BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Hari pertama masuk sekolah tahun ajaran 2026/2027 menghadirkan pemandangan berbeda di SD Negeri 8 Kranji, Kecamatan Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas.
Ketika sebagian besar sekolah dasar dipenuhi antusiasme puluhan peserta didik baru, sekolah ini hanya menyambut tiga siswa baru yang mulai mengikuti kegiatan belajar di kelas 1.
Jumlah tersebut menjadikan SDN 8 Kranji sebagai sekolah dasar negeri dengan penerimaan peserta didik baru paling sedikit di Kabupaten Banyumas pada pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026.
Dari kapasitas maksimal satu rombongan belajar yang mencapai 28 siswa, hanya tiga kursi yang berhasil terisi hingga seluruh tahapan penerimaan selesai. Artinya, masih terdapat 25 kursi kosong yang belum terisi.
Meski demikian, suasana hari pertama sekolah tetap berlangsung hangat. Guru dan tenaga kependidikan tetap menyambut ketiga siswa baru dengan penuh semangat agar mereka merasa nyaman menjalani masa awal pendidikan di sekolah tersebut.
Salah satu orang tua siswa, Nur, mengaku tidak ragu menyekolahkan putrinya, Nala, di SDN 8 Kranji meskipun jumlah murid baru sangat sedikit.
Menurutnya, kondisi tersebut lebih dipengaruhi oleh minimnya jumlah anak usia sekolah yang tinggal di sekitar lingkungan sekolah.
“Karena di lingkungan sini memang tidak banyak anak usia sekolah. Mungkin karena faktor usia, akhirnya yang masuk di sini hanya tiga anak,” ujarnya.
Kepala SD Negeri 8 Kranji, Nur Laila, menjelaskan bahwa kondisi awal penerimaan siswa bahkan lebih memprihatinkan.
Saat pendaftaran SPMB online dibuka, sekolahnya hanya memperoleh satu pendaftar.
Setelah Pemerintah Kabupaten Banyumas memberikan izin pembukaan pendaftaran secara offline, jumlah siswa yang diterima akhirnya bertambah.
“Alhamdulillah ada peningkatan. Jadi total ada tujuh siswa, terdiri atas tiga murid baru kelas 1 dan empat siswa pindahan yang masuk ke kelas 2,” jelas Nur Laila.
Ia mengungkapkan, kondisi tahun ini berbeda jauh dibandingkan tahun ajaran sebelumnya.
Pada SPMB 2025, sekolah tersebut masih mampu menerima 22 siswa baru sehingga penurunan jumlah pendaftar kali ini cukup signifikan.
Menurutnya, salah satu penyebab utama menurunnya jumlah peserta didik baru adalah penerapan sistem SPMB online yang masih memerlukan proses adaptasi di tengah masyarakat.
Selain itu, sosialisasi mengenai mekanisme pendaftaran dinilai belum sepenuhnya menjangkau seluruh calon peserta didik maupun orang tua.
“Karena kebijakan baru tentu membutuhkan adaptasi. Di samping itu, kemungkinan sosialisasi mengenai SPMB online juga belum maksimal,” katanya.
Nur Laila juga menilai letak geografis sekolah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi minat masyarakat.
SDN 8 Kranji berada di kawasan yang tidak berada di jalur utama sehingga kurang terlihat dibandingkan sekolah lain.
“Lokasi sekolah kami memang agak masuk ke dalam, sehingga mungkin juga berpengaruh terhadap jumlah pendaftar,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Wahyu Adhi Febrinto, membenarkan bahwa SDN 8 Kranji menjadi sekolah dasar negeri dengan jumlah siswa baru paling sedikit di Banyumas tahun ini.
Ia menjelaskan, berdasarkan data Dinas Pendidikan, masih terdapat 61 SD negeri dan 8 SMP negeri yang belum mampu memenuhi kuota penerimaan peserta didik baru pada tahun ajaran 2026/2027.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Banyumas memberikan izin kepada sekolah-sekolah yang kuotanya belum terpenuhi agar membuka pendaftaran secara offline.
“Apabila kuota belum terpenuhi, sekolah dapat mengajukan izin kepada Bupati. Kemarin sudah diberikan izin untuk membuka pendaftaran offline,” jelasnya.
Menurut Wahyu, dari total tujuh siswa yang kini tercatat di SDN 8 Kranji, hanya tiga yang merupakan peserta didik baru kelas 1, sedangkan empat lainnya merupakan siswa pindahan yang masuk ke kelas 2.
Meski jumlah murid baru jauh di bawah kapasitas, Dinas Pendidikan memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan normal.
“Tidak ada masalah berapa pun jumlah siswanya. Yang penting satu rombongan belajar tidak melebihi ketentuan, yakni maksimal 28 siswa untuk SD dan 32 siswa untuk SMP,” tegasnya.
Panitia SPMB Dinas Pendidikan Banyumas, Purnomo Hesti Widijanto, menambahkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami mekanisme SPMB online, khususnya pada jenjang sekolah dasar.
Karena itu, Dinas Pendidikan juga menjalankan program Trilas (Anak Pasti Sekolah) untuk memastikan seluruh anak usia sekolah tetap memperoleh akses pendidikan.
Namun, hasil pembukaan pendaftaran offline belum mampu meningkatkan jumlah peserta didik secara signifikan.
Di SDN 8 Kranji hanya terdapat tambahan dua murid baru, sementara beberapa sekolah lain juga mengalami kondisi serupa.
Fenomena ini menjadi perhatian pemerintah daerah untuk terus meningkatkan sosialisasi sistem penerimaan siswa sekaligus memastikan seluruh anak di Kabupaten Banyumas tetap mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak. (dms/res/yda)