Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Karnaval Agustusan Tak Semarak, Pesanan Jasa Rias dan Sewa Kostum di Banyumas Turun 30 Persen
Kemenpar Dorong Dieng Culture Festival Jadi Wajah Pariwisata Indonesia di Mata Dunia

Kemenpar Dorong Dieng Culture Festival Jadi Wajah Pariwisata Indonesia di Mata Dunia

DCF Dibidik Jadi Festival Berkelas GlobalDCF Dibidik Jadi Festival Berkelas Global
TERBANGKAN MERPATI: Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana (tengah) bersama para tokoh terkait melakukan sermonial pembukaan DCF 2026

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Dieng Culture Festival (DCF) 2026 didorong tidak sekadar menjadi festival budaya yang digelar setiap tahun.

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menilai event yang telah berlangsung sebanyak 16 kali tersebut memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi salah satu wajah pariwisata Indonesia di mata wisatawan dunia.

DCF dinilai memiliki modal kuat karena menggabungkan kekayaan budaya, tradisi masyarakat, potensi wisata alam, ekonomi kreatif, serta keterlibatan masyarakat lokal.

Karakter tersebut menjadi pembeda DCF dibandingkan festival wisata lainnya di Indonesia.

Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Kemenpar, Titik Lestari, mengatakan kekuatan utama Dieng Culture Festival berada pada keterlibatan masyarakat dalam membangun dan menjalankan festival sejak awal.

“Menjadikan Dieng Culture Festival sebagai wajah pariwisata Indonesia yang autentik dan berdaya saing global,” kata Titik, Sabtu (29/8/2026).

Menurut Titik, DCF tidak hanya menawarkan pertunjukan kepada wisatawan.

Festival tersebut menjadikan tradisi dan budaya masyarakat Dieng sebagai bagian utama dari rangkaian kegiatan.

Kondisi tersebut membuat DCF memiliki identitas yang kuat. Wisatawan tidak hanya datang untuk menyaksikan hiburan, tetapi juga dapat mengenal tradisi masyarakat Dieng secara lebih dekat.

Selain aspek budaya dan pariwisata, penyelenggaraan Dieng Culture Festival 2026 juga memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

Lonjakan jumlah wisatawan selama festival memberikan peluang bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan penjualan.

Berbagai produk makanan, minuman, kerajinan, dan produk lokal lainnya ikut dipasarkan kepada pengunjung.

Titik mengatakan aktivitas UMKM menjadi salah satu hal yang terlihat selama penyelenggaraan DCF.

Ia berharap masyarakat lokal dapat menikmati manfaat ekonomi dari meningkatnya kunjungan wisatawan.

“Kita lihat UMKM yang menjajakan jajanan tadi sudah laris terjual. Mudah-mudahan masyarakat menikmati dampak dari penyelenggaraan ini,” ujarnya.

Menurut Kemenpar, keterlibatan UMKM menjadi bagian penting dalam pengembangan event pariwisata.

Festival yang ramai dikunjungi wisatawan tidak hanya memberikan keuntungan bagi penyelenggara atau sektor akomodasi, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat sekitar.

Dengan demikian, keberhasilan DCF tidak hanya dapat diukur dari jumlah penonton.

Dampak ekonomi yang diterima masyarakat juga menjadi salah satu indikator penting dalam menilai keberlanjutan festival.

DCF 2026 memiliki posisi strategis karena masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN). Bahkan, festival yang digelar di kawasan Dieng tersebut masuk dalam jajaran 10 event terbaik.

Status tersebut menjadi peluang untuk memperluas promosi Dieng kepada wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.

Masuknya DCF dalam KEN menunjukkan bahwa event tersebut memiliki nilai yang dianggap penting dalam kalender pariwisata nasional.

Promosi yang lebih luas diharapkan dapat meningkatkan daya tarik Dieng sebagai salah satu destinasi wisata unggulan Jawa Tengah.

Dieng sendiri memiliki berbagai potensi wisata alam dan budaya. Kehadiran DCF menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi tersebut secara lebih luas.

Karena itu, Kemenpar mendorong agar penyelenggaraan DCF terus diperkuat, bukan hanya dari sisi program, tetapi juga dari aspek tata kelola dan profesionalisme.

Salah satu langkah yang didorong Kemenpar adalah melakukan pengukuran dampak penyelenggaraan event. Survei dilakukan selama rangkaian festival hingga hari terakhir.

Pengukuran tersebut bertujuan mengetahui seberapa besar manfaat DCF bagi masyarakat.

Data yang dikumpulkan juga dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk penyelenggaraan festival pada tahun-tahun berikutnya.

“Kami akan melakukan survei dampak dari kegiatan ini sehingga kebermanfaatannya nanti akan kita lihat dari data hasil survei yang kami himpun,” kata Titik.

Langkah tersebut penting agar pengembangan event pariwisata tidak hanya berdasarkan asumsi.

Data mengenai jumlah pengunjung, aktivitas ekonomi, keterlibatan masyarakat, serta dampak terhadap sektor pariwisata dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi berikutnya.

Dengan adanya data tersebut, penyelenggara juga dapat mengetahui aspek yang sudah berjalan baik dan bagian yang masih perlu diperbaiki.

Kementerian Pariwisata telah memberikan pendampingan terhadap penyelenggaraan DCF sejak 2021.

Pendampingan tersebut diharapkan dapat terus berlanjut untuk memperkuat berbagai aspek penyelenggaraan festival.

Beberapa aspek yang menjadi perhatian antara lain kurasi program, tata kelola event, serta pengukuran dampak ekonomi dan pariwisata.

Pendampingan tersebut menjadi penting karena DCF memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh.

Dengan pengalaman penyelenggaraan sebanyak 16 kali, festival ini sudah memiliki basis masyarakat dan wisatawan yang cukup kuat.

Namun, pengembangan menjadi event berkelas internasional membutuhkan pengelolaan yang semakin profesional.

Standar penyelenggaraan, promosi, pelayanan wisatawan, hingga pengukuran dampak perlu terus ditingkatkan.

Penguatan event seperti DCF juga dinilai dapat mendukung pencapaian target pariwisata nasional.

Kemenpar menyebut target kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 17,6 juta kunjungan, sedangkan pergerakan wisatawan nusantara ditargetkan mencapai 1,2 miliar pergerakan.

Menurut Titik, event berkualitas dapat menjadi salah satu instrumen untuk membantu mencapai target tersebut.

“Target kunjungan wisatawan mancanegara 17,6 juta dan pergerakan wisatawan nusantara sebesar 1,2 miliar dapat tercapai, salah satunya melalui penguatan kurasi program, peningkatan tata kelola event, dan pengukuran dampak yang lebih terstruktur,” katanya.

DCF 2026 sendiri berlangsung pada 28-30 Agustus. Sejumlah agenda utama disiapkan untuk menarik wisatawan, mulai dari Festival Kopi, pameran UMKM, Festival Domba Batur, Jazz Atas Awan hingga Ruwatan Anak Berambut Gimbal.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa DCF memiliki konsep yang cukup lengkap. Budaya tradisional dipadukan dengan musik, ekonomi kreatif, produk lokal, dan potensi peternakan masyarakat.

Jika pengelolaan terus diperkuat, DCF memiliki peluang semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.

Keunikan budaya Dieng menjadi aset utama yang tidak mudah ditemukan di destinasi lain.

Bagi Kemenpar, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan festival tetap memberikan manfaat kepada masyarakat lokal.

Dengan keterlibatan masyarakat, penguatan UMKM, tata kelola profesional, serta promosi yang semakin luas, DCF diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan.

Lebih jauh, Dieng Culture Festival dapat berkembang menjadi salah satu ikon pariwisata Indonesia yang memperkenalkan kekayaan budaya dan tradisi lokal kepada wisatawan dari berbagai negara. (jud/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Bisnis Rias dan Kostum Lesu Saat Agustusan

Karnaval Agustusan Tak Semarak, Pesanan Jasa Rias dan Sewa Kostum di Banyumas Turun 30 Persen