BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Serabut-serabut kelapa yang selama ini kerap dianggap sebagai sisa tak terpakai ternyata dapat memiliki nilai ekonomi.
Di tangan warga binaan Lapas Kelas IIA Purwokerto, bahan sederhana tersebut diolah menjadi lembaran coco sheet yang tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan pembinaan, tetapi juga telah menembus pasar China.
Dari balik tembok Lapas, proses produksi coco sheet menjadi aktivitas pembinaan kemandirian bagi warga binaan.
Mereka tidak sekadar mengisi waktu selama menjalani masa pembinaan, tetapi belajar mengolah bahan mentah hingga menjadi produk dengan ukuran dan ketebalan yang disesuaikan dengan kebutuhan.
Proses tersebut dilakukan secara bertahap. Serat sabut kelapa yang menjadi bahan utama terlebih dahulu disusun dan dirapikan hingga membentuk hamparan dengan ukuran yang sesuai.
Setelah serat tersusun, bahan perekat diberikan secara merata. Lembaran serat tersebut kemudian dikeringkan dengan cara dijemur hingga benar-benar siap untuk memasuki proses berikutnya.
Tahap selanjutnya membutuhkan ketelitian. Beberapa lembaran serat ditumpuk untuk mendapatkan ketebalan yang dibutuhkan sebelum kemudian dimasukkan ke dalam alat press.
Tekanan dari alat tersebut membuat serat sabut kelapa semakin rapat dan menyatu.
Dari proses itulah kemudian terbentuk lembaran coco sheet yang lebih kokoh dan siap digunakan sebagai produk.
Bagi warga binaan yang mengerjakannya, keterampilan membuat coco sheet tidak diperoleh secara instan.
Ada proses belajar, latihan, dan pembiasaan yang harus dijalani sebelum mereka mampu mengerjakan setiap tahapan produksi dengan lebih lancar.
Rohman, salah satu warga binaan yang terlibat dalam pembuatan coco sheet, mengaku pekerjaan tersebut sempat terasa sulit ketika pertama kali dipelajari.
Namun, setelah terbiasa dan mendapatkan dukungan selama mengikuti program pembinaan, ia mulai mampu mengerjakan proses pembuatan coco sheet dengan lebih baik.
“Alhamdulillah, sekarang bisa lancar bikinnya,” ujar Rohman.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan keterampilan warga binaan.
Mereka tidak hanya mengenal teori, tetapi terlibat langsung dalam proses produksi dari awal hingga menjadi produk jadi.
Hasil produksi warga binaan Lapas Kelas IIA Purwokerto ternyata tidak berhenti sebagai produk latihan di dalam Lapas. Coco sheet yang mereka hasilkan telah berhasil menembus pasar China.
Capaian tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam program pembinaan kemandirian yang dijalankan Lapas Kelas IIA Purwokerto.
Produk yang dihasilkan warga binaan menunjukkan bahwa keterampilan yang dipelajari selama berada di Lapas dapat memiliki nilai ekonomi.
Kepala Lapas Kelas IIA Purwokerto, Winarso, mengatakan pembinaan yang diberikan kepada warga binaan memang diarahkan agar tidak sekadar menjadi aktivitas selama mereka menjalani masa pidana.
Menurutnya, keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal ketika warga binaan nantinya kembali ke tengah masyarakat.
“Kami ingin pembinaan yang diberikan tidak hanya menjadi kegiatan di dalam Lapas, tetapi juga menghasilkan keterampilan yang bisa menjadi bekal bagi warga binaan,” ujar Winarso.
Karena itu, warga binaan dilibatkan dalam berbagai tahapan produksi coco sheet.
Mereka belajar menyiapkan serat sabut kelapa, memahami penggunaan bahan perekat, melakukan proses pengeringan, hingga mengoperasikan alat press.
Keterlibatan langsung tersebut membuat warga binaan memiliki pengalaman produksi yang lebih lengkap.
Dari proses yang dilakukan secara berulang, kemampuan mereka perlahan terbentuk dan menjadi keterampilan yang dapat dikembangkan.
Selain memperoleh keterampilan, terdapat manfaat lain yang dirasakan warga binaan ketika produk yang mereka kerjakan berhasil terjual.
Dari hasil penjualan, premi yang diterima sebagian ditabung dan sebagian lainnya digunakan sesuai kebutuhan.
Namun, bagi Rohman, manfaat mengikuti kegiatan pembuatan coco sheet tidak hanya dilihat dari uang yang diterima.
Ada keterampilan yang menurutnya jauh lebih penting karena dapat tetap dibawa setelah dirinya menyelesaikan masa pembinaan.
Pengetahuan mengenai cara membuat coco sheet menjadi bekal yang diharapkan dapat dikembangkan menjadi peluang usaha mandiri ketika kembali ke masyarakat.
Keterampilan tersebut setidaknya memberikan pilihan bagi warga binaan untuk memanfaatkan pengalaman yang diperoleh selama berada di Lapas.
Mereka memiliki pengetahuan mengenai proses produksi yang dapat terus diasah dan dikembangkan sesuai peluang yang tersedia.
Program pembuatan coco sheet memperlihatkan bagaimana kegiatan pembinaan di dalam Lapas dapat diarahkan pada pembentukan keterampilan produktif.
Warga binaan diajak untuk menghasilkan sebuah produk melalui proses kerja yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan konsistensi.
Serabut kelapa yang semula terlihat sederhana kemudian melalui sejumlah tahapan hingga berubah menjadi lembaran coco sheet.
Dari menyusun serat, memberikan perekat, menjemur, menumpuk, hingga melakukan pengepresan, setiap tahap menjadi bagian dari proses belajar.
Bagi warga binaan, proses tersebut bukan hanya tentang menghasilkan produk yang dapat dijual.
Mereka juga belajar mengenai tanggung jawab terhadap pekerjaan, menjaga kualitas hasil produksi, serta memahami bagaimana sebuah bahan mentah dapat memiliki nilai ekonomi setelah melalui proses pengolahan.
Capaian coco sheet yang telah menembus pasar China juga menjadi pengalaman tersendiri bagi warga binaan yang terlibat.
Produk yang dikerjakan dari balik Lapas Purwokerto ternyata dapat menjangkau pasar di luar negeri.
Pada akhirnya, serabut kelapa tersebut memberikan pelajaran yang lebih besar dari sekadar cara membuat sebuah produk.
Dari balik Lapas Kelas IIA Purwokerto, warga binaan belajar mengubah bahan sederhana menjadi karya bernilai ekonomi sekaligus menyiapkan keterampilan yang diharapkan dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat. (zet/stch/dda)