BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda meningkat pada Selasa (25/8/2026).
Dalam periode pengamatan selama 12 jam, gunung api tersebut tercatat mengalami 42 kali gempa letusan atau erupsi.
Data aktivitas Gunung Anak Krakatau tersebut tercantum dalam laporan pemantauan yang diunggah melalui laman Magma Indonesia milik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Pengamatan dilakukan dalam dua periode, yakni pukul 00.00-06.00 WIB dan pukul 06.00-12.00 WIB.
Selain aktivitas erupsi, petugas juga mencatat ratusan gempa embusan, gempa harmonik, gempa low frequency, gempa hybrid, hingga tremor menerus.
Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih cukup tinggi sehingga masyarakat dan wisatawan diminta memperhatikan ketentuan keselamatan di sekitar kawasan gunung api.
Pada periode pengamatan pukul 00.00-06.00 WIB, Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami delapan kali gempa letusan.
Gempa letusan tersebut memiliki amplitudo 55-66 milimeter dengan durasi 71 hingga 971 detik.
Selain gempa letusan, aktivitas kegempaan GAK juga didominasi oleh gempa embusan.
Dalam enam jam pertama, petugas mencatat sebanyak 60 kali gempa embusan dengan amplitudo 12-59 milimeter dan lama gempa 10-105 detik.
Selanjutnya, terdapat enam kali gempa harmonik dengan amplitudo 45-62 milimeter dan durasi 43-757 detik.
Petugas juga mencatat tiga kali gempa low frequency dengan amplitudo 19-42 milimeter dan durasi 13-20 detik.
Aktivitas lainnya berupa 16 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 21-58 milimeter dan durasi 16-27 detik.
Pada periode tersebut juga terjadi satu kali tremor menerus dengan amplitudo 2-50 milimeter dan dominan 10 milimeter.
Aktivitas permukaan Gunung Anak Krakatau juga teramati selama periode pemantauan.
Dalam laporan Magma Indonesia disebutkan asap kawah utama terlihat berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal.
Asap tersebut teramati membubung sekitar 50-300 meter dari puncak Gunung Anak Krakatau.
Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas di permukaan gunung api masih berlangsung bersamaan dengan aktivitas kegempaan yang cukup tinggi.
Aktivitas kemudian meningkat pada periode pengamatan berikutnya.
Pada periode pukul 06.00-12.00 WIB, jumlah gempa letusan Gunung Anak Krakatau meningkat tajam.
Petugas mencatat 34 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 44-69 milimeter dan lama gempa 25-290 detik.
Dengan demikian, jika digabungkan dengan delapan gempa letusan pada periode sebelumnya, total erupsi yang tercatat selama pengamatan pukul 00.00-12.00 WIB mencapai 42 kali.
Selain gempa letusan, aktivitas kegempaan juga semakin tinggi. Tercatat 132 kali gempa embusan dengan amplitudo 13-66 milimeter dan durasi 7-21 detik.
Petugas pemantau Rioboniek Situmorang mencatat aktivitas tersebut dalam laporan yang dipublikasikan melalui laman Magma Indonesia.
Pada periode yang sama, tercatat empat kali gempa harmonik dengan amplitudo 37-61 milimeter dan durasi 17-83 detik.
Kemudian terjadi satu kali gempa low frequency dengan amplitudo 44 milimeter dan durasi 12 detik.
Aktivitas kegempaan lainnya berupa 23 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 17-53 milimeter dan durasi 7-21 detik.
Sementara itu, satu kali tremor menerus tercatat dengan amplitudo 3-60 milimeter dan dominan 20 milimeter.
Erupsi yang terjadi selama periode pengamatan juga menghasilkan semburan abu vulkanik.
Gunung Anak Krakatau dilaporkan menyemburkan abu dengan intensitas tebal hingga mencapai ketinggian 100-400 meter dari puncak.
Gunung api yang berada di perairan Selat Sunda tersebut memiliki ketinggian sekitar 157 meter di atas permukaan laut.
Aktivitas erupsi dan semburan abu menjadi perhatian karena kondisi gunung api dapat berubah sewaktu-waktu.
Gunung Anak Krakatau sendiri merupakan salah satu gunung api aktif yang berada di kawasan Selat Sunda dan memiliki sejarah aktivitas erupsi yang perlu diwaspadai.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga menjadi perhatian karena gunung tersebut pernah mengalami erupsi besar pada 2018.
Peristiwa tersebut kemudian berkaitan dengan tsunami yang melanda wilayah pesisir Selat Sunda.
Seiring meningkatnya aktivitas erupsi pada Selasa (25/8/2026), masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau.
Dalam laporan pemantauan, masyarakat maupun wisatawan dilarang mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Larangan tersebut merupakan langkah kewaspadaan untuk mengurangi risiko terhadap masyarakat maupun wisatawan yang berada di sekitar kawasan gunung api.
Dengan tercatatnya 42 kali gempa letusan dalam periode 00.00-12.00 WIB, aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian.
Pemantauan terhadap aktivitas vulkanik terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi gunung api tersebut.
Masyarakat yang berada di sekitar kawasan Selat Sunda diimbau mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang dan mematuhi seluruh ketentuan keselamatan yang diberlakukan. (*/stch/dda)