BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Kondisi memprihatinkan dialami Ning Surati, seorang janda yang tinggal bersama enam anaknya di Desa Kejawar, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas.
Rumah yang menjadi tempat tinggal keluarganya mengalami kerusakan serius pada bagian rangka atap.
Rangka atap rumah Ning Surati diketahui telah lapuk dan berpotensi ambruk.
Kondisi tersebut menjadi ancaman keselamatan bagi penghuni rumah, terutama ketika hujan deras atau angin kencang melanda wilayah tersebut.
Kerusakan yang terjadi membuat rumah tersebut membutuhkan perbaikan segera.
Namun, keterbatasan ekonomi membuat Ning Surati belum mampu melakukan renovasi secara mandiri.
Kondisi kerusakan diketahui setelah salah seorang warga, Rohiman, melakukan pengecekan langsung dengan naik ke bagian atap rumah.
Pemeriksaan dilakukan untuk melihat kondisi rangka sekaligus mengetahui bagian yang masih dapat digunakan dan bagian yang harus diganti dalam proses perbaikan.
Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi rangka atap sudah sangat mengkhawatirkan. Hampir seluruh bagian rangka dinilai tidak lagi layak digunakan.
“Atap sudah rapuh sekali, harus segera diganti semua,” kata Rohiman.
Kondisi tersebut membuat perbaikan tidak bisa dilakukan hanya pada sebagian kecil rangka.
Seluruh bagian atap yang sudah lapuk perlu mendapatkan penanganan agar rumah kembali aman ditempati.
Kerusakan rumah juga menjadi semakin mengkhawatirkan karena bagian atap merupakan salah satu struktur penting yang melindungi penghuni dari hujan dan cuaca buruk.
Kerusakan pada atap rumah Ning Surati tidak terjadi secara tiba-tiba. Kondisinya semakin memburuk secara bertahap selama sekitar tiga tahun terakhir.
Seiring waktu, bagian rangka yang semula mengalami kerusakan ringan semakin rapuh.
Karena belum mampu melakukan perbaikan secara menyeluruh, kondisi tersebut akhirnya mencapai tahap yang mengkhawatirkan.
Penghuni rumah pun harus lebih berhati-hati ketika terjadi hujan maupun angin kencang.
Atap yang sudah lapuk memiliki risiko ambrol sehingga dapat membahayakan keselamatan Ning Surati dan anak-anaknya.
Situasi tersebut membuat kebutuhan untuk memperbaiki rumah menjadi semakin mendesak, terlebih memasuki periode dengan potensi hujan dan angin yang lebih sering.
Ning Surati harus memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus menghidupi anak-anaknya.
Dari tujuh anak yang dimilikinya, enam anak masih menjadi bagian dari tanggungannya, sementara anak sulung telah bekerja.
Namun, penghasilan anak sulung juga belum mencukupi untuk membantu membiayai perbaikan rumah yang membutuhkan biaya cukup besar.
Kondisi ekonomi keluarga membuat rencana untuk memperbaiki bagian atap belum dapat direalisasikan secara mandiri.
Padahal, kondisi kerusakan sudah membutuhkan penanganan segera.
Jika dibiarkan terlalu lama, kerusakan dapat semakin parah dan risiko terhadap keselamatan penghuni rumah juga semakin besar.
Melihat kondisi tersebut, warga di lingkungan RW 3 Desa Kejawar menunjukkan kepedulian terhadap keluarga Ning Surati.
Warga kemudian berinisiatif melakukan perbaikan rumah secara gotong royong. Mereka tidak hanya menyumbangkan tenaga, tetapi juga membantu menyediakan kebutuhan material yang diperlukan untuk memperbaiki bagian atap.
Warga secara bersama-sama mengerjakan rehabilitasi rumah agar kerusakan dapat segera ditangani.
“Warga menyumbangkan tenaga untuk rehab dan donasi uang untuk membeli kebutuhan material atap,” imbuh warga lainnya, Setya Yuwono.
Semangat gotong royong tersebut menjadi bentuk solidaritas sosial warga terhadap keluarga yang sedang mengalami kesulitan.
Dengan adanya bantuan tenaga dan donasi dari masyarakat, proses perbaikan diharapkan dapat berjalan lebih cepat tanpa sepenuhnya membebani keluarga Ning Surati.
Warga bergerak cepat menangani kerusakan atap karena kondisi rumah sudah dinilai membahayakan. Perbaikan diharapkan dapat diselesaikan sebelum memasuki musim penghujan.
Perbaikan tersebut bukan hanya bertujuan memperbaiki bagian bangunan yang rusak, tetapi juga memberikan rasa aman dan nyaman bagi Ning Surati bersama anak-anaknya.
Atap yang kokoh sangat penting bagi keluarga tersebut agar mereka tidak lagi dihantui kekhawatiran ketika hujan deras maupun angin kencang terjadi.
Gotong royong warga Desa Kejawar juga menunjukkan bahwa persoalan sosial di lingkungan masyarakat dapat ditangani bersama ketika muncul kepedulian dan solidaritas.
Di tengah keterbatasan yang dialami keluarga Ning Surati, dukungan warga menjadi harapan agar rumah tersebut kembali menjadi tempat tinggal yang aman dan layak.
Kondisi rumah janda tujuh anak tersebut sekaligus menjadi pengingat pentingnya kepedulian terhadap warga yang membutuhkan.
Bantuan tidak selalu harus dalam bentuk materi. Tenaga, waktu, dan kepedulian masyarakat juga dapat memberikan manfaat besar bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan. (fij/stch/dda)