Iklan

Karhutla Gunung Semeru Meluas hingga 600 Hektare, Water Bombing Terkendala Angin Kencang

Iklan

BANYUMASEKSPRES.ID, SURABAYA – Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di kawasan Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, masih dalam penanganan tim gabungan.

Upaya pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan udara menggunakan metode water bombing.

Namun, operasi pemadaman dari udara menghadapi kendala serius berupa angin kencang.

Kondisi tersebut tidak hanya membuat api lebih cepat menjalar, tetapi juga menyulitkan helikopter saat menjatuhkan air ke lokasi kebakaran.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, mengatakan masih terdapat sedikitnya dua titik api yang aktif di kawasan Gunung Semeru. Kedua lokasi tersebut berada di sekitar Ranu Kumbolo dan Ranu Pane B29.

“Kendala di lokasi adalah angin yang kencang. Selain membuat api cepat menjalar, operasi water bombing juga terkendala, akibat hempasan angin,” kata Gatot, Kamis (3/9/2026).

Dua titik kebakaran yang masih menyala berada di kawasan yang memiliki medan cukup sulit.

Lokasi yang jauh, curam, serta sulit diakses dari jalur darat membuat penanganan kebakaran membutuhkan strategi khusus.

Karena itu, pemadaman melalui udara menjadi salah satu upaya yang dilakukan untuk menjangkau kawasan yang sulit didatangi tim melalui jalur darat.

Meski menghadapi kendala angin, operasi water bombing Gunung Semeru tetap dilakukan.

Helikopter PK-DAP milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang didatangkan dari Lampung mulai menjalankan operasi tersebut pada Rabu (2/9).

Pemadaman dari udara dilakukan di kawasan bagian barat Pos 1 Pendakian, tepatnya di tebing punggungan Desa Ranupane, Kecamatan Senduro.

Helikopter PK-DAP yang digunakan dalam operasi tersebut memiliki bucket berkapasitas 1.000 liter air.

Hingga pukul 12.00 WIB, helikopter telah melakukan water bombing sebanyak 21 kali di lokasi tersebut.

Total air yang telah dijatuhkan untuk membantu pemadaman mencapai 21.000 liter.

Operasi water bombing diharapkan dapat membantu mengurangi titik api sekaligus memperlambat penyebaran kebakaran di kawasan Gunung Semeru.

Namun, kondisi angin yang masih kencang membuat operasi udara harus dilakukan dengan memperhatikan faktor keselamatan penerbangan.

Selain mengandalkan helikopter, tim gabungan juga terus melakukan penanganan melalui jalur darat.

Tim di lapangan melakukan pemadaman secara manual di lokasi yang dapat dijangkau.

Mereka juga membuat sekat bakar untuk menghentikan atau memperlambat perambatan api.

Pembuatan sekat bakar menjadi bagian penting dalam upaya mencegah kebakaran meluas ke area lain, termasuk kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga.

Dengan kombinasi pemadaman darat dan water bombing, tim gabungan berupaya mengendalikan karhutla di kawasan Gunung Semeru.

Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalop) BPBD Jawa Timur, luas lahan yang terdampak kebakaran Gunung Semeru hingga saat ini mencapai sekitar 600 hektare.

Besarnya area yang terdampak membuat proses pemadaman membutuhkan waktu dan koordinasi antarinstansi.

Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan operasi.

Angin kencang dapat mempercepat penyebaran api sekaligus membuat proses water bombing menjadi lebih sulit.

Karena itu, BPBD Jawa Timur berharap kondisi cuaca segera membaik sehingga operasi pemadaman melalui udara dapat dilakukan secara lebih optimal.

“Semoga cuacanya lebih mendukung, karena angin yang kencang mempengaruhi keamanan unit helikopter saat melakukan operasi water bombing,” harap Gatot.

Penanganan karhutla di kawasan Gunung Semeru masih terus dilakukan dengan mengerahkan sumber daya melalui jalur darat maupun udara.

Helikopter BNPB menjadi salah satu sarana penting untuk membantu pemadaman di kawasan yang sulit dijangkau, sementara tim darat berupaya memadamkan api secara manual sekaligus membuat sekat bakar.

Dengan luas lahan terdampak yang mencapai sekitar 600 hektare dan masih adanya dua titik api, penanganan kebakaran membutuhkan kewaspadaan tinggi.

Tim gabungan juga harus memperhitungkan kondisi angin untuk memastikan operasi pemadaman berjalan efektif sekaligus menjaga keselamatan petugas dan awak helikopter.

Pemerintah berharap perubahan kondisi cuaca dapat mendukung proses pemadaman sehingga penyebaran karhutla di kawasan Gunung Semeru dapat segera dikendalikan. (*/stch/dda)

Iklan