Iklan

12 Penumpang Speedboat Tenggelam di Teluk Tomini Berhasil Diselamatkan, Nakhoda Masih Dalam Pencarian

Iklan

BANYUMASEKSPRES.ID, GORONTALO – Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi 12 penumpang speedboat SB Mister Un (GT 2) yang tenggelam di perairan Teluk Tomini, Gorontalo.

Meski seluruh penumpang berhasil diselamatkan, hingga Sabtu (25/7/2026), satu awak kapal yang merupakan nakhoda masih dinyatakan hilang dan terus menjadi fokus pencarian.

Operasi penyelamatan melibatkan berbagai unsur, mulai dari Basarnas, TNI Angkatan Laut, Polairud, hingga Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Ampana.

Pemerintah memastikan pencarian terhadap korban yang belum ditemukan akan terus dilakukan secara maksimal hingga membuahkan hasil.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Muhammad Masyhud, mengatakan seluruh korban selamat telah berhasil dievakuasi dari lokasi tenggelamnya kapal.

Dari total 12 penumpang yang berhasil diselamatkan, sebanyak 11 orang diketahui merupakan warga negara asing (WNA), sedangkan satu lainnya merupakan warga negara Indonesia.

Setelah proses evakuasi selesai, para korban tidak langsung dibawa ke rumah sakit.

Mereka lebih dahulu dievakuasi menuju Resort Sanctum yang berada di Pulau Una-Una sebagai lokasi transit untuk mendapatkan pertolongan awal dan memastikan kondisi mereka tetap stabil.

Selanjutnya, seluruh korban dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ampana guna menjalani pemeriksaan kesehatan lebih lanjut.

Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan tidak ada korban yang mengalami gangguan kesehatan serius akibat insiden tenggelamnya speedboat di tengah laut.

Muhammad Masyhud menegaskan bahwa perhatian pemerintah saat ini tertuju pada upaya menemukan nakhoda kapal bernama Ferdiansyah yang hingga kini belum ditemukan.

“Kami memantau secara berkala jalannya operasi SAR dan memastikan upaya pencarian nakhoda dilakukan secara optimal bersama seluruh unsur yang terlibat,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, speedboat SB Mister Un (GT 2) merupakan kapal milik PT Farmaz Jaya Abadi yang berlayar dari Pelabuhan Una-Una menuju Pelabuhan Marisa, Gorontalo.

Kapal berangkat pada Jumat, 24 Juli 2026, sekitar pukul 07.30 WITA dengan membawa penumpang menuju tujuan akhir di Gorontalo.

Namun, di tengah perjalanan, kapal mengalami gangguan teknis berupa mati mesin.

Kondisi tersebut membuat speedboat kehilangan kemampuan bergerak dan sulit dikendalikan di tengah perairan Teluk Tomini.

Situasi semakin memburuk ketika cuaca ekstrem melanda kawasan tersebut. Gelombang tinggi dan angin kencang membuat kapal tidak mampu bertahan hingga akhirnya tenggelam.

Peristiwa tersebut memicu operasi penyelamatan besar-besaran yang melibatkan berbagai instansi terkait.

Operasi SAR sempat mengalami kendala akibat kondisi cuaca yang memburuk saat malam hari.

Gelombang tinggi dan minimnya jarak pandang membuat proses pencarian harus dihentikan sementara demi keselamatan personel yang bertugas di lapangan.

Meski demikian, penghentian tersebut hanya bersifat sementara. Begitu cuaca membaik pada Sabtu pagi, tim gabungan kembali melanjutkan operasi pencarian dengan memperluas area penyisiran di sekitar lokasi tenggelamnya speedboat.

Tim SAR menggunakan berbagai metode pencarian, baik melalui penyisiran laut maupun pemantauan di sekitar lokasi yang diduga menjadi titik terakhir keberadaan nakhoda.

Untuk mendukung kelancaran operasi pencarian, Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Ampana mendirikan posko penanganan yang berfungsi sebagai pusat koordinasi.

Posko tersebut bertugas memantau perkembangan operasi SAR, mengoordinasikan informasi antarinstansi, sekaligus memberikan informasi terbaru kepada keluarga korban mengenai perkembangan pencarian.

Keberadaan posko diharapkan mampu mempercepat proses koordinasi sehingga seluruh unsur yang terlibat dapat bekerja lebih efektif dalam operasi penyelamatan.

Kementerian Perhubungan memastikan operasi pencarian terhadap nakhoda Ferdiansyah akan terus dilakukan hingga ditemukan.

Pemerintah juga mengapresiasi kerja cepat seluruh personel SAR gabungan yang berhasil menyelamatkan seluruh penumpang dalam kondisi hidup meski harus menghadapi cuaca buruk di perairan Teluk Tomini.

Insiden ini kembali menjadi pengingat pentingnya memperhatikan faktor keselamatan pelayaran, terutama kondisi teknis kapal sebelum berlayar dan perkembangan cuaca di wilayah perairan Indonesia.

Gangguan mesin yang terjadi bersamaan dengan cuaca ekstrem dapat meningkatkan risiko kecelakaan laut secara signifikan.

Hingga berita ini ditulis, pencarian terhadap satu awak kapal yang masih hilang terus berlangsung.

Tim SAR gabungan berharap korban dapat segera ditemukan sehingga operasi penyelamatan dapat diselesaikan dan seluruh keluarga korban memperoleh kepastian mengenai kondisi anggota keluarganya. (*/stch/dda)

Iklan