BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Memasuki musim kemarau 2026, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Purbalingga mengimbau para petani untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan kering dengan menanam berbagai komoditas palawija.
Langkah ini dinilai menjadi solusi efektif untuk menjaga produktivitas sektor pertanian sekaligus mengurangi risiko gagal panen akibat terbatasnya ketersediaan air irigasi.
Imbauan tersebut disampaikan karena kebutuhan air tanaman padi terus meningkat pada sejumlah wilayah yang saat ini memasuki fase pertumbuhan penting.
Kondisi tersebut membuat petani perlu menyesuaikan pola tanam agar lahan tetap menghasilkan meski pasokan air semakin terbatas.
Kepala Bidang Prasarana dan Sumber Daya Air (SDA) DPPP Kabupaten Purbalingga, Budi Prayitno, menjelaskan bahwa kondisi tanaman padi di setiap kecamatan tidak sama.
Perbedaan fase pertumbuhan menyebabkan kebutuhan air di masing-masing wilayah juga berbeda sehingga diperlukan strategi pengelolaan lahan yang lebih fleksibel.
Menurutnya, lahan yang mengalami keterbatasan air sebaiknya tidak dibiarkan kosong.
Petani disarankan menanam komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi kering, seperti jagung, kedelai, maupun kacang hijau.
Selain membutuhkan air lebih sedikit dibandingkan padi, tanaman palawija juga memiliki nilai ekonomi yang cukup baik sehingga dapat menjadi sumber pendapatan alternatif bagi petani selama musim kemarau.
“Lahan yang belum termanfaatkan dan kekurangan air disarankan untuk ditanami komoditas hemat air seperti jagung, kedelai, atau kacang hijau agar tetap produktif,” ujar Budi, Minggu (2/8/2026).
DPPP mencatat perkembangan tanaman padi di Kabupaten Purbalingga saat ini cukup beragam.
Di Kecamatan Karanganyar, sebagian besar sawah sudah memasuki masa menjelang panen sehingga kebutuhan air mulai berkurang.
Berbeda dengan Kecamatan Kemangkon yang kini memasuki fase mrocot atau berbunga, yaitu periode ketika tanaman padi membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar untuk mendukung pembentukan bulir padi.
Sementara itu, petani di Kecamatan Bukateja baru memulai musim tanam sehingga masih membutuhkan pasokan air secara bertahap.
Adapun sejumlah wilayah di bagian timur Kabupaten Purbalingga telah memasuki fase generatif yang juga memerlukan pengelolaan irigasi secara optimal agar hasil panen tetap maksimal.
Untuk mengatasi keterbatasan air, petani di Kecamatan Kemangkon memanfaatkan sistem irigasi perpompaan.
Melalui swadaya maupun kerja sama kelompok tani, mereka mengambil air langsung dari Sungai Serayu dan Sungai Klawing untuk mengairi lahan pertanian.
Cara tersebut menjadi solusi sementara agar tanaman padi tetap memperoleh kebutuhan air selama musim kemarau berlangsung.
“Untuk menyiasati kebutuhan air yang tinggi, petani di daerah Kemangkon saat ini mengandalkan sistem irigasi perpompaan. Mereka secara swadaya maupun melalui kelompok menyedot pasokan air langsung dari aliran Sungai Serayu atau Sungai Klawing,” jelas Budi.
Di sisi lain, wilayah selatan Kabupaten Purbalingga mulai mendapatkan tambahan suplai air dari Bendungan Slinga.
Kehadiran bendungan tersebut dinilai membantu menjaga ketersediaan air irigasi sehingga lahan pertanian tetap memperoleh pasokan air yang cukup, terutama pada musim kemarau ketika debit sungai mulai menurun.
DPPP berharap keberadaan Bendungan Slinga mampu mengurangi risiko kekeringan yang selama ini menjadi ancaman utama sektor pertanian.
Dengan distribusi air yang lebih baik, produktivitas tanaman padi diharapkan tetap terjaga hingga musim panen tiba.
Selain mengoptimalkan sistem irigasi, pemerintah juga terus mendorong petani menerapkan pola tanam yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Diversifikasi tanaman melalui budidaya palawija dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan petani.
Jagung, kedelai, dan kacang hijau dipilih karena memiliki kebutuhan air yang relatif rendah serta masa tanam yang lebih singkat dibandingkan padi.
Komoditas tersebut juga memiliki permintaan pasar yang stabil sehingga dapat menjadi alternatif usaha tani yang menguntungkan ketika kondisi air tidak memungkinkan untuk menanam padi.
Melalui berbagai upaya tersebut, DPPP Kabupaten Purbalingga berharap aktivitas pertanian tetap berjalan optimal meskipun musim kemarau masih berlangsung.
Pemerintah juga mengajak petani untuk terus berkoordinasi dengan penyuluh pertanian agar memperoleh pendampingan terkait pola tanam, pengelolaan irigasi, hingga pemilihan komoditas yang sesuai dengan kondisi lahan di masing-masing wilayah.
Dengan pemanfaatan lahan kering secara maksimal serta penerapan komoditas hemat air, sektor pertanian di Kabupaten Purbalingga diharapkan tetap produktif dan mampu mengurangi potensi kerugian akibat kekeringan sepanjang musim kemarau 2026. (alw/stch/dda)