Iklan

72 Kebakaran Terjadi di Banyumas Selama Enam Bulan, Korsleting Listrik Jadi Penyebab Utama

Iklan

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Kasus kebakaran di Kabupaten Banyumas masih didominasi oleh faktor korsleting listrik.

Berdasarkan data UPT Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Satpol PP Banyumas, sebanyak 72 kejadian kebakaran berhasil ditangani selama periode Januari hingga Juni 2026 dengan total kerugian material mencapai sekitar Rp4,4 miliar.

Meski jumlah kejadian cukup tinggi, seluruh peristiwa tersebut dipastikan tidak menimbulkan korban jiwa.

Kondisi ini menjadi catatan positif berkat respons cepat petugas pemadam kebakaran dan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menyelamatkan diri saat terjadi kebakaran.

Kepala UPT Damkar Satpol PP Banyumas, Andaru Budilaksono, mengatakan sebagian besar kebakaran yang terjadi sepanjang semester pertama 2026 dipicu oleh korsleting atau gangguan pada instalasi listrik.

Menurutnya, masalah instalasi listrik masih menjadi penyebab paling dominan karena banyak masyarakat yang belum melakukan pemeriksaan maupun perawatan instalasi secara berkala, baik di rumah tinggal maupun tempat usaha.

“Selama Januari sampai Juni 2026 kami menangani 72 kejadian kebakaran, termasuk satu bantuan penanganan di Kabupaten Cilacap. Penyebab terbanyak akibat korsleting listrik, dan alhamdulillah tidak ada korban jiwa meninggal dunia,” ujar Andaru.

Dari total 72 kejadian tersebut, satu di antaranya merupakan operasi bantuan pemadaman kebakaran di wilayah Kabupaten Cilacap.

Selebihnya, seluruh kejadian terjadi di berbagai kecamatan di Kabupaten Banyumas.

Meski tidak menimbulkan korban meninggal dunia, dampak ekonomi akibat kebakaran cukup besar.

Berdasarkan perhitungan Damkar Banyumas, nilai kerugian material mencapai Rp4.413.300.000.

Kerugian tersebut berasal dari berbagai jenis kebakaran yang melibatkan rumah tinggal, bangunan usaha, maupun objek lainnya yang mengalami kerusakan akibat api.

Andaru menjelaskan bahwa korsleting listrik umumnya terjadi akibat instalasi yang sudah tua, penggunaan kabel yang tidak sesuai standar, sambungan listrik yang kurang aman, hingga kebiasaan menggunakan terlalu banyak perangkat elektronik pada satu stop kontak.

Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan panas berlebih yang kemudian memicu percikan api hingga berkembang menjadi kebakaran apabila tidak segera ditangani.

Karena itu, Damkar Banyumas mengimbau masyarakat untuk lebih memperhatikan keamanan instalasi listrik di lingkungan masing-masing.

Pemeriksaan berkala terhadap kabel, stop kontak, maupun perangkat listrik dinilai menjadi langkah sederhana namun sangat efektif untuk mencegah terjadinya kebakaran.

Selain itu, masyarakat juga diminta menggunakan instalasi listrik yang memenuhi standar keselamatan dan menghindari penggunaan peralatan listrik melebihi kapasitas yang dianjurkan.

“Kami mengimbau masyarakat untuk selalu waspada, pastikan instalasi listrik dalam kondisi baik, jangan menumpuk colokan listrik, dan matikan sumber listrik atau api ketika meninggalkan rumah. Pencegahan jauh lebih baik daripada harus menghadapi kebakaran,” tegas Andaru.

Ia menambahkan, kebiasaan sederhana seperti mencabut colokan peralatan elektronik yang tidak digunakan, memastikan kompor dalam keadaan mati sebelum meninggalkan rumah, serta menyediakan alat pemadam api ringan (APAR) di tempat usaha dapat membantu mengurangi risiko kebakaran.

Damkar Banyumas juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pencegahan kebakaran melalui sosialisasi di lingkungan permukiman, sekolah, hingga berbagai instansi.

Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai potensi bahaya kebakaran sekaligus memperkuat kesiapsiagaan apabila terjadi kondisi darurat.

Dengan tingginya angka kejadian akibat korsleting listrik, masyarakat diimbau tidak menunda pemeriksaan instalasi listrik di rumah maupun tempat usaha.

Langkah pencegahan yang dilakukan sejak dini dinilai jauh lebih efektif dibandingkan harus menghadapi kerugian besar akibat kebakaran.

Damkar Banyumas berharap kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menerapkan budaya keselamatan dapat terus menekan jumlah kejadian kebakaran pada semester berikutnya serta meminimalkan kerugian yang ditimbulkan. (zet/stch/dda)

Iklan