Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Tiba-tiba Masuk Desil 9, Siswi SLB di Banjarnegara Terpaksa Kehilangan Bansos

Siswi Berprestasi Kehilangan BansosSiswi Berprestasi Kehilangan Bansos
BERKARYA: Amanda Embun Widianti, siswi penyandang disabilitas dari SLB Mandiraja menunjukkan hasil karyanya

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Kisah Amanda Embun Widianti, siswi kelas X SLB Mandiraja, Banjarnegara, menjadi perhatian setelah layanan bantuan sosial (bansos) yang sebelumnya diterimanya dihentikan.

Penyebabnya, data keluarganya tercatat dalam kelompok desil sembilan.

Persoalan tersebut menjadi sorotan karena kondisi ekonomi keluarga Amanda dinilai masih jauh dari mapan.

Ayahnya, Widiatmo, tidak memiliki pekerjaan tetap. Sementara ibu Amanda telah berpisah dari keluarga dan kini tinggal di Kalimantan.

Amanda sendiri saat ini tinggal bersama neneknya. Keluarganya juga belum memiliki rumah sendiri.

Kondisi tersebut membuat keluarga Amanda berharap data sosial ekonomi mereka dapat kembali diverifikasi agar sesuai dengan keadaan sebenarnya.

Sebelumnya, Amanda mendapatkan layanan kesejahteraan sosial dari Sentra Satria Baturraden, unit pelaksana teknis di bawah Kementerian Sosial.

Namun, layanan tersebut kemudian berhenti setelah data keluarganya menunjukkan status desil sembilan.

Kepala SLB Mandiraja, Ruslan Abdul Ghoni, mengatakan pihak sekolah sebelumnya ikut mengusulkan Amanda sebagai penerima bantuan.

Meski demikian, sekolah tidak memiliki kewenangan untuk menentukan kelompok desil keluarga penerima.

Penentuan tersebut dilakukan berdasarkan data sosial ekonomi yang menjadi acuan program bantuan.

“Kami hanya mengusulkan, tapi yang menentukan desil berapa kan bukan kami. Untuk penerimanya memang yang masuk desil satu sampai lima. Karena Embun masuk desil sembilan, akhirnya layanan bantuannya dihentikan,” kata Ruslan, Selasa (8/9/2026).

Status desil merupakan pengelompokan tingkat kesejahteraan masyarakat dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).

Kelompok tersebut dibagi menjadi 10 desil, dengan desil lebih rendah menunjukkan kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan yang lebih rendah.

Data ini digunakan sebagai salah satu dasar dalam penentuan sasaran berbagai program perlindungan sosial.

Dalam kasus Amanda, pihak sekolah mempertanyakan kesesuaian data tersebut dengan kondisi keluarga yang sebenarnya.

Ruslan berharap ada verifikasi ulang terhadap kondisi sosial ekonomi keluarga Amanda.

Menurutnya, kondisi nyata keluarga perlu menjadi pertimbangan agar bantuan yang sesuai dapat kembali diberikan.

Harapan tersebut muncul karena kondisi keluarga Amanda tidak menunjukkan kehidupan ekonomi yang mapan.

Ayahnya tidak mempunyai pekerjaan tetap, sedangkan Amanda tinggal bersama nenek karena keluarga belum mempunyai rumah sendiri.

Widiatmo mengaku terkejut ketika mengetahui keluarganya masuk dalam kelompok desil sembilan.

Sebelumnya, keluarganya beberapa kali menerima bantuan sosial yang cukup membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Saya kaget kok bisa masuk desil sembilan. Sebelumnya saya sering mendapat berbagai bantuan dan itu sangat membantu ekonomi keluarga. Sekarang saya juga tidak tahu ke depannya akan seperti apa,” ujar Widiatmo.

Ia mengaku persoalan tersebut telah disampaikan kepada pihak terkait, termasuk RT di lingkungan tempat tinggalnya. Namun, hingga kini belum mendapatkan tanggapan.

Di tengah persoalan bantuan sosial yang dialaminya, Amanda memiliki potensi dan prestasi yang membanggakan.

Siswi penyandang disabilitas tersebut mengembangkan kemampuan di bidang desain grafis dengan memanfaatkan tablet milik sekolah.

Kemampuan itu telah membawanya meraih prestasi dari tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional.

Catatan kompetisi tingkat nasional juga menunjukkan nama Amanda Embun Widianti dari SLB Negeri Mandiraja sebagai peraih Juara Harapan 1 kategori desain grafis dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Pendidikan Khusus 2025.

Prestasi tersebut menjadi gambaran bahwa keterbatasan kondisi ekonomi dan status sebagai penyandang disabilitas tidak menghalangi Amanda untuk terus mengembangkan kemampuannya.

Bagi sekolah, dukungan terhadap Amanda bukan hanya berkaitan dengan bantuan sosial, tetapi juga kesempatan untuk terus mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Kasus Amanda sekaligus menunjukkan pentingnya ketepatan data sosial ekonomi dalam menentukan sasaran bantuan.

Ketika kondisi yang tercatat dalam sistem tidak sesuai dengan keadaan di lapangan, proses pemutakhiran dan verifikasi data menjadi penting agar masyarakat yang membutuhkan tidak kehilangan akses terhadap layanan sosial.

Pihak keluarga kini berharap persoalan status desil tersebut dapat ditindaklanjuti dan kondisi mereka kembali diperiksa.

Dengan demikian, keputusan mengenai bantuan sosial dapat didasarkan pada kondisi keluarga yang sebenarnya. (jud/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Proyek Sampah Jadi Listrik Masih Tunggu Investor

Proyek Pengolah Sampah Jadi Listrik di Purbalingga Masih Tunggu Investor, Groundbreaking Ditarget November