BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Tingkat konsumsi ikan masyarakat Kabupaten Purbalingga masih menjadi perhatian pemerintah daerah.
Data terbaru menunjukkan, konsumsi ikan Purbalingga baru mencapai sekitar 9,6 kilogram per kapita per tahun.
Angka tersebut masih jauh di bawah rata-rata konsumsi ikan di Jawa Tengah yang mencapai 16,32 kilogram per kapita per tahun.
Kondisi tersebut membuat Pemerintah Kabupaten Purbalingga berupaya meningkatkan produksi perikanan darat sekaligus mendorong masyarakat agar lebih banyak mengonsumsi ikan.
Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat ketahanan pangan daerah dan mendukung program swasembada protein nasional.
Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DPPP) Purbalingga, Hafidhah Khusniyati, mengatakan keterbatasan wilayah pesisir menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan produksi maupun konsumsi ikan di Purbalingga.
Meski tidak memiliki wilayah laut, masyarakat Purbalingga sebenarnya sudah cukup familiar dengan berbagai jenis ikan laut. Beberapa di antaranya adalah ikan tongkol, ikan asin, dan pindang.
“Apalagi dibanding wilayah pesisir, jadi yang bisa kita genjot ialah perikanan darat. Meski tidak ada laut, konsumsi ikan laut di masyarakat kita sebenarnya terbilang familiar, seperti ikan tongkol, ikan asin, dan pindang,” jelas Hafidhah, Jumat (28/8/2026).
Jika dibandingkan dengan rata-rata Jawa Tengah, terdapat selisih cukup besar dalam tingkat konsumsi ikan Purbalingga.
Dengan konsumsi 9,6 kilogram per kapita per tahun, masyarakat Purbalingga masih tertinggal sekitar 6,72 kilogram per kapita per tahun dari rata-rata konsumsi ikan Jawa Tengah.
Pemerintah Kabupaten Purbalingga menargetkan konsumsi ikan dapat meningkat setidaknya 10 persen dari angka saat ini.
Namun, angka target tersebut masih akan disesuaikan karena terdapat perubahan dalam sistem perhitungan konsumsi ikan.
Peningkatan konsumsi ikan tidak hanya berkaitan dengan sektor pangan. Pemerintah juga melihatnya sebagai bagian dari upaya meningkatkan asupan protein masyarakat.
Ikan merupakan salah satu sumber protein yang dapat dikembangkan dari potensi lokal.
Karena itu, peningkatan produksi ikan konsumsi di Purbalingga diharapkan dapat berjalan beriringan dengan kampanye peningkatan konsumsi ikan.
Karena Purbalingga tidak memiliki garis pantai, perikanan darat Purbalingga menjadi sektor yang dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan.
Salah satu langkah yang dilakukan DPPP Purbalingga adalah menyalurkan bantuan ratusan ribu benih ikan lele kepada sejumlah Kelompok Pembudidaya Ikan atau Pokdakan.
Bantuan benih ikan tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pembudidaya sekaligus menambah ketersediaan ikan konsumsi di pasar lokal.
Pengembangan budidaya ikan air tawar juga memiliki manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Semakin berkembang produksi ikan, semakin besar pula peluang pembudidaya mendapatkan pendapatan dari sektor perikanan.
Dengan demikian, program peningkatan produksi ikan Purbalingga tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan para pembudidaya ikan.
Lele menjadi salah satu komoditas yang mendapatkan perhatian dalam pengembangan budidaya ikan air tawar di Purbalingga.
Penyaluran benih kepada Pokdakan diharapkan dapat memperkuat produksi ikan konsumsi dari tingkat kelompok masyarakat.
Peningkatan produksi tersebut menjadi penting karena pemerintah ingin memperkecil kesenjangan antara ketersediaan ikan dengan kebutuhan konsumsi masyarakat.
Namun, Hafidhah menegaskan bahwa peningkatan produksi saja tidak cukup. Masyarakat juga perlu didorong agar semakin terbiasa mengonsumsi ikan sebagai bagian dari pola makan sehari-hari.
Dengan konsumsi yang saat ini baru mencapai 9,6 kilogram per kapita per tahun, masih terdapat ruang yang cukup besar untuk meningkatkan konsumsi ikan di Purbalingga.
Pengembangan sektor perikanan Purbalingga juga diarahkan untuk memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Kelompok pembudidaya ikan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas melalui bantuan benih serta pendampingan yang diberikan pemerintah.
Jika produksi ikan lokal meningkat, kebutuhan masyarakat terhadap ikan konsumsi dapat semakin banyak dipenuhi dari hasil budidaya daerah sendiri.
Kondisi tersebut berpotensi menciptakan rantai ekonomi yang lebih kuat, mulai dari pembenihan, pembesaran ikan, distribusi, hingga perdagangan ikan konsumsi.
Pemerintah daerah juga perlu mengiringi peningkatan produksi dengan edukasi mengenai manfaat konsumsi ikan.
Langkah tersebut penting agar peningkatan produksi ikan di Purbalingga benar-benar diikuti dengan kenaikan permintaan masyarakat.
Pada akhirnya, strategi meningkatkan konsumsi ikan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
Pemerintah, pembudidaya, pedagang, hingga masyarakat memiliki peran dalam membangun budaya konsumsi ikan yang lebih tinggi.
Dengan optimalisasi perikanan darat Purbalingga, bantuan benih ikan lele, serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya protein, pemerintah berharap angka konsumsi ikan dapat terus meningkat.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi Purbalingga dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan pembudidaya, dan mendukung agenda swasembada protein nasional. (alw/stch/dda)