BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) belum mampu menurunkan hujan secara merata di Kabupaten Purbalingga.
Di tengah kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purbalingga masih harus melanjutkan distribusi atau dropping air bersih ke sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan.
Kondisi kekeringan di Purbalingga hingga kini telah meluas ke 56 desa yang tersebar di 13 kecamatan.
Sebanyak 10.734 kepala keluarga (KK) atau 31.607 jiwa tercatat mengalami dampak kekurangan air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purbalingga, Revon H, mengatakan wilayah Purbalingga menjadi salah satu daerah yang masuk sasaran OMC menggunakan pesawat PK-YNA.
Operasi tersebut mencakup wilayah Solo dan sekitarnya hingga kawasan Banyumas Raya.
Dengan cakupan tersebut, Purbalingga turut menjadi salah satu wilayah yang diharapkan mendapatkan dampak dari operasi modifikasi cuaca.
“OMC yang dilaksanakan oleh BNPB dan BMKG menggunakan pesawat PK-YNA, dari wilayah Solo dan sekitarnya sampai Banyumas Raya. Wilayah Purbalingga merupakan salah satunya,” kata Revon, Jumat (11/9/2026).
Menurut Revon, pelaksanaan OMC pada awalnya dilakukan untuk mendukung penanganan darurat kebakaran di TPA Putri Cempo, Solo.
Namun, cakupan wilayah operasi kemudian diperluas hingga Banyumas Raya.
Perluasan tersebut dilakukan karena area operasi sebelumnya dinilai terlalu sempit.
Dengan cakupan yang lebih luas, OMC diharapkan tidak hanya mendukung penanganan kondisi di Solo, tetapi juga membantu wilayah lain yang menghadapi persoalan kekeringan.
“Namun, karena terlalu sempit area OMC, maka diperluas sampai Banyumas Raya,” ujarnya.
Hujan Belum Turun Merata
Meski Purbalingga masuk dalam cakupan OMC, hujan yang diharapkan belum turun secara merata.
Di sejumlah wilayah, hujan hanya berupa gerimis dengan curah yang masih minim.
Kondisi tersebut membuat persoalan kekurangan air bersih belum dapat teratasi.
BPBD Purbalingga pun tetap menjalankan dropping air bersih ke desa-desa yang mengalami dampak kekeringan.
Situasi tersebut sejalan dengan kondisi iklim Jawa Tengah. BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah mencatat Purbalingga termasuk wilayah yang mendapat peringatan dini kekeringan meteorologis status Awas untuk periode 11–20 September 2026.
BMKG juga mencatat curah hujan di Jawa Tengah pada dasarian pertama September 2026 secara umum berada pada kategori rendah.
Kondisi hari tanpa hujan di sejumlah wilayah juga telah mencapai kategori menengah hingga kekeringan ekstrem.
Khusus Purbalingga, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena kebutuhan air bersih masyarakat masih harus dipenuhi melalui bantuan distribusi dari pemerintah dan berbagai pihak.
Dengan belum meratanya hujan, BPBD Purbalingga tidak menghentikan penyaluran bantuan air bersih.
Dropping dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga yang sumber airnya terdampak kekeringan.
Data BPBD sebelumnya menunjukkan kekeringan di Purbalingga telah berlangsung selama puluhan hari.
Hingga 8 September 2026, distribusi bantuan air bersih telah mencapai 1.609 tangki atau sekitar 7,244 juta liter.
Jumlah warga terdampak juga mencapai 31.607 jiwa. Angka tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan penanganan kekeringan di wilayah Kabupaten Purbalingga.
Distribusi air bersih menjadi langkah penting selama kondisi sumber air masyarakat belum kembali normal.
Terlebih, prakiraan BMKG masih menunjukkan potensi hujan yang rendah di Jawa Tengah pada periode berikutnya.
Perluasan OMC hingga Banyumas Raya menjadi salah satu bentuk mitigasi untuk menghadapi kondisi kekeringan yang semakin meluas.
Namun, hasil operasi tidak serta-merta membuat seluruh wilayah mendapatkan hujan dengan intensitas yang cukup.
Karena itu, penanganan kekeringan tetap membutuhkan langkah lain, terutama pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat.
BPBD Purbalingga masih memprioritaskan wilayah yang mengalami kesulitan air.
Bantuan air bersih diharapkan dapat terus menjangkau masyarakat selama sumber air belum mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di sisi lain, peringatan dini BMKG menunjukkan masyarakat dan pemerintah daerah masih perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kekeringan.
Purbalingga termasuk wilayah Jawa Tengah yang berada dalam status Awas kekeringan meteorologis pada periode 11–20 September 2026.
Dengan kondisi tersebut, OMC dan distribusi air bersih menjadi bagian dari upaya penanganan yang berjalan secara bersamaan.
OMC diharapkan dapat membantu meningkatkan peluang terjadinya hujan, sementara dropping air bersih menjadi solusi sementara untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.
Hingga hujan turun dengan intensitas yang lebih merata dan sumber air masyarakat kembali mencukupi, BPBD Purbalingga masih harus menghadapi tantangan penanganan kekeringan di 56 desa yang tersebar di 13 kecamatan. (tya/stch/dda)














