BANYUMASEKSPRES.ID, Indonesia mencatat pencapaian baru di sektor pariwisata halal. Dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) Awards 2026, Indonesia berhasil menempati posisi kedua dalam daftar destinasi ramah Muslim terbaik dunia.
Pencapaian tersebut menjadi peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Indonesia sebelumnya berada di peringkat kelima.
Sehingga posisi terbaru ini menunjukkan adanya perkembangan dalam penyediaan layanan dan fasilitas bagi wisatawan Muslim.
Dalam pemeringkatan GMTI 2026, Indonesia mengantongi skor 79. Nilai tersebut menjadi skor tertinggi yang pernah diperoleh Indonesia selama mengikuti indeks pariwisata ramah Muslim tersebut.
Kementerian Pariwisata menilai peningkatan peringkat ini dapat memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan pasar wisata Muslim global.
Potensi pasar tersebut diperkirakan terus berkembang dan dapat menjadi peluang besar bagi industri pariwisata Indonesia.
Indonesia Raih Skor Tertinggi dalam GMTI 2026
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyambut positif peningkatan posisi Indonesia dalam GMTI 2026.
Menurutnya, kenaikan tiga peringkat sekaligus menunjukkan adanya perkembangan ekosistem pariwisata ramah Muslim di Indonesia.
Selain posisi yang semakin tinggi, skor 79 yang diraih Indonesia juga menjadi pencapaian tersendiri. Nilai tersebut merupakan yang terbaik sepanjang partisipasi Indonesia dalam Global Muslim Travel Index.
Kenaikan peringkat ini tidak hanya menjadi indikator pertumbuhan pariwisata halal, tetapi juga memperlihatkan kuatnya daya saing Indonesia sebagai pilihan perjalanan bagi wisatawan Muslim internasional.
Indonesia memiliki keunggulan berupa populasi Muslim yang besar, destinasi wisata yang beragam, serta kekayaan budaya yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman wisata ramah Muslim.
GMTI Menggunakan Empat Aspek Penilaian
Peringkat destinasi dalam GMTI tidak ditentukan hanya berdasarkan jumlah fasilitas ibadah atau ketersediaan makanan halal.
Penilaian menggunakan kerangka ACES, yang terdiri dari Access, Communication, Environment, dan Services. Simak tips lakukan hal-hal seru selama perjalanan anti menguras kantong.
Keempat aspek tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam sejumlah indikator yang digunakan untuk melihat sejauh mana suatu destinasi mampu memenuhi kebutuhan wisatawan Muslim.
Pada aspek Access, misalnya, penilaian mencakup kemudahan wisatawan mencapai suatu negara. Faktor seperti konektivitas penerbangan, kebijakan visa, serta infrastruktur transportasi menjadi bagian yang diperhatikan.
Sementara itu, Communication berkaitan dengan kemampuan destinasi dalam memberikan informasi yang mudah dipahami wisatawan Muslim.
Informasi mengenai fasilitas halal, tempat ibadah, hingga kebutuhan perjalanan menjadi bagian penting dalam aspek ini.
Aspek Environment melihat kondisi lingkungan dan pengalaman perjalanan secara lebih luas. Adapun Services menilai ketersediaan berbagai layanan yang dapat menunjang kenyamanan wisatawan Muslim selama berada di destinasi.
Fasilitas Ramah Muslim Jadi Faktor Penting
Salah satu faktor yang mendukung daya tarik destinasi ramah Muslim adalah tersedianya fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan.
Fasilitas tersebut antara lain masjid atau ruang ibadah yang mudah ditemukan, pilihan makanan halal, layanan ramah Muslim di bandara, serta akomodasi yang mampu memenuhi kebutuhan wisatawan.
Selain fasilitas dasar, pengalaman wisata juga menjadi pertimbangan. Destinasi dengan atraksi yang mengangkat sejarah dan warisan budaya Islam dapat memberikan nilai tambah bagi wisatawan Muslim.
Indonesia memiliki potensi dalam aspek tersebut. Sejumlah daerah memiliki masjid bersejarah, tradisi Islam, wisata kuliner halal, hingga peninggalan sejarah yang dikembangkan sebagai bagian dari perjalanan wisata Muslim.
10 Negara dengan Destinasi Ramah Muslim Terbaik 2026
Dalam daftar GMTI 2026, Malaysia mempertahankan posisi pertama sebagai destinasi ramah Muslim terbaik dunia. Indonesia kemudian berada di peringkat kedua, disusul Arab Saudi. Berikut daftar 10 negara teratas:
- Malaysia
- Indonesia
- Arab Saudi
- Turki
- Qatar
- Uni Emirat Arab
- Bahrain
- Iran
- Kuwait
- Oman
Posisi tersebut memperlihatkan dominasi negara-negara dengan ekosistem pariwisata Muslim yang kuat. Indonesia dan Malaysia menjadi dua negara Asia Tenggara yang berhasil masuk dalam tiga besar.
Peluang Besar untuk Pariwisata Muslim Indonesia
Kenaikan Indonesia ke posisi kedua GMTI 2026 dapat menjadi momentum untuk memperluas pasar wisata Muslim internasional.
Kementerian Pariwisata melihat pasar tersebut memiliki potensi ekonomi yang besar hingga 2030. Peningkatan peringkat menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata ramah Muslim di Indonesia memberikan hasil.
Namun, pencapaian ini perlu diikuti dengan peningkatan kualitas layanan secara berkelanjutan. Mulai dari akses transportasi, informasi wisata, fasilitas ibadah, sertifikasi dan ketersediaan makanan halal, dan kualitas akomodasi terus diperkuat.
Dengan begitu, posisi Indonesia sebagai salah satu destinasi ramah Muslim terbaik dunia tidak hanya menjadi pencapaian sementara, tetapi dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Bagi industri pariwisata nasional, capaian GMTI 2026 menjadi sinyal positif semakin serius menggarap pasar wisatawan Muslim global sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi yang nyaman dan aman. (*/nds)