggung jawab melindungi dan membimbing anak, bukan menjadi sumber tekanan bagi mereka.
Pembelajaran Mendalam Dinilai Relevan Menjawab Tantangan
Di tengah berbagai persoalan pendidikan, pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang diperkenalkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah beberapa tahun terakhir dinilai relevan untuk terus dikembangkan.
Pendekatan ini bertumpu pada tiga prinsip utama, yaitu mindful (berkesadaran), meaningful (bermakna), dan joyful (menyenangkan).
Ketiganya bertujuan menciptakan proses belajar yang tidak hanya mengejar penyelesaian materi, tetapi juga membangun pemahaman serta karakter peserta didik.
Prinsip mindful mengajak siswa hadir secara penuh selama proses pembelajaran. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membantu siswa memahami mengapa mereka perlu mempelajari suatu topik.
Sementara itu, prinsip meaningful menekankan pentingnya menghubungkan pelajaran dengan kehidupan nyata.
Ketika siswa memahami manfaat ilmu yang dipelajari dalam keseharian, motivasi belajar akan tumbuh secara alami. Adapun prinsip joyful tidak berarti belajar harus selalu diselingi permainan.
Pembelajaran yang menyenangkan lebih berkaitan dengan terciptanya suasana kelas yang aman secara psikologis, memberi ruang untuk bertanya, mencoba, bahkan melakukan kesalahan tanpa rasa takut.
Pendekatan tersebut selaras dengan pesan yang beberapa kali disampaikan tokoh utama dalam drama, yakni bahwa tugas guru bukan sekadar mengajar, melainkan membimbing peserta didik menuju arah yang benar.
Kolaborasi Menjadi Fondasi Perbaikan Pendidikan
Perubahan sistem pendidikan tentu tidak dapat dilakukan secara instan. Peran guru, kepala sekolah, orang tua, pemerintah, hingga masyarakat harus berjalan beriringan agar tercipta lingkungan belajar yang sehat dan berkualitas.
Beberapa tahun terakhir, pemerintah juga telah mendorong peningkatan kompetensi tenaga pendidik melalui pelatihan pembelajaran mendalam bagi guru, kepala sekolah, pengawas, dan tenaga kependidikan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.
Meski implementasinya membutuhkan waktu, pendekatan ini diharapkan mampu mengurangi berbagai persoalan.
Terutama yang selama ini muncul di lingkungan sekolah, mulai dari rendahnya motivasi belajar hingga lemahnya hubungan antara sekolah dan keluarga.
Pada akhirnya, Teach You A Lesson berhasil meninggalkan pesan yang lebih dalam daripada sekadar kisah drama.
Serial ini mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai, prestasi, atau kelulusan, melainkan proses membentuk manusia yang berkarakter, berpikir kritis, dan mampu berkembang sesuai potensinya.
Jika elemen pendidikan mampu bergerak bersama, bukan tidak mungkin sekolah akan benar-benar menjadi tempat aman, nyaman, sekaligus menyenangkan bagi setiap anak belajar dan bertumbuh. (*/nds)