Iklan

Kualitas Udara Kalteng Memburuk, 3.734 Warga Terserang ISPA Akibat Karhutla

Iklan

BANYUMASEKSPRES.ID, PALANGKARAYA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) masih menjadi perhatian serius.

Dalam sepekan, sebanyak 3.734 warga Kalteng tercatat terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang terjadi di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk akibat karhutla.

Data Pengelola Program Krisis Kesehatan/Bencana Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalteng menunjukkan, kasus ISPA tersebut tercatat selama periode 17 hingga 23 Agustus 2026. Dari ribuan kasus tersebut, sebanyak 50 pasien harus menjalani rawat inap.

Kondisi tersebut menunjukkan dampak kabut asap tidak hanya terlihat dari luas lahan yang terbakar, tetapi juga mulai dirasakan masyarakat melalui gangguan kesehatan.

Paparan asap dalam kondisi kualitas udara yang buruk dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama pada kelompok masyarakat yang rentan.

Dari sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah, Kota Palangka Raya menjadi daerah dengan kasus ISPA terbanyak selama periode tersebut.

Tercatat sebanyak 695 kasus ISPA terjadi di Palangka Raya. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan kabupaten/kota lain yang masuk dalam pendataan Dinkes Kalteng.

Selanjutnya, kasus ISPA tercatat cukup tinggi di beberapa wilayah lainnya. Kotawaringin Timur mencatat 435 kasus, disusul Kotawaringin Barat sebanyak 427 kasus.

Sementara itu, Barito Timur mencatat 369 kasus dan Barito Selatan sebanyak 318 kasus.

Adapun wilayah dengan jumlah kasus terendah dalam data tersebut adalah Sukamara, yakni 45 kasus.

Meski jumlah penderita masih mencapai ribuan, angka tersebut sedikit menurun dibandingkan periode sebelumnya.

Pada periode 10-16 Agustus 2026, Dinkes Kalteng mencatat sebanyak 3.874 kasus ISPA. Dengan demikian, jumlah kasus pada periode 17-23 Agustus turun sekitar 140 kasus.

Pada periode sebelumnya, kasus harian tertinggi bahkan mencapai 813 penderita dalam satu hari, tepatnya pada 10 Agustus.

Persoalan kesehatan tersebut berlangsung ketika kualitas udara di sejumlah wilayah Kalteng masih mengkhawatirkan.

Berdasarkan pemantauan Air Quality Index (AQI) per 23 Agustus, tiga wilayah masuk kategori sangat tidak sehat.

Ketiganya adalah Gunung Mas dengan angka AQI 227, Murung Raya 211, dan Katingan 205.

Selain tiga wilayah tersebut, sejumlah daerah juga masuk kategori tidak sehat. Wilayah yang tercatat berada dalam kategori tersebut antara lain Barito Selatan, Kotawaringin Timur, Barito Utara, dan Lamandau.

Sementara Palangka Raya dan Pulang Pisau berada dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Kotawaringin Barat berada dalam kategori sedang. Sedangkan Seruyan menjadi satu-satunya wilayah yang tercatat memiliki kualitas udara baik dalam pemantauan tersebut.

Kondisi kualitas udara ini menjadi perhatian karena kabut asap dapat mengganggu aktivitas masyarakat.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu perlu mendapatkan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.

Kabut asap yang semakin pekat juga berdampak terhadap kebutuhan logistik kesehatan.

Sejumlah kebutuhan seperti masker anak dan dewasa, vitamin, obat-obatan untuk ISPA, hingga oksigen medis menjadi bagian dari kebutuhan yang harus disiapkan dalam menghadapi dampak karhutla.

Namun, distribusi kebutuhan kesehatan tersebut disebut belum merata.

Situasi ini menjadi tantangan tersendiri karena penanganan karhutla tidak hanya membutuhkan upaya pemadaman api.

Dampak kesehatan masyarakat juga membutuhkan penanganan dan dukungan logistik yang memadai.

Semakin luas wilayah yang terdampak asap, semakin besar pula kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Di sisi lain, kebakaran hutan dan lahan di Kalteng masih terus ditangani.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalteng Ahmad Toyib mengatakan, hingga 26 Agustus 2026 pukul 10.00 WIB, tercatat 30 kejadian fire spot, termasuk lima kejadian lanjutan.

Total luas lahan yang terbakar mencapai 43,53 hektare.

“Dari keseluruhan kejadian tersebut, sebanyak 21 titik berhasil dipadamkan, sementara 14 titik lainnya masih dalam proses pemadaman,” beber Ahmad Toyib, Rabu (26/8).

Selain fire spot, jumlah hotspot yang terpantau juga cukup tinggi. Akumulasinya mencapai 1.862 titik.

Dari jumlah tersebut, dua titik berada pada tingkat kepercayaan rendah, 1.845 titik pada tingkat kepercayaan sedang, dan 15 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi.

Seruyan tercatat memiliki enam fire spot yang seluruhnya telah berhasil dipadamkan.

Luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 10,5 hektare, dengan 82 hotspot tingkat kepercayaan sedang.

Sementara itu, Palangka Raya mencatat lima fire spot, termasuk tiga kejadian lanjutan.

Dari titik tersebut, satu berhasil dipadamkan dan tujuh lainnya masih belum padam. Luas lahan yang terdampak mencapai 0,98 hektare, dengan 344 hotspot medium.

Di Kotawaringin Barat, terdapat empat fire spot. Tiga titik telah padam dan satu lainnya masih belum padam. Luas lahan terbakar mencapai 9,5 hektare, dengan 16 hotspot medium.

Kapuas mencatat tiga fire spot yang seluruhnya masih dalam proses penanganan. Luas lahan terbakar di wilayah tersebut mencapai sekitar empat hektare.

Selain itu, Kapuas memiliki dua hotspot dengan tingkat kepercayaan rendah, 425 hotspot medium, dan delapan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Murung Raya juga mencatat tiga fire spot, tetapi seluruhnya telah berhasil dipadamkan.

Luas lahan terbakar mencapai 3,27 hektare dengan dua hotspot medium. Kotawaringin Timur mencatat tiga fire spot, termasuk satu kejadian lanjutan.

Data mencatat tiga titik padam dan satu titik belum padam, dengan luas lahan terbakar 1,84 hektare. Wilayah tersebut juga memiliki 477 hotspot medium dan dua hotspot high.

Lamandau mencatat dua fire spot yang seluruhnya telah padam. Luas lahan terbakar mencapai 1,06 hektare dengan 17 hotspot medium.

Sementara itu, Barito Timur, Gunung Mas, dan Sukamara masing-masing mencatat satu fire spot yang seluruhnya telah berhasil dipadamkan.

Luas lahan terbakar di Barito Timur mencapai dua hektare dengan 11 hotspot medium.

Gunung Mas mencatat 2,38 hektare dengan 93 hotspot medium, sedangkan Sukamara mencapai lima hektare dengan 61 hotspot medium dan dua hotspot high.

Pulang Pisau mencatat satu fire spot lanjutan yang mencakup dua titik belum padam.

Luas lahan yang terbakar mencapai tiga hektare, dengan 145 hotspot medium dan dua hotspot high.

Untuk wilayah yang tidak mencatat fire spot, Barito Selatan memiliki 73 hotspot medium.

Katingan memiliki 95 hotspot medium dan satu hotspot high, sedangkan Barito Utara mencatat empat hotspot medium.

Ahmad Toyib menegaskan, data luas lahan yang terbakar tersebut dihitung berdasarkan kejadian baru.

“Seluruh data luasan karhutla tersebut dihitung berdasarkan kejadian baru dan bukan dari kejadian lanjutan,” bebernya.

Rangkaian data tersebut menunjukkan bahwa ancaman karhutla di Kalteng masih belum sepenuhnya berakhir.

Di tengah musim kemarau, munculnya titik api dan hotspot perlu terus dipantau untuk mencegah kebakaran meluas.

Dampak karhutla juga tidak berhenti pada kerusakan lahan. Kabut asap yang ditimbulkan dapat mengganggu kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan masyarakat.

Dengan 3.734 kasus ISPA dalam satu pekan, penanganan karhutla sekaligus perlindungan kesehatan masyarakat menjadi dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Upaya pemadaman, pemantauan kualitas udara, distribusi logistik kesehatan, serta kewaspadaan masyarakat menjadi bagian penting selama kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Tengah. (*/stch/dda)

Iklan