BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Di tengah suasana duka yang menyelimuti masyarakat, penganut Islam Alif Rebo Wage (Aboge) di Banyumas Timur tetap melaksanakan tradisi selamatan punggahan atau malam pergantian tahun pada Rabu malam tanggal 17 Juni.
Tradisi ini menjadi simbol keteguhan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur serta menandai datangnya Tahun Be menurut penanggalan Aboge.
Perayaan malam punggahan tahun ini berlangsung dua hari lebih awal dibandingkan dengan penetapan kalender pemerintah terkait pergantian Tahun Baru Islam.
Namun, masyarakat adat Aboge tetap berpegang pada sistem perhitungan penanggalan yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Dalam kesempatan tersebut, sesepuh Aboge, Tukijo Miarso, menyatakan, “Malam ini kami kaum adat Aboge melaksanakan tradisi selamatan punggahan satu Sura, menyambut datangnya tahun baru.”
Tradisi malam punggahan ini merupakan penanda berakhirnya Tahun Dal dan dimulainya Tahun Be dalam kalender Aboge.
Dalam sistem perhitungan penanggalan yang digunakan oleh komunitas ini, tanggal 1 Sura jatuh pada Kamis, 18 Juni Legi.
Perhitungan ini menjadi pedoman utama bagi masyarakat adat dalam menentukan berbagai momentum penting, termasuk pergantian tahun.
Pelaksanaan selamatan punggahan satu Sura kali ini dilakukan dengan sederhana namun tetap berlangsung penuh khidmat dan rasa syukur.
Keadaan tersebut tidak terlepas dari nuansa berkabung akibat wafatnya Ketua Adat Tarmono yang selama ini menjadi tokoh utama bagi masyarakat Aboge di wilayah Banyumas Timur.
Miarso mengungkapkan bahwa kepergian Tarmono memberikan dampak besar bagi keberlangsungan komunitas adat mereka.
“Kami bingung juga sepeninggal Ketua Adat. Sebelum Islam masuk, adat istiadat kejawen sudah lebih dulu berjalan,” ujarnya.
Dalam pandangan Miarso, malam punggahan tahun ini sekaligus menjadi momen penting untuk memperkuat tekad bersama dalam menjaga tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur.
“Malam punggahan ini sekaligus menjadi momentum komitmen bersama untuk meneruskan perjuangan almarhum,” tuturnya lebih lanjut.
Komitmen tersebut diharapkan dapat menjadi langkah signifikan agar adat dan budaya yang selama ini dijaga tidak terputus oleh pergantian generasi.
Sebagai bentuk keberlanjutan kepemimpinan dalam komunitas adat Aboge, telah dilakukan pergantian pemimpin setelah musyawarah dan kesepakatan bersama.
Sujarwo Kasmiharjo terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Adat Sela Kembang yang baru.
Prosesi kawilujengan pada malam punggahan diikuti dengan penuh kekhusyukan oleh para penganut Islam Aboge.
Berbagai doa dan harapan dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk menjalani kehidupan yang lebih baik pada Tahun Be.
“Intinya memohon keselamatan dan keberkahan. Kita kaum adat semangat masih selalu ada, mudah-mudahan bisa berjalan terus dalam menjaga warisan leluhur,” harap Miarso menegaskan komitmen kolektif masyarakat untuk meneruskan tradisi yang telah ada sejak lama meski harus menghadapi kehilangan sosok pemimpin yang selama ini menjadi panutan.
Tradisi selamatan punggahan satu Sura bukan hanya sekadar acara ritual belaka, tetapi juga merupakan momen refleksi bagi masyarakat untuk merenungkan perjalanan mereka sebagai komunitas.
Dalam setiap doa yang dipanjatkan, terdapat harapan akan masa depan yang lebih cerah, serta keinginan untuk terus melestarikan nilai-nilai budaya dan spiritual yang telah membentuk identitas mereka selama bertahun-tahun.
Masyarakat Aboge menunjukkan ketahanan mereka dalam menghadapi tantangan dengan tetap mengikuti tradisi walaupun dalam suasana duka.
Ini mencerminkan bagaimana warisan budaya dapat menjadi sumber kekuatan bagi sebuah komunitas untuk bertahan dan berkembang meskipun harus menghadapi perubahan atau kehilangan yang signifikan.
Pentingnya tradisi ini tidak hanya dirasakan oleh anggota komunitas Aboge sendiri tetapi juga memiliki makna mendalam bagi generasi mendatang.
Dengan melestarikan tradisi seperti malam punggahan, mereka berusaha menanamkan nilai-nilai kebersamaan dan saling menghormati di antara generasi muda agar tidak kehilangan jejak sejarah dan identitas budaya mereka. (*/stch/dda)