BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO — Fasilitas pelican crossing yang terletak di depan Masjid Jenderal Besar Soedirman, Jalan Jenderal Soedirman Purwokerto, saat ini dinilai belum sepenuhnya efektif dalam menjamin keselamatan para penyeberang jalan.
Meskipun keberadaannya sudah memberikan manfaat, fasilitas ini belum sepenuhnya dipatuhi oleh pengguna jalan lainnya. Banyak pengendara yang masih sering mengabaikan sinyal lampu dan suara peringatan dari alat tersebut saat aktif.
Situasi ini membuat keselamatan penyeberang, khususnya jamaah yang hendak beribadah di masjid tersebut, harus mendapatkan dukungan tambahan dari petugas masjid.
Budi (50), seorang marbot masjid, menjelaskan bahwa meski fasilitas pelican crossing sangat membantu, masih ada pengendara yang tidak sadar atau bahkan dengan sengaja melaju tanpa memedulikan isyarat lampu dan suara peringatan.
“Fasilitas ini sebenarnya sangat membantu. Tapi masih banyak pengendara yang tidak sadar atau sengaja melaju terus, terutama sepeda motor,” ujarnya pada Kamis (7/8).
Budi juga menyoroti bahwa meskipun lampu dan suara peringatan sudah menyala jelas, sering kali ditemukan pengendara yang terkejut dan mengerem mendadak atau bahkan tetap memacu kendaraan mereka.
“Makanya kami dari masjid masih menurunkan petugas untuk bantu penyeberangan, biar lebih aman,” katanya.
Lebih lanjut Budi menambahkan bahwa pengendara mobil umumnya lebih patuh terhadap aturan lalu lintas dibandingkan dengan pengendara sepeda motor yang kebanyakan masih nekat mencari celah untuk melaju.
Sebelum adanya fasilitas pelican crossing ini, lokasi tersebut memang dikenal rawan kecelakaan.
Menurut Budi, pihak Dinas Perhubungan dan Kepolisian setempat sebelumnya juga sempat melakukan penjagaan di area ini untuk memastikan keselamatan para penyeberang.
“Pihak Dishub dan Polisi dulu juga pernah jaga di sini,” tambahnya.
Hasnan Hafidh (24), seorang pengendara motor yang sering melintas di kawasan itu, mengakui bahwa pelican crossing sangat berguna bagi pejalan kaki. Namun demikian ia mencatat bahwa masih banyak pengendara lain yang tidak memperhatikan lampu peringatan.
“Kalau kita sedang buru-buru, kadang merasa terganggu. Tapi ya tujuannya baik untuk keselamatan,” ujarnya.
Menurut Hasnan, penggunaan fasilitas pelican crossing hanya terasa signifikan pada waktu-waktu tertentu saja seperti saat waktu salat sehingga tidak terlalu menghambat arus lalu lintas secara umum.
Berdasarkan pemantauan awak media saat salat dzuhur, pelican crossing memang aktif digunakan namun masih memerlukan dukungan petugas untuk memastikan semua pengguna jalan berhenti sesuai aturan.
Beberapa pengendara tampak mematuhi aturan lalu lintas dengan berhenti ketika lampu merah menyala sementara beberapa lainnya tetap melaju seakan-akan cuek terhadap peringatan tersebut.
Suara dari alat peringatan terlihat kurang keras karena kalah oleh bisingnya lalu lintas sekitar tempat itu sehingga menjadi tantangan tersendiri agar fasilitas ini benar-benar efektif dalam menjamin keamanan para penyeberang jalan.
Masalah ini menunjukkan perlunya peningkatan sistem peringatan suara dan visual dari pelican crossing serta perlunya kesadaran lebih tinggi dari para pengguna jalan dalam mentaati aturan lalu lintas demi terciptanya keamanan bersama terutama bagi pejalan kaki yang akan menyeberangi jalan menuju Masjid Jenderal Soedirman.
Kondisi ini tentunya menjadi perhatian penting bagi pemerintah daerah dan instansi terkait untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya ketaatan terhadap aturan lalu lintas guna menjamin keselamatan semua pihak terutama bagi para pejalan kaki di area-area rawan seperti depan Masjid Jenderal Soedirman ini. (jeb/stch)