BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Tradisi cukur rambut gimbal kembali menjadi salah satu daya tarik utama dalam gelaran Dieng Culture Festival (DCF) 2026.
Tahun ini, sebanyak 13 anak rambut gimbal mengikuti prosesi ruwatan yang digelar di kawasan Candi Arjuna, Dieng, Banjarnegara, Sabtu (29/8/2026).
Yang membuat prosesi tersebut semakin menarik perhatian wisatawan bukan hanya ritual pencukuran rambut gimbal.
Sebelum rambut mereka dicukur, setiap anak memiliki permintaan tertentu yang harus dipenuhi oleh keluarga.
Permintaan tersebut beragam, mulai dari sepeda listrik warna pink, sepeda, kambing, prosotan warna pink, hingga daster.
Keunikan tradisi tersebut membuat ribuan wisatawan rela memadati pelataran Candi Arjuna untuk menyaksikan secara langsung salah satu warisan budaya masyarakat Dieng.
Salah satu anak yang mengikuti prosesi tersebut adalah Malayka Rafana. Gadis kecil itu memiliki permintaan yang cukup spesifik sebelum rambut gimbalnya dicukur, yakni sebuah sepeda listrik berwarna pink.
“Mintanya sepeda listrik warna pink, kalau warna lain tidak mau dicukur,” kata Malayka.
Sainem, ibu Malayka, mengatakan keinginan tersebut sebenarnya sudah disampaikan sang anak sejak berusia sekitar dua tahun.
Sementara rambut gimbal pada Malayka mulai tumbuh ketika usianya baru sekitar tiga bulan.
“Ini keinginan dari anaknya, ingin ruwat cukur rambut gimbal. Permintaannya sudah dari umur dua tahun, permintaannya sepeda listrik,” ujar Sainem.
Menurut Sainem, ketika pertama kali tumbuh, rambut gimbal Malayka masih berukuran kecil dan lengket.
Saat itu, Malayka juga sempat merasakan sakit dan panas. Tidak ada anggota keluarga yang memiliki kondisi rambut serupa.
Keluarga kemudian mengikuti prosesi ruwatan dengan harapan setelah rambut gimbal dicukur, Malayka dapat tumbuh menjadi anak yang pintar, salehah, serta meraih kesuksesan di masa depan.
Malayka bukan satu-satunya anak yang memiliki permintaan unik dalam tradisi cukur rambut gimbal Dieng.
Dari 13 anak yang mengikuti prosesi ruwatan, masing-masing memiliki keinginan yang berbeda.
Ada anak yang meminta sepeda, kambing, hingga prosotan berwarna pink. Bahkan, ada pula yang meminta sebuah daster.
Bagi sebagian orang dewasa, permintaan tersebut mungkin terdengar sederhana atau bahkan tidak biasa.
Namun, bagi masyarakat yang menjalankan tradisi ini, keinginan anak menjadi bagian penting dalam rangkaian prosesi sebelum rambut gimbal dicukur.
Tradisi tersebut menjadi salah satu kekayaan budaya Dieng yang terus dipertahankan dari generasi ke generasi.
Prosesi cukur rambut gimbal tidak hanya menjadi tontonan wisata, tetapi juga memiliki makna budaya dan spiritual bagi masyarakat setempat.
Sebelum prosesi dimulai, anak-anak rambut gimbal diarak dari rumah pemangku adat menuju kawasan ritual.
Mereka mengenakan pakaian adat berwarna putih dan menaiki kereta kuda. Iring-iringan tersebut semakin meriah dengan musik dan tarian tradisional.
Setelah tiba di pelataran Candi Arjuna, anak-anak kemudian mengikuti rangkaian ritual hingga akhirnya rambut gimbal mereka dicukur.
Keunikan Dieng Culture Festival 2026 membuat tradisi cukur rambut gimbal menjadi magnet bagi wisatawan dari berbagai daerah.
Salah satunya Dita, wisatawan asal Jakarta, yang sengaja datang untuk melihat langsung prosesi tersebut.
Dita sebenarnya sudah beberapa kali mengunjungi Dieng. Namun, kesempatan menyaksikan pencukuran anak rambut gimbal secara langsung baru diperolehnya pada gelaran DCF tahun ini.
“Senang banget. Sebelumnya pernah ke Dieng, tapi setelah tahu ada Festival Dieng ini, dari lama pengin datang ke Dieng untuk melihat pencukuran anak rambut gimbal,” katanya.
Menurut Dita, pelaksanaan festival juga memberikan dampak positif bagi pelaku usaha lokal.
Banyak pelaku UMKM ikut terlibat dan menawarkan berbagai produk kepada wisatawan yang datang.
“UMKM juga banyak yang terlibat. Banyak sekali UMKM lokal yang ikut, banyak variasinya dan sangat membantu ekonomi di Dieng,” ujarnya.
Wisatawan lain, Smith, juga memberikan penilaian positif terhadap pelaksanaan DCF 2026.
Menurutnya, pengaturan alur kegiatan dan sistem pengamanan membuat wisatawan dapat menikmati rangkaian festival dengan lebih nyaman.
“Untuk Festival Dieng ini alurnya sudah cukup rapi dan cukup ketat pengamanannya, jadi masyarakat bisa ikut dengan tenang,” kata Smith.
Prosesi cukur rambut gimbal menjadi bukti bahwa kekayaan budaya lokal masih mampu menjadi daya tarik wisata.
Di tengah perkembangan pariwisata modern, tradisi masyarakat Dieng tetap memiliki ruang untuk diperkenalkan kepada generasi baru maupun wisatawan.
Bagi pengunjung, prosesi tersebut memberikan pengalaman yang berbeda karena mereka dapat menyaksikan langsung ritual budaya yang memiliki cerita di baliknya.
Sementara bagi masyarakat Dieng, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga warisan leluhur.
Setelah permintaan masing-masing anak dipenuhi, rambut gimbal kemudian dicukur melalui rangkaian prosesi ruwatan.
Setiap permintaan pun menjadi cerita tersendiri yang membuat pelaksanaan DCF 2026 semakin berkesan.
Ada anak yang menginginkan sepeda listrik pink, ada yang meminta kambing, ada yang menginginkan sepeda dan prosotan, bahkan ada yang meminta daster.
Keinginan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi anak-anak dan keluarganya memiliki arti tersendiri.
Ribuan wisatawan yang menyaksikan prosesi di Candi Arjuna pun mendapatkan gambaran mengenai bagaimana masyarakat Dieng menjaga tradisi tersebut.
Dieng Culture Festival 2026 akhirnya tidak hanya menjadi agenda wisata yang menghadirkan musik dan hiburan.
Festival ini juga menjadi ruang untuk memperkenalkan tradisi, budaya, dan kearifan lokal Dieng kepada masyarakat luas.
Tradisi cukur rambut gimbal menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian tersebut.
Di balik rambut gimbal yang dicukur, terdapat doa orang tua, harapan keluarga, serta warisan budaya yang terus dijaga.
Dengan demikian, 13 anak rambut gimbal yang menjalani ruwatan di DCF 2026 bukan sekadar menjadi pusat perhatian wisatawan.
Mereka juga menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah tradisi agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.
Bagi wisatawan, pengalaman melihat langsung prosesi tersebut menjadi kenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Sementara bagi masyarakat Dieng, setiap prosesi cukur rambut gimbal menjadi pengingat bahwa budaya lokal dapat terus bertahan ketika dirawat dan diperkenalkan secara berkelanjutan. (*/stch/dda)














