BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Harga daging sapi di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Purbalingga mengalami kenaikan setelah perayaan Iduladha 2026.
Saat ini, harga daging sapi mencapai Rp150 ribu per kilogram, atau naik Rp10 ribu dibandingkan harga sebelumnya yang berada di kisaran Rp140 ribu per kilogram.
Kenaikan harga daging sapi tersebut mulai berdampak langsung terhadap aktivitas perdagangan di pasar tradisional.
Pedagang mengaku daya beli masyarakat mengalami penurunan sehingga penjualan ikut merosot.
Kondisi ini membuat stok dagangan lebih lama terjual dan meningkatkan risiko kerugian karena daging memiliki masa simpan yang terbatas.
Salah satu pedagang daging sapi di Pasar Bukateja, Rasiyani, mengungkapkan bahwa kenaikan harga dipicu oleh terbatasnya pasokan dari pemasok.
Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan pasar, pasokan daging kini harus didatangkan dari wilayah Solo karena stok di daerah semakin sulit diperoleh.
“Stok dari pemasok memang sedang langka sehingga harus mengambil dari Solo. Hal itu membuat harga ikut naik,” ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Menurut Rasiyani, kondisi pasar setelah Iduladha berbeda dibandingkan hari-hari biasa. Selain harga daging sapi naik, jumlah pembeli juga terus berkurang.
Banyak masyarakat masih memiliki persediaan daging kurban sehingga belum memiliki kebutuhan untuk membeli daging sapi di pasar.
Di sisi lain, kebutuhan rumah tangga yang meningkat menjelang tahun ajaran baru sekolah juga memengaruhi pola belanja masyarakat.
Sebagian besar pengeluaran dialihkan untuk biaya pendidikan anak, seperti pembelian seragam, perlengkapan sekolah, hingga kebutuhan lainnya.
Tidak hanya itu, kembali beroperasinya dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga disebut menjadi salah satu faktor yang ikut memengaruhi permintaan daging di pasar tradisional.
Akibat berbagai faktor tersebut, penjualan daging sapi mengalami penurunan cukup tajam.
Jika sebelumnya Rasiyani mampu menjual sekitar tiga hingga empat kilogram daging setiap hari, kini empat kilogram daging baru dapat habis dalam waktu tiga hari.
Bahkan, pada hari-hari tertentu penjualan hanya mencapai sekitar 250 gram. Kondisi tersebut membuat sebagian stok harus disimpan di dalam freezer agar tetap layak dijual.
Namun, apabila terlalu lama tersimpan, kualitas daging akan menurun sehingga tidak dapat dipasarkan lagi.
“Kalau tidak habis saya simpan di freezer. Kadang ada juga yang akhirnya terbuang karena sudah tidak layak konsumsi,” katanya.
Rasiyani memperkirakan harga daging sapi masih berpotensi mengalami kenaikan dalam beberapa bulan mendatang apabila pasokan belum kembali normal.
Menurutnya, harga bisa mencapai sekitar Rp170 ribu per kilogram menjelang Hari Raya Idulfitri tahun depan ketika permintaan masyarakat biasanya meningkat.
Kondisi serupa juga dialami pedagang daging sapi di Pasar Badhog Bancar.
Pedagang bernama Jayanti mengatakan bahwa kenaikan harga membuat penjualan turun secara signifikan.
Sebelum harga naik, ia mampu menjual sekitar 15 hingga 20 kilogram daging sapi setiap hari.
Namun saat ini, menjual lima kilogram saja sudah menjadi tantangan karena jumlah pembeli jauh berkurang dibandingkan sebelumnya.
Turunnya daya beli masyarakat menjadi tantangan tersendiri bagi para pedagang daging sapi.
Mereka berharap pasokan kembali normal sehingga harga dapat lebih stabil dan minat masyarakat untuk membeli daging sapi kembali meningkat.
Stabilitas pasokan menjadi faktor penting dalam menjaga harga daging sapi tetap terkendali.
Jika distribusi berjalan lancar dan stok kembali mencukupi, diharapkan harga di tingkat pasar dapat kembali normal sehingga tidak membebani konsumen maupun pedagang.
Para pelaku usaha juga berharap adanya langkah untuk menjaga ketersediaan pasokan, terutama menjelang momen-momen dengan permintaan tinggi seperti Ramadan dan Idulfitri.
Dengan harga yang lebih stabil, aktivitas perdagangan di pasar tradisional diharapkan kembali bergairah dan mampu meningkatkan pendapatan para pedagang sekaligus menjaga daya beli masyarakat. (alw/stch/dda)