Iklan

Krisis Air Bersih Meluas di Barlingmascakeb, Ribuan Warga Terdampak Kekeringan

Iklan

BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Dampak dari musim kemarau yang berkepanjangan semakin dirasakan oleh masyarakat di wilayah Barlingmascakeb, menciptakan krisis air bersih yang meluas.

Ribuan warga di Kabupaten Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga, hingga Cilacap kini berjuang untuk mendapatkan air bersih.

Keadaan ini diperburuk dengan sumur yang mulai mengering dan debit mata air yang semakin menyusut, yang memaksa warga mengantre berjam-jam demi memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Dalam situasi sulit ini, masyarakat semakin bergantung pada bantuan dropping air bersih yang disalurkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Di Kabupaten Banyumas, BPBD telah memulai upaya dropping air bersih di dua lokasi terdampak, yakni Kelurahan Sokanegara di Kecamatan Purwokerto Timur dan Desa Tamansari di Kecamatan Karanglewas.

Hingga Selasa (30/6), sebanyak 574 kepala keluarga atau sekitar 1.705 jiwa telah terdampak oleh kekeringan yang parah ini.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyumas Abdul Ladjis melaporkan bahwa sampai saat ini, BPBD telah menyalurkan total 20 ribu liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga setempat.

Menurut Abdul, meskipun dropping air bersih sudah dilakukan di dua lokasi tersebut, potensi meluasnya kekeringan tetap terus dipantau.

BPBD baru saja menerima laporan mengenai ancaman krisis air bersih di Desa Karanglewas, Kecamatan Jatilawang.

“Hari ini ada perkembangan baru. Laporan masuk dari Desa Karanglewas, Kecamatan Jatilawang. Saat ini tim sedang melakukan kaji cepat di lapangan,” ungkapnya.

Abdul menambahkan bahwa bantuan belum dikirim ke lokasi tersebut karena petugas masih memastikan kesiapan turen atau tempat penampungan air.

“Kami belum melakukan dropping air ke sana karena tim sedang melihat dan memantau kesiapan turen atau tempat penampungan air di lokasi terlebih dahulu,” jelasnya.

Kondisi yang lebih memprihatinkan dialami oleh warga Desa Kaliajir, Kecamatan Purwanegara di Kabupaten Banjarnegara.

Sejak April 2026, sebanyak 812 kepala keluarga mulai merasakan dampak kekeringan yang parah.

Sumur-sumur warga mengering sehingga mereka kini terpaksa bergantung pada mata air yang berada di hulu Sungai Kalisapi, namun debit mata air tersebut juga terus menyusut.

Setiap hari, warga harus berjalan lebih dari satu kilometer untuk mengambil air bersih.

Mereka bahkan rela mengantre selama berjam-jam karena jumlah air yang keluar semakin sedikit.

Seorang warga Dusun Bulukuning bernama Eni Nur Aini mengungkapkan bahwa keluarganya sepenuhnya mengandalkan mata air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, hingga air minum.

“Untuk kebutuhan sehari-hari mulai dari mandi, mencuci sampai air minum semuanya mengambil dari sini. Tapi sekarang airnya juga mulai surut jadi harus antre,” keluhnya.

Eni menjelaskan bahwa ia memilih datang sejak pagi agar tidak terlalu lama mengantre. Namun terkadang aktivitas mencuci baru selesai menjelang pukul 11.00 WIB.

“Kalau mata air ini sampai kering kami harus turun lagi ke Sungai Kalisapi yang jaraknya lebih jauh. Harapannya ada bantuan air bersih supaya warga tidak kesulitan seperti sekarang,” harap Eni.

Keluhan serupa juga disampaikan oleh Sarom, seorang warga lainnya. Ia harus datang selepas Subuh untuk mendapatkan air minum karena aliran air hanya berupa tetesan kecil.

“Dalam sehari saya bisa ambil dua sampai tiga jeriken untuk kebutuhan minum tiga keluarga,” jelas Sarom dengan nada penuh harapan meski situasi sulit ini sudah berlangsung cukup lama.

Kepala Desa Kaliajir Zaenal Arifin menyatakan bahwa kekeringan tahun ini berdampak pada 812 KK yang tersebar di wilayah Kadus 3 dan Kadus 4.

Mayoritas warga sebenarnya memiliki sumur sendiri tetapi tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan mereka selama musim kemarau ini.

“Kalau sumur sudah kering warga biasanya mengambil dari sumber-sumber air di sungai kecil. Kalau sumber itu nanti ikut mengering baru mereka mengambil air ke Sungai Kalisapi,” ungkap Zaenal.

Pemerintah desa setempat tidak tinggal diam dan telah mengajukan permohonan distribusi bantuan air bersih kepada BPBD, Palang Merah Indonesia (PMI), serta PDAM dan relawan lainnya.

Selain itu, desa juga mulai menyiapkan beberapa titik tandon agar distribusi dapat dilakukan langsung saat bantuan datang.

“Dalam waktu dekat kami akan mengumpulkan warga untuk menyiapkan tandon penampungan air di beberapa titik agar penyaluran dapat langsung dilakukan saat bantuan tiba,” kata Zaenal.

Menghadapi puncak musim kemarau tahun ini, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara meningkatkan langkah antisipasi dengan menambah anggaran operasional distribusi air bersih sebesar Rp600 juta untuk memastikan bahwa kebutuhan akan pasokan tetap terpenuhi selama masa siaga darurat kekeringan selama tiga bulan ke depan.

Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara Aji Piluroso menjelaskan bahwa tambahan anggaran tersebut sangat penting setelah sisa anggaran BBM armada tangki hanya sekitar Rp29 juta sebelum penambahan tersebut dilakukan.

“Alhamdulillah Bupati langsung merespons dengan menambah anggaran kecukupan BBM sehingga mudah-mudahan kebutuhan selama tiga bulan masa siaga darurat dapat tercukupi,” jelas Aji dengan penuh harapan bahwa langkah-langkah preventif dapat menjaga ketersediaan pasokan air bersih bagi masyarakat.

BPBD memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada bulan Juli hingga Agustus sesuai dengan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Untuk menghadapi kemungkinan meluasnya kekeringan tersebut, empat armada mobil tangki disiapkan bekerja sama dengan PMI serta berbagai instansi terkait dan relawan lokal dalam upaya membantu masyarakat.

Pada saat ini distribusi bantuan baru dilakukan di Desa Serang dan Gemuruh sementara di desa lain masih menunggu kesiapan desa dalam menyiapkan tempat penampungan atau tandon agar distribusi dapat berjalan lancar tanpa kendala lebih lanjut.

Di Kabupaten Cilacap sendiri juga merasakan dampak dari krisis kekeringan yang meluas ini.

BPBD setempat telah menyalurkan bantuan air bersih ke Desa Cinangsih di Kecamatan Gandrungmangu serta Desa Cimrutu di Kecamatan Patimuan dengan total sebanyak 190 kepala keluarga atau 485 jiwa mengalami kesulitan dalam memperoleh akses terhadap sumber daya vital ini akibat menurunnya debit sumber-sumber mata air mereka.

Kepala Pelaksana BPBD Cilacap Taryo mengatakan bahwa bantuan disalurkan setelah tim melakukan asesmen lapangan dan berkoordinasi dengan pemerintah desa terkait kebutuhan mendesak masyarakat setempat.

“Setelah menerima laporan kami langsung berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk menyalurkan bantuan kepada warga yang membutuhkan,” ungkap Taryo sembari menjelaskan bahwa volume bantuan disesuaikan dengan permintaan masing-masing desa berdasarkan kondisi aktual yang ada.

BPBD akan terus memantau perkembangan situasi kekeringan secara berkala untuk memastikan bahwa jika debit sumber-sumber mata air belum kembali normal maka distribusi bantuan akan dilanjutkan sesuai kebutuhan mendesak masyarakat setempat.

“Kita akan selalu memantau kondisi serta memetakan dampak kemarau panjang sambil bekerja sama dengan stakeholder dalam memberikan bantuan dropping air bersih,” pungkas Taryo.

Sebelumnya dampak kemarau juga dirasakan lebih awal oleh masyarakat Kabupaten Purbalingga yang hingga kini masih rutin mendistribusikan sekitar 20 ribu liter air bersih ke desa-desa seperti Kutabawa dan Serang di Kecamatan Karangreja dimana sebanyak 98 kepala keluarga atau sekitar 390 jiwa bergantung pada pasokan tersebut setelah sumber mata air utama Tuk Sikopyah rusak akibat longsor dan banjir bandang beberapa waktu lalu.

Kepala Pelaksana BPBD Purbalingga Revon Haprindiat menjelaskan bahwa masyarakat belum bisa menggunakan sumber-sumber mata air secara normal sehingga mereka masih tergantung pada dropping dari BPBD.

“Warga menggantungkan pasokan dari dropping yang dilakukan oleh BPBD Kabupaten Purbalingga,” ujarnya menyiratkan betapa seriusnya situasi krisis ini bagi masyarakat setempat.

Dengan semakin meluasnya dampak kekeringan di empat kabupaten tersebut menjadi sinyal nyata bahwa efek musim kemarau kini dirasakan lebih luas oleh masyarakat Barlingmascakeb secara keseluruhan. (zet/stch/dda)

Iklan