BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Penurunan pendapatan kawasan wisata Baturraden menjadi perhatian DPRD Kabupaten Banyumas.
Kondisi tersebut mendorong Komisi III DPRD Banyumas meminta pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap pengelolaan objek wisata yang dikelola pemerintah.
Evaluasi dinilai penting untuk mengetahui penyebab destinasi wisata milik pemerintah daerah dinilai kalah bersaing dengan sejumlah objek wisata yang dikelola pihak swasta.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Banyumas, Slamet Sukoco, mengatakan penurunan pendapatan sektor pariwisata tidak seharusnya dianggap sebagai persoalan biasa.
Menurutnya, perlu dilakukan kajian untuk mengetahui akar masalah yang menyebabkan performa objek wisata pemerintah mengalami penurunan.
“Kita perlu melihat sebenarnya akar permasalahannya di mana. Apakah memang kemudian rendahnya inovasi, sehingga objek wisata yang dikelola oleh OPD teknis ini kalah bersaing dengan objek wisata yang dikelola oleh swasta?” ujar Slamet.
Sorotan tersebut disampaikan di tengah upaya Banyumas mengembangkan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah.
Pemkab Banyumas sendiri telah memiliki Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2026 tentang Kepariwisataan yang ditetapkan pada 20 Juli 2026.
Slamet mengatakan persoalan pengelolaan wisata dapat dilihat dari perkembangan jumlah kunjungan.
Menurut dia, terdapat objek wisata yang dikelola pihak swasta justru mampu mencatat peningkatan kunjungan, sementara sejumlah destinasi yang dikelola pemerintah di kawasan Baturraden menunjukkan tren yang perlu menjadi perhatian.
Kondisi tersebut, lanjutnya, harus menjadi bahan evaluasi untuk melihat apakah strategi pengelolaan yang diterapkan selama ini sudah mampu mengikuti perubahan minat wisatawan.
Baturraden sendiri masih memiliki daya tarik bagi wisatawan. Pada masa libur sekolah Juli 2026, misalnya, pengelola mencatat 27.617 wisatawan berkunjung sejak awal periode libur sekolah.
Jumlah tersebut meningkat sekitar 200-300 persen dibandingkan hari biasa.
Data tersebut menunjukkan bahwa potensi kunjungan sebenarnya masih terbuka.
Tantangannya adalah bagaimana menjaga daya tarik tersebut agar tidak hanya meningkat pada musim liburan, tetapi juga mampu menciptakan kunjungan yang lebih konsisten.
Sebelumnya, pada 2025, Lokawisata Baturraden mencatat 277.008 kunjungan dengan pendapatan sekitar Rp6,85 miliar.
Capaian pendapatan tersebut masih berada di bawah target Rp7 miliar yang ditetapkan pengelola.
Selain persoalan inovasi, DPRD Banyumas juga menyoroti sejumlah aspek teknis dalam pengelolaan kawasan wisata.
Slamet menyebut sistem ticketing, lokasi parkir, hingga persoalan parkir liar sebagai beberapa hal yang perlu mendapat perhatian.
Keluhan wisatawan terkait hal-hal tersebut dinilai dapat memengaruhi kenyamanan selama berada di kawasan wisata.
” Salah satu yang dikeluhkan adalah masalah ticketing, lokasi parkir, bahkan mungkin parkir liar ini perlu diatasi bersama,” paparnya.
Menurut Slamet, persoalan teknis tersebut membutuhkan koordinasi lintas sektor.
Pengelola wisata tidak dapat bekerja sendiri karena persoalan akses, parkir, ketertiban, serta pelayanan wisata dapat melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah maupun pihak lain.
Pembenahan pelayanan juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan pengalaman wisatawan.
Ketika wisatawan merasa nyaman sejak memasuki kawasan hingga meninggalkan lokasi, peluang untuk kembali berkunjung maupun merekomendasikan destinasi kepada orang lain akan semakin besar.
DPRD Banyumas menilai pembenahan tata kelola saja belum cukup untuk mengembalikan daya saing wisata Baturraden.
Pengelola juga perlu menghadirkan inovasi dan daya tarik baru yang mampu menjawab perubahan tren wisata.
Agenda pariwisata yang lebih masif dan terarah dinilai dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kunjungan.
Slamet mendorong Banyumas menggali kegiatan yang dapat menarik wisatawan dari luar daerah.
Agenda berskala regional hingga nasional dapat dikembangkan dengan memanfaatkan potensi alam, budaya, kuliner, maupun olahraga.
Salah satu yang dinilai potensial adalah sport tourism. Kegiatan olahraga seperti lomba lari dapat dikembangkan menjadi agenda wisata yang mendatangkan peserta sekaligus pendamping dari berbagai daerah.
Konsep tersebut memungkinkan kegiatan olahraga tidak hanya memberikan manfaat bagi sektor pariwisata, tetapi juga berdampak terhadap pelaku UMKM, penginapan, transportasi, kuliner, dan berbagai usaha masyarakat di sekitar destinasi.
Pengembangan wisata berbasis kegiatan dinilai dapat menjadi salah satu cara memperluas segmen wisatawan.
Selama ini, kunjungan ke Baturraden sangat dipengaruhi momentum libur sekolah, akhir pekan, dan hari libur nasional.
Ketika terdapat agenda khusus, jumlah kunjungan berpotensi meningkat.
Hal tersebut terlihat dari pelaksanaan berbagai kegiatan di kawasan Baturraden yang juga memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Pada Juli 2026, misalnya, kegiatan Grebeg Sura di kawasan Lokawisata Baturraden tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga mendorong aktivitas ekonomi pelaku UMKM.
Karena itu, agenda wisata dapat disusun secara lebih terencana sepanjang tahun.
Pemerintah daerah dapat mengombinasikan kegiatan olahraga, kuliner, budaya, serta kegiatan keluarga sehingga Baturraden memiliki alasan kunjungan yang lebih beragam.
Dengan kalender kegiatan yang konsisten, wisatawan tidak hanya datang karena ingin menikmati objek wisata, tetapi juga karena tertarik mengikuti agenda tertentu.
Meski menghadapi persoalan pendapatan dan persaingan dengan destinasi swasta, Baturraden masih memiliki basis pengunjung yang cukup kuat.
Pada awal 2026, pengelola mencatat rata-rata kunjungan akhir pekan berada di atas 1.000 wisatawan per hari.
Angka tersebut dapat meningkat ketika memasuki masa libur panjang.
Potensi tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah daerah untuk melakukan pembenahan.
Evaluasi tidak harus dimaknai sebagai penilaian terhadap satu pihak, tetapi sebagai upaya mencari strategi pengelolaan yang lebih sesuai dengan kebutuhan wisatawan.
DPRD Banyumas mendorong agar persoalan yang muncul dapat dipetakan secara menyeluruh.
Mulai dari kualitas pelayanan, sistem ticketing, parkir, fasilitas, promosi, inovasi atraksi, hingga agenda wisata perlu dievaluasi secara berkala.
Dengan demikian, pengelolaan Baturraden tidak hanya mengejar jumlah kunjungan, tetapi juga meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan dan pendapatan daerah.
Slamet berharap evaluasi pengelolaan pariwisata dapat menghasilkan langkah perbaikan yang konkret.
Menurutnya, Banyumas memiliki banyak potensi wisata yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik regional maupun nasional.
“Perlu digali inovasi dan improvisasi lagi supaya Banyumas benar-benar menjadi daya tarik untuk mendatangkan wisatawan, sehingga kemudian meningkatkan pendapatan dari sektor pariwisata,” pungkasnya.
Evaluasi terhadap Baturraden diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat daya saing destinasi milik pemerintah.
Pembenahan fasilitas dan layanan perlu berjalan bersamaan dengan pengembangan atraksi serta promosi yang lebih kreatif.
Dengan strategi tersebut, Baturraden diharapkan mampu mempertahankan posisinya sebagai salah satu destinasi unggulan Banyumas sekaligus memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian daerah. (res/stch/dda)