BANYUMASEKSPRES.ID, Program Indonesia Pintar atau PIP dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ditujukan bagi anak keluarga kurang mampu.
Meski demikian, siswa dari keluarga miskin tidak secara otomatis menjadi penerima PIP karena terdapat ketentuan yang harus dipenuhi.
Salah satu ketentuan tersebut berkaitan dengan data kesejahteraan keluarga yang tercatat dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional.
Penerima PIP berasal dari kelompok desil 1 hingga 4 dalam DTSEN, sesuai dengan ketentuan penargetan bantuan pendidikan tersebut.
DTSEN merupakan data terpadu yang memuat informasi sosial ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia secara menyeluruh.
Melalui DTSEN, masyarakat dikelompokkan berdasarkan tingkat kesejahteraan ke dalam sepuluh kelompok yang disebut sebagai desil.
Karena itu, posisi desil menjadi salah satu informasi penting bagi masyarakat yang ingin mengetahui sasaran penerima PIP.
Mengutip laman Puslapdik Kemendikdasmen, penerima PIP berasal dari kelompok desil 1 sampai dengan desil 4.
Desil 1 merupakan kelompok masyarakat yang masuk kategori sangat miskin berdasarkan pemeringkatan kesejahteraan dalam DTSEN.
Sementara itu, desil 2 merupakan kelompok miskin, sedangkan desil 3 termasuk kategori masyarakat yang hampir miskin.
Adapun desil 4 berada pada kategori rentan miskin, sehingga kelompok tersebut juga termasuk sasaran penerima PIP.
Dengan demikian, siswa yang berasal dari keluarga dalam desil 1 hingga 4 berpeluang menjadi penerima Program Indonesia Pintar.
Namun, posisi desil bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan karena penerimaan bantuan tetap mengikuti ketentuan berlaku.
Masyarakat dapat mengetahui posisi desil melalui situs resmi Cek Bansos Kemensos menggunakan perangkat seperti ponsel maupun komputer.
Langkah pertama adalah membuka laman cekbansos.kemensos.go.id melalui browser yang tersedia pada perangkat yang digunakan.
Setelah laman terbuka, masukkan Nomor Induk Kependudukan atau NIK sesuai dengan data yang tercantum pada KTP.
Berikutnya, masukkan kode verifikasi atau captcha yang tersedia pada halaman tersebut untuk melanjutkan proses pencarian data.
Setelah seluruh informasi terisi dengan benar, klik tombol “Cari Data” dan tunggu sampai sistem menampilkan hasil pencarian.
Apabila data ditemukan, pengguna dapat memperoleh informasi mengenai identitas penerima, posisi desil dalam DTSEN, jenis bantuan sosial, serta periode penyaluran.
Mengetahui posisi desil penting karena informasi tersebut berkaitan dengan pemetaan pemerintah terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, informasi desil dapat membantu masyarakat memahami alasan sebuah keluarga masuk atau tidak dalam kelompok prioritas bantuan.
Status desil juga dapat menjadi informasi awal untuk memahami pemetaan kesejahteraan keluarga dalam berbagai program perlindungan sosial pemerintah.
Badan Pusat Statistik melalui unggahan pada akun X resminya menjelaskan beberapa anggapan masyarakat mengenai desil yang perlu diluruskan.
Pertama, penerima bantuan sosial tidak ditetapkan oleh BPS karena kewenangan tersebut berada pada kementerian atau lembaga terkait.
Dalam hal ini, BPS berperan sebagai penyedia bahan data statistik serta sosial ekonomi yang dapat digunakan pemerintah.
Kedua, desil bukan label yang menunjukkan seseorang miskin atau kaya, melainkan pengelompokan keluarga berdasarkan tingkat kesejahteraan.
Pengelompokan tersebut dapat dilihat melalui karakteristik keluarga dan wilayah beserta distribusinya dalam data yang tersedia.
Desil digunakan untuk membantu penargetan program sosial dan bukan sebagai label terhadap status sosial seseorang dalam masyarakat.
Ketiga, perubahan status desil tidak berlangsung secara otomatis tanpa adanya perubahan atau pembaruan data yang menjadi dasar pemeringkatan.
Artinya, perubahan posisi desil dapat terjadi apabila terdapat perubahan ataupun pembaruan informasi yang digunakan dalam proses pemeringkatan.
Keempat, kepemilikan kendaraan bukan satu-satunya faktor yang menentukan status desil seseorang dalam pemetaan kesejahteraan.
Penentuan tingkat kesejahteraan dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai kondisi yang terdapat dalam suatu keluarga.
Kelima, tidak terdapat tabel resmi yang mengelompokkan desil berdasarkan besaran gaji bulanan seseorang maupun sebuah keluarga.
Karena itu, masyarakat perlu memahami fungsi desil secara tepat agar tidak keliru menghubungkannya dengan indikator tunggal tertentu.
Bagi calon penerima PIP, pengecekan posisi desil dapat membantu memahami keterkaitan data kesejahteraan dengan sasaran bantuan pendidikan.
Informasi tersebut sekaligus menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana pemerintah memetakan keluarga dalam program perlindungan sosial. (vip)