Iklan

Kunjungan Belum 1 Persen, Zona 2 Dieng Banjarnegara Disiapkan Jadi Destinasi Alternatif

Iklan

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Kawasan Zona 2 Dieng, Banjarnegara, masih belum banyak dikunjungi wisatawan.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Banjarnegara mencatat, jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan tersebut belum mencapai 1 persen dari total kunjungan wisatawan ke Dieng.

Kondisi tersebut cukup kontras dengan potensi wisata alam yang dimiliki Zona 2.

Kawasan ini memiliki sejumlah destinasi dengan karakter alam yang relatif masih terjaga, mulai dari Telaga Merdada, Telaga Dringo, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka hingga Telaga Sewiwi.

Pemerintah Kabupaten Banjarnegara kini mulai menyiapkan strategi pengembangan kawasan tersebut.

Pengembangan Zona 2 tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga menjadi alternatif wisata ketika kawasan Zona 1 mengalami kepadatan.

Kondisi kepadatan biasanya semakin terasa saat periode libur panjang maupun ketika berlangsungnya Dieng Culture Festival (DCF).

Dengan mengembangkan destinasi di Zona 2, pemerintah berharap konsentrasi wisatawan di satu kawasan dapat lebih tersebar.

Kepala Disparbud Banjarnegara Tursiman mengatakan, Zona 2 memiliki potensi besar karena kondisi lingkungannya masih relatif alami.

Berbeda dengan sejumlah titik wisata populer di Zona 1 yang sudah menjadi tujuan utama wisatawan, kawasan Zona 2 masih menawarkan suasana yang lebih tenang.

Potensi tersebut menjadi salah satu modal pemerintah untuk mengembangkan destinasi baru tanpa menghilangkan karakter alam yang menjadi daya tariknya.

“Disparbud telah menyiapkan konsep perencanaan pengembangan untuk destinasi di Zona 2,” kata Tursiman, Kamis (10/9/2026).

Pengembangan tersebut akan dilakukan secara bertahap. Pemerintah tidak ingin mengejar peningkatan kunjungan dengan membangun fasilitas secara masif, tetapi tetap mempertimbangkan aspek lingkungan dan keberlanjutan kawasan.

Langkah awal dilakukan dengan pembenahan sejumlah destinasi, termasuk Telaga Merdada dan Telaga Sewiwi.

Pembersihan dan penataan kawasan menjadi bagian dari upaya meningkatkan daya tarik destinasi sekaligus menyiapkan kawasan sebelum pengembangan lebih lanjut.

Salah satu perhatian utama Pemkab Banjarnegara adalah menjaga karakter alam Zona 2 Dieng.

Pemerintah menyadari bahwa peningkatan kunjungan wisatawan berpotensi mendorong pembangunan fasilitas secara berlebihan.

Jika tidak dikendalikan, pembangunan penginapan maupun fasilitas wisata dapat mengurangi lahan hijau dan pertanian yang selama ini menjadi bagian dari lanskap kawasan Dieng.

Karena itu, pemerintah menyiapkan konsep homestay berbasis konservasi.

Skema tersebut diarahkan agar wisatawan dapat menginap di rumah warga, bukan mendorong pembangunan akomodasi baru secara masif.

Melalui konsep tersebut, wisatawan tidak hanya mendapatkan tempat menginap, tetapi juga memiliki kesempatan mengenal kehidupan masyarakat lokal dan kebudayaan setempat.

Pemerintah menilai konsep homestay berbasis masyarakat dapat menjadi jalan tengah antara kebutuhan akomodasi wisatawan dengan kepentingan menjaga lingkungan.

Dengan demikian, pertumbuhan pariwisata di Zona 2 diharapkan tetap memberikan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan lahan hijau maupun kawasan pertanian.

Pemkab Banjarnegara juga tidak ingin pengembangan Zona 2 hanya berorientasi pada pembangunan fisik.

Keterlibatan masyarakat lokal menjadi salah satu bagian penting dalam strategi tersebut.

Disparbud melakukan penguatan kapasitas masyarakat melalui pembinaan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

“Kami juga melakukan penguatan kapasitas masyarakat. Pendekatan kelembagaan ini dilakukan dengan membina Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan BUMDes sebagai mitra utama,” ujar Tursiman.

Pelibatan masyarakat dinilai penting agar warga sekitar tidak hanya menjadi penonton dari perkembangan pariwisata.

Dengan keterlibatan Pokdarwis dan BUMDes, aktivitas ekonomi yang muncul dari pengembangan destinasi diharapkan dapat memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat desa.

Pengelolaan destinasi juga diharapkan lebih sesuai dengan karakter dan kebutuhan masyarakat setempat.

Strategi tersebut sejalan dengan tujuan Pemkab Banjarnegara untuk menjadikan pengembangan Zona 2 sebagai bagian dari pemerataan manfaat ekonomi pariwisata.

Selain mengandalkan pengelolaan berbasis masyarakat, pemerintah juga membuka peluang kemitraan dengan investor, khususnya untuk pengembangan fasilitas pendukung di kawasan Telaga Sewiwi.

Namun, peluang investasi tersebut tetap akan diarahkan melalui konsep pembangunan yang memperhatikan daya dukung lingkungan.

Pembangunan fasilitas wisata harus mempertimbangkan keselamatan pengunjung serta potensi kebencanaan yang terdapat di kawasan Dieng. Artinya, investasi tidak akan dilepaskan dari aspek keamanan dan konservasi.

Pemerintah ingin fasilitas pendukung yang dibangun dapat meningkatkan kenyamanan wisatawan tanpa mengubah karakter kawasan secara berlebihan.

Skema kemitraan juga diharapkan dapat mempertemukan kepentingan pemerintah, masyarakat desa, pengelola destinasi dan calon investor dalam satu pola pengembangan yang berkelanjutan.

Untuk memastikan pengembangan berjalan terarah, Disparbud Banjarnegara akan menyusun master plan pengembangan wisata Zona 2 Dieng.

Master plan tersebut nantinya menjadi acuan dalam menentukan arah pembangunan dan pengelolaan destinasi.

Pemerintah ingin menghindari munculnya pembangunan yang tidak terkendali hanya karena kawasan tersebut mulai ramai dikunjungi.

Hal ini menjadi penting karena salah satu daya tarik utama Zona 2 justru terletak pada kondisi alamnya yang masih relatif terjaga.

Jika pembangunan dilakukan tanpa perencanaan, keunggulan tersebut berpotensi hilang.

Karena itu, pengembangan kawasan harus mempertahankan keseimbangan antara peningkatan kunjungan wisatawan, kebutuhan fasilitas, kepentingan ekonomi masyarakat, dan konservasi lingkungan.

Pemkab Banjarnegara juga berharap Zona 2 dapat menjadi alternatif ketika destinasi di Zona 1 mengalami kepadatan.

Saat jumlah wisatawan meningkat pada masa liburan atau agenda besar seperti DCF, sebagian pengunjung nantinya dapat diarahkan untuk menikmati destinasi di kawasan Zona 2.

Pengembangan Zona 2 Dieng pada akhirnya tidak hanya bertujuan mengejar angka kunjungan.

Pemerintah ingin membangun pola pariwisata yang lebih tersebar dan berkelanjutan.

Dengan jumlah kunjungan yang saat ini belum mencapai 1 persen, ruang pengembangan Zona 2 masih cukup besar.

Namun, peningkatan popularitas tersebut harus dilakukan secara terukur agar tidak menghilangkan keaslian lingkungan yang menjadi modal utama kawasan.

Telaga Merdada, Telaga Dringo, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka dan Telaga Sewiwi menjadi bagian dari potensi yang akan dikembangkan.

Melalui pembenahan destinasi, penguatan Pokdarwis dan BUMDes, konsep homestay berbasis konservasi, serta penyusunan master plan, Pemkab Banjarnegara berharap Zona 2 dapat tumbuh sebagai destinasi alternatif sekaligus memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat.

Pengembangan tersebut juga diharapkan mampu mengurangi ketimpangan kunjungan antara Zona 1 dan Zona 2.

Di sisi lain, keberadaan master plan menjadi instrumen penting agar peningkatan wisatawan tidak otomatis diikuti pembangunan fisik secara masif.

Dengan pendekatan tersebut, Zona 2 Dieng diharapkan dapat berkembang menjadi kawasan wisata yang menarik sekaligus tetap menjaga lingkungan, lahan pertanian, keselamatan wisatawan dan kehidupan masyarakat lokal. (jud/stch/dda)

Iklan