Iklan

Bayi 2 Bulan di Karangjambu Purbalingga Meninggal akibat Pneumonia, Diduga Terpapar Asap Rokok

Iklan

BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DinkesPPKB) Kabupaten Purbalingga mencatat satu bayi berusia dua bulan di Kecamatan Karangjambu meninggal dunia akibat pneumonia hingga Juli 2026.

Berdasarkan hasil kunjungan petugas puskesmas setempat, kematian bayi tersebut dikaitkan dengan paparan asap rokok.

Kasus tersebut menjadi perhatian DinkesPPKB karena menunjukkan risiko paparan asap rokok terhadap bayi, terutama pada usia yang masih sangat rentan terhadap infeksi saluran pernapasan.

Pemegang Program ISPA dan Pneumonia DinkesPPKB Kabupaten Purbalingga, Sri Puji Lestari, mengatakan kasus kematian tersebut merupakan satu-satunya kematian balita akibat ISPA pneumonia yang tercatat di Purbalingga hingga Juli 2026.

“Pneumonia tahun ini ada satu bayi di Karangjambu usia dua bulan yang meninggal. Berdasarkan kunjungan dari petugas puskesmas setempat, bayi tersebut meninggal disebabkan paparan asap rokok,” tegas Sri, Minggu (13/9/2026).

DinkesPPKB Purbalingga mencatat hingga Juli 2026 terdapat satu kasus kematian bayi akibat ISPA pneumonia. Bayi tersebut berusia dua bulan dan berasal dari Kecamatan Karangjambu.

Meski kasus kematian masih ditemukan, secara keseluruhan tren kematian bayi akibat ISPA pneumonia di Kabupaten Purbalingga menunjukkan penurunan dalam tiga tahun terakhir.

Pada 2025, tercatat empat kasus kematian bayi akibat ISPA pneumonia. Jumlah tersebut menurun dibandingkan 2024 yang mencapai 11 kasus.

Sementara itu, pada 2023 tercatat 15 kasus kematian bayi akibat ISPA pneumonia.

Dengan demikian, jumlah kasus kematian bayi akibat penyakit tersebut turun cukup signifikan dari 15 kasus pada 2023 menjadi 11 kasus pada 2024, kemudian kembali turun menjadi empat kasus pada 2025.

DinkesPPKB tetap mewaspadai faktor risiko yang dapat memperburuk kondisi kesehatan bayi dan balita, salah satunya paparan asap rokok di lingkungan tempat tinggal.

Sri mengingatkan masyarakat agar tidak merokok di sekitar ibu hamil maupun balita.

Imbauan tersebut dinilai penting karena bayi dan balita masih memiliki kondisi tubuh yang rentan terhadap berbagai gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan.

Tidak hanya bayi, ibu hamil juga perlu mendapatkan lingkungan yang bebas dari paparan asap rokok.

“Dihimbau tidak merokok di dekat ibu hamil maupun balita. Terkait dengan budaya ketemu bayi (muyi) yang baru lahir, agar mencuci tangan sebelum memegang bayi,” imbau Sri.

Selain persoalan asap rokok, DinkesPPKB juga mengingatkan masyarakat mengenai kebersihan tangan ketika berinteraksi dengan bayi yang baru lahir.

Tradisi masyarakat untuk mengunjungi bayi yang baru lahir atau yang dalam istilah setempat dikenal sebagai “muyi” tetap perlu memperhatikan aspek kesehatan.

Orang yang akan memegang bayi disarankan mencuci tangan terlebih dahulu untuk membantu mengurangi risiko penularan kuman dan infeksi.

DinkesPPKB Purbalingga juga mengingatkan pentingnya pemberian ASI eksklusif sebagai salah satu upaya mendukung daya tahan tubuh bayi.

Ibu dianjurkan memberikan ASI eksklusif untuk membantu memenuhi kebutuhan bayi sekaligus mendukung sistem kekebalan tubuhnya.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga bayi dan balita agar lebih terlindungi dari berbagai infeksi, termasuk infeksi saluran pernapasan.

Selain memastikan asupan bayi, lingkungan tempat tinggal juga perlu diperhatikan.

Orang tua dan anggota keluarga diminta menjaga agar bayi tidak terpapar asap rokok.

Kebiasaan merokok di dalam rumah maupun di sekitar bayi perlu dihindari. Lingkungan yang lebih sehat diharapkan dapat membantu menekan berbagai faktor risiko penyakit pernapasan pada kelompok usia tersebut.

DinkesPPKB juga mengingatkan orang tua agar tidak menunda pemeriksaan ketika bayi atau balita mulai menunjukkan gejala sakit.

Bayi dan balita yang mengalami keluhan kesehatan, terutama gejala yang berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan, perlu segera mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Penanganan sejak dini menjadi penting karena kondisi bayi dapat mengalami perubahan dengan cepat.

Orang tua juga diharapkan memperhatikan kondisi anak dan tidak mengabaikan gejala yang muncul.

Penurunan jumlah kematian akibat ISPA pneumonia dalam beberapa tahun terakhir menjadi perkembangan positif bagi Purbalingga.

Namun, kasus kematian bayi berusia dua bulan di Karangjambu hingga Juli 2026 menunjukkan bahwa upaya pencegahan masih perlu diperkuat.

DinkesPPKB mengajak masyarakat bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi bayi dan balita.

Tidak merokok di dekat ibu hamil dan anak, menjaga kebersihan tangan sebelum memegang bayi, memberikan ASI eksklusif, serta segera mencari pertolongan medis ketika anak sakit menjadi beberapa langkah yang terus ditekankan.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai faktor risiko ISPA dan pneumonia, diharapkan angka kesakitan maupun kematian bayi dan balita di Kabupaten Purbalingga dapat terus ditekan. (alw/stch/dda)

Iklan