BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Dieng Culture Festival (DCF) 2026 tidak hanya menghadirkan pertunjukan budaya, tradisi, dan musik.
Festival tahunan yang digelar di kawasan Dieng, Banjarnegara, tersebut juga menjadi momentum untuk memperkenalkan berbagai potensi lokal, termasuk sektor peternakan.
Salah satu potensi yang mendapat perhatian dalam gelaran DCF 2026 adalah domba Batur.
Hewan ternak khas Banjarnegara tersebut diperkenalkan melalui Festival dan Kontes Domba Batur yang menjadi salah satu agenda pada pembukaan DCF 2026, Jumat (28/8/2026).
Domba Batur memiliki sejumlah keunikan yang membedakannya dari jenis domba pada umumnya.
Selain mempunyai ukuran tubuh yang relatif besar, domba asal Banjarnegara ini juga memiliki bulu yang lebat hingga menutupi bagian wajah.
Kondisi tersebut membuat domba Batur tidak hanya dipelihara untuk kebutuhan ternak potong.
Sebagian domba berkualitas juga menjadi koleksi komunitas maupun penghobi karena memiliki karakter, postur, genetik, dan kualitas bulu yang menarik.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan (Distankan KP) Banjarnegara, Firman Sapta Ady, mengatakan Festival dan Kontes Domba Batur digelar salah satunya untuk memperkenalkan potensi peternakan lokal kepada masyarakat luas.
“Domba Batur merupakan jenis domba asal Banjarnegara yang telah mendapat pengakuan dari Kementerian Pertanian,” terang Firman.
Dari sisi ukuran tubuh, domba Batur dikenal memiliki bobot yang cukup besar.
Domba betina memiliki bobot sekitar 50 hingga 60 kilogram. Sementara itu, domba jantan dapat mencapai bobot hingga 110 kilogram.
“Kalau domba Batur, bobot betina itu minimal 50-60 kilogram, jantannya bisa mencapai 110 kilogram,” ungkapnya.
Selain berukuran besar, domba Batur dikenal memiliki sifat relatif jinak. Ciri lainnya adalah bulu yang sangat lebat sehingga menjadi salah satu daya tarik utama bagi penghobi.
Keunikan tersebut membuat nilai ekonomi domba Batur berkualitas dapat jauh lebih tinggi dibandingkan domba potong biasa.
Salah satu hal yang menarik perhatian dalam pengenalan domba Batur adalah nilai jualnya.
Untuk domba potong pada umumnya, harga berada di kisaran Rp1 juta hingga Rp5 juta, tergantung kondisi dan bobot.
Namun, domba Batur dengan kualitas tertentu dapat memiliki harga puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Firman menyebut harga domba Batur berkualitas dapat mencapai Rp50 juta bahkan Rp100 juta. Nilai tersebut tidak semata-mata ditentukan berdasarkan berat badan.
“Tapi kalau ini (domba Batur) ada yang harganya Rp50 juta, Rp100 juta seperti itu,” jelas Firman.
Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi harga domba Batur. Selain postur dan bobot, kualitas genetik, karakter serta kondisi bulu menjadi pertimbangan penting.
Dengan demikian, domba Batur berkualitas memiliki pasar tersendiri di kalangan komunitas dan penghobi.
Nilai ekonominya pun menjadi salah satu alasan pengembangan komoditas ternak tersebut terus didorong.
Potensi domba Batur di Banjarnegara cukup besar. Saat ini, populasi domba Batur diperkirakan berada di kisaran 9.000 hingga 10.000 ekor.
Jumlah tersebut tersebar di sejumlah wilayah dan menjadi bagian dari potensi peternakan lokal yang dapat dikembangkan.
Melalui kegiatan seperti Festival dan Kontes Domba Batur dalam DCF 2026, pemerintah berharap masyarakat semakin mengenal keberadaan domba khas Banjarnegara tersebut.
Kontes juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan kualitas domba Batur kepada pengunjung yang datang ke Dieng.
Peserta dibagi ke dalam sejumlah kelas, mulai dari bakalan jantan dan betina, dewasa jantan dan betina, hingga kelas ekstrem.
Kegiatan tersebut sekaligus mempertemukan peternak, komunitas, penghobi, dan masyarakat umum dalam satu agenda yang berkaitan dengan pengembangan potensi ternak lokal.
Tidak hanya daging dan nilai jual ternaknya, bagian lain dari domba Batur juga memiliki potensi ekonomi.
Bulu yang menjadi salah satu ciri khas domba Batur berpeluang dikembangkan menjadi bahan tekstil maupun berbagai produk kreatif.
Beberapa produk yang dapat dibuat dari bahan tersebut antara lain boneka, syal, topi, hingga produk berbasis tekstil lainnya.
Namun, pemanfaatan bulu untuk industri wol dalam skala besar masih menghadapi kendala.
Salah satunya berkaitan dengan jumlah populasi domba Batur yang belum mencukupi kebutuhan industri.
Firman menyebut industri membutuhkan populasi sekitar 30 ribu hingga 40 ribu ekor agar proses pengolahan dapat berjalan secara efisien.
Artinya, pengembangan domba Batur tidak hanya berpotensi meningkatkan nilai ekonomi peternak melalui penjualan ternak berkualitas.
Jika populasinya dapat ditingkatkan dan pengolahan bulunya dikembangkan, komoditas tersebut juga berpeluang menciptakan produk turunan bernilai tambah.
Kehadiran Festival dan Kontes Domba Batur di Dieng Culture Festival 2026 menunjukkan bahwa potensi peternakan dapat dikolaborasikan dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Wisatawan yang datang ke Dieng tidak hanya mendapatkan pengalaman menikmati pertunjukan budaya dan musik, tetapi juga dapat mengenal komoditas khas yang berasal dari daerah tersebut.
Bagi Banjarnegara, domba Batur dapat menjadi salah satu identitas peternakan lokal yang memiliki nilai ekonomi sekaligus daya tarik wisata.
Dengan ukuran tubuh besar, bulu lebat, karakter jinak, serta harga yang dapat mencapai Rp100 juta untuk kualitas tertentu, domba Batur memiliki keunggulan yang cukup kuat untuk terus dikembangkan.
Pengembangan populasi, peningkatan kualitas genetik, pembinaan peternak, hingga pemanfaatan bulu sebagai produk kreatif dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut.
DCF 2026 pun menjadi panggung untuk memperkenalkan potensi itu kepada masyarakat yang lebih luas.
Di tengah berbagai pertunjukan budaya dan aktivitas wisata Dieng, domba Batur menunjukkan bahwa kekayaan lokal Banjarnegara tidak hanya berada pada alam dan tradisinya, tetapi juga pada sektor peternakan yang memiliki potensi ekonomi besar. (jud/stch/dda)