Iklan

Pemkab Banjarnegara Terapkan Pompanisasi untuk Atasi Krisis Air pada Sektor Pertanian

Iklan

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Pemkab Banjarnegara mengandalkan sistem pompanisasi untuk mengatasi masalah serius yang dihadapi sektor pertanian akibat putusnya saluran irigasi di Desa Gemuruh, Kecamatan Bawang.

Kejadian ini berdampak signifikan, memengaruhi sekitar 161 hektar lahan pertanian yang tersebar di enam desa.

Enam desa tersebut meliputi Desa Gemuruh, Masaran, Serang, Kutayasa, Binorong, dan Mantrianom, serta sebagian wilayah Kecamatan Purwanegara.

Dengan terhentinya pasokan air irigasi, ancaman kekeringan menjadi nyata bagi para petani yang menggantungkan hidup mereka pada hasil pertanian.

Untuk mencegah kerugian yang lebih besar dan menjaga keberlanjutan produksi pertanian, pemerintah daerah menerapkan sistem pompanisasi dan distribusi air secara bergilir kepada para petani.

Langkah ini diambil setelah mempertimbangkan dampak luas yang ditimbulkan dari terputusnya pasokan air irigasi.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Banjarnegara, Firman Sapta Adi menjelaskan bahwa dari total lahan yang terdampak tersebut, sebanyak 120 hektar sudah memasuki masa tanam dan menjadi prioritas utama dalam upaya penyelamatan.

Sebagian besar tanaman padi yang terdampak saat ini telah memasuki fase generatif.

Pada fase ini, kebutuhan air tanaman tidak sebesar saat masa pengolahan lahan maupun fase vegetatif.

Firman menjelaskan lebih lanjut, “Tanaman yang sudah masuk masa generatif masih membutuhkan air, tapi tidak sebanyak saat awal tanam. Karena itu kami mengatur distribusi air secara bergilir agar seluruh lahan tetap mendapatkan pasokan.”

Untuk menjaga suplai air agar tetap mencukupi kebutuhan para petani, pemerintah bersama Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) telah mengoperasikan pompa berkapasitas besar.

Proses ini melibatkan pengambilan air dari saluran irigasi di bagian bawah kemudian disedot dan dipompa naik sebelum akhirnya dialirkan kembali ke jaringan irigasi sekunder yang mengalami kerusakan.

Namun demikian, tidak semua lahan mendapatkan prioritas dalam pengairan saat ini. Sebanyak 41 hektar lahan yang baru saja selesai panen belum menjadi fokus utama dalam proses pengairan.

Lahan tersebut akan menunggu perbaikan jaringan irigasi yang dijadwalkan rampung dalam beberapa bulan ke depan.

Di tengah keterbatasan pasokan air ini, Ketua DPRD Banjarnegara Selamet menekankan pentingnya kolaborasi antar kelompok pengguna air untuk mengedepankan kebersamaan dan menggunakan sumber daya air secara hemat.

Ia mengingatkan bahwa sistem pompanisasi hanya merupakan solusi sementara dan tidak akan mampu memenuhi kebutuhan air dengan kapasitas yang sama seperti ketika jaringan irigasi berfungsi normal.

“Pemerintah daerah sudah berupaya semaksimal mungkin agar kebutuhan air petani tetap terpenuhi,” kata Selamet.

Ia juga menambahkan bahwa karena debit air terbatas, semua kelompok pengguna air diharapkan dapat melakukan efisiensi serta berbagi untuk memastikan semua lahan yang terdampak tetap mendapatkan pasokan.

Situasi ini menggambarkan tantangan besar yang dihadapi oleh sektor pertanian di Banjarnegara dan bagaimana pemerintah daerah berusaha mengambil langkah-langkah konkret untuk menyelamatkan tanaman para petani dari ancaman kekeringan.

Upaya kolaboratif antara pemerintah daerah dengan instansi terkait seperti BBWSSO menunjukkan komitmen untuk menjaga ketahanan pangan serta kesejahteraan masyarakat tani meskipun dalam kondisi sulit.

Pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya air bagi sektor pertanian tidak bisa dipandang sebelah mata. Air adalah elemen vital bagi pertumbuhan tanaman dan keberlangsungan hidup petani.

Dengan semakin meningkatnya perubahan iklim dan frekuensi bencana alam seperti kekeringan, langkah-langkah adaptasi dan mitigasi perlu dilakukan secara berkala. (*/stch/dda)

Iklan