BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Layanan Trans Banyumas berencana memperluas jangkauan hingga wilayah Banyumas Barat.
Koridor Ajibarang-Wangon-Jatilawang menjadi salah satu rute yang diprioritaskan setelah tingginya permintaan masyarakat dan hasil survei menunjukkan potensi penumpang yang cukup besar.
Direktur Utama PT Banyumas Raya Transportasi, Ipoeng Martha Marsikun, mengatakan rencana ekspansi tersebut muncul berdasarkan masukan masyarakat, surat dari Dinas Perhubungan, serta hasil survei lapangan.
Dari sejumlah wilayah yang diusulkan, Ajibarang, Wangon, dan Jatilawang menjadi kawasan yang mendapat perhatian utama.
“Dari beberapa survei, memang banyak sekali warga dari daerah ini (Ajibarang, Wangon, Jatilawang) yang menginginkan agar Trans Banyumas segera melayani daerah Ajibarang, Wangon, dan Jatilawang,” ujar Ipoeng.
Berdasarkan uji coba survei sederhana yang dilakukan manajemen, potensi penumpang di koridor Banyumas Barat diperkirakan dapat mencapai sekitar 80 persen.
Meski demikian, angka tersebut masih merupakan hasil survei awal dan perlu dikaji lebih mendalam sebelum rute baru ditetapkan.
Ipoeng mengatakan rute Ajibarang-Wangon-Jatilawang belum dapat langsung dioperasikan.
Manajemen masih perlu melakukan survei lanjutan dan evaluasi lapangan secara komprehensif.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, koridor tersebut diproyeksikan menjadi salah satu rute baru Trans Banyumas pada 2027 atau 2028.
“Kemungkinan besar nanti rute Ajibarang-Wangon-Jatilawang yang pertama akan beroperasi di 2027 atau di 2028,” kata Ipoeng.
Selain tiga wilayah tersebut, Somagede dan Tambak juga masuk dalam usulan pengembangan jaringan Trans Banyumas.
Perluasan koridor diharapkan dapat membuat jangkauan transportasi publik di Kabupaten Banyumas lebih merata.
Usulan tersebut tidak hanya berasal dari masyarakat, tetapi juga disampaikan melalui unsur legislatif.
Dengan adanya tambahan rute, masyarakat di wilayah yang selama ini belum terlayani Trans Banyumas berpeluang mendapatkan alternatif transportasi umum menuju pusat aktivitas di wilayah Banyumas.
Rencana ekspansi rute tersebut muncul di tengah proses transisi pengelolaan Trans Banyumas.
Layanan bus BTS itu sempat berhenti sejak 30 Agustus 2026 setelah dukungan anggaran operasional dari pemerintah pusat berakhir.
Pemkab Banyumas kemudian menyiapkan pembiayaan melalui APBD Perubahan 2026 agar layanan dapat kembali berjalan.
Pada pertengahan September, pemerintah daerah menargetkan Trans Banyumas kembali beroperasi pada 17-18 September 2026, meski pelaksanaannya masih bergantung pada proses administrasi dan evaluasi anggaran.
Peralihan pendanaan dari APBN ke APBD juga membuat pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap operasional Trans Banyumas.
Evaluasi mencakup jumlah armada, koridor yang dilayani, hingga skema tarif.
Karena itu, pembukaan rute baru menuju Banyumas Barat tidak hanya bergantung pada permintaan masyarakat.
Kemampuan anggaran, hasil kajian potensi penumpang, serta aspek teknis operasional juga menjadi pertimbangan.
Selain membahas perluasan koridor, pemerintah daerah dan operator juga mengevaluasi tarif Trans Banyumas setelah skema pendanaan beralih ke APBD.
Sebelum penghentian sementara, tarif Trans Banyumas tercatat Rp3.900 untuk penumpang umum dan Rp2.000 untuk tarif khusus.
Setelah peralihan pendanaan, muncul wacana tarif Rp5.000 untuk penumpang umum dan Rp3.000 untuk tarif khusus.
Namun, angka tersebut masih berupa usulan dan belum menjadi tarif resmi.
Ipoeng menyebut penyesuaian tarif perlu mempertimbangkan biaya keekonomian layanan. Biaya tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp10.500 per penumpang.
Pemerintah Kabupaten Banyumas juga perlu berkonsultasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebelum menerapkan skema tarif baru.
Di sisi lain, operator menyiapkan sumber pendapatan tambahan. Salah satunya melalui pemanfaatan badan bus dan halte sebagai media iklan.
Skema tersebut masih membutuhkan regulasi yang jelas agar pemasangan iklan pada kendaraan dan fasilitas Trans Banyumas dapat dilakukan sesuai ketentuan.
Rencana menghadirkan koridor Ajibarang-Wangon-Jatilawang menunjukkan adanya upaya memperluas akses transportasi publik ke kawasan Banyumas Barat.
Tingginya permintaan masyarakat menjadi salah satu dasar bagi operator untuk mengkaji rute tersebut.
Namun, masyarakat masih perlu menunggu hasil survei lanjutan dan keputusan resmi mengenai waktu operasional.
Untuk saat ini, 2027 atau 2028 masih merupakan proyeksi, bukan jadwal pasti dimulainya layanan Ajibarang-Wangon-Jatilawang.
Sementara itu, fokus jangka pendek pemerintah adalah memastikan Trans Banyumas kembali beroperasi setelah masa penghentian sementara.
Pemkab Banyumas sebelumnya menyiapkan anggaran melalui APBD Perubahan untuk mendukung keberlanjutan layanan.
Jika rute Banyumas Barat nantinya terealisasi, Ajibarang, Wangon, dan Jatilawang akan menjadi bagian dari perluasan jaringan Trans Banyumas.
Keberadaan koridor baru tersebut diharapkan dapat memberikan pilihan transportasi umum bagi warga sekaligus memperluas konektivitas antarwilayah di Kabupaten Banyumas. (*/stch/dda)














