BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Nama Septi Rahmadani kini semakin dikenal setelah berhasil meraih gelar Runner Up Miss Hijab Jawa Tengah 2026.
Perempuan berusia 20 tahun asal Banyumas itu berhasil membawa kemampuan public speaking dan advokasi perempuan ke panggung tingkat Jawa Tengah.
Namun, perjalanan Septi menuju panggung tersebut tidak terjadi secara instan.
Jauh sebelum mengikuti ajang Miss Hijab Jawa Tengah 2026, ketertarikannya terhadap dunia public speaking sudah tumbuh sejak masih duduk di bangku madrasah ibtidaiyah.
Saat itu, Septi pernah berdiri di depan mikrofon dan berbicara di hadapan teman-temannya.
Meski hanya menyampaikan beberapa kalimat sederhana, pengalaman tersebut justru membekas dalam ingatannya.
Puluhan pasang mata yang memperhatikannya membuat Septi menyadari bahwa berbicara di depan banyak orang memiliki kekuatan tersendiri.
Dari pengalaman kecil tersebut, ia mulai tertarik mempelajari cara berkomunikasi dan menyampaikan pesan kepada orang lain.
“Waktu kecil, saya kagum melihat orang yang berdiri di depan banyak orang, lalu suaranya bisa menggerakkan, memberi pengaruh positif, dan didengar dengan penuh perhatian,” kenang Septi.
Bagi Septi, public speaking bukan sekadar kemampuan berbicara di depan banyak orang.
Menurut mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Saizu Purwokerto tersebut, komunikasi juga menjadi cara untuk membangun hubungan dan menyampaikan pesan yang memberikan dampak.
“Tapi tentang membangun koneksi dan menyampaikan pesan yang berdampak,” ujarnya.
Ketertarikan tersebut kemudian semakin berkembang. Septi banyak mendapatkan inspirasi dari guru pembina di sekolah, para penceramah, hingga master of ceremony (MC) yang ia lihat dalam berbagai kegiatan.
Ia mengagumi bagaimana seorang pembicara mampu berdiri dengan tenang, berbicara secara lugas, sekaligus membuat orang lain fokus mendengarkan.
“Saya kagum banget melihat bagaimana guru atau pembicara tersebut berdiri dengan tenang, bicaranya lugas, tapi bisa bikin satu ruangan penuh terhipnotis dan memperhatikan,” jelasnya.
Menariknya, Septi sebenarnya sempat memiliki cita-cita menjadi dokter. Keinginan tersebut muncul karena dirinya ingin membantu dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Seiring berjalannya waktu, cita-cita itu berubah. Septi kemudian menemukan cara lain untuk membantu orang lain, yaitu melalui komunikasi, edukasi, motivasi, dan advokasi sosial.
“Kalau dulu impian saya jadi dokter adalah untuk menolong dan menyembuhkan orang lain, sekarang lewat suara dan panggung speaking, saya tetap bisa ‘menyembuhkan’ dan membantu orang lewat edukasi, motivasi, dan advokasi sosial,” tuturnya.
Prinsip tersebut kemudian ia bawa melalui program #SpeakUpSister. Program ini lahir dari kepedulian Septi terhadap perempuan yang masih mengalami kesulitan untuk menyampaikan pendapat, membangun kepercayaan diri, maupun menceritakan pengalaman mereka.
Bagi Septi, perempuan perlu memiliki ruang untuk menyampaikan suara dan gagasannya.
Karena itu, kemampuan public speaking yang dimilikinya tidak ingin hanya digunakan untuk tampil di atas panggung, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan.
Kesempatan untuk membawa gagasan tersebut semakin luas ketika Septi mengikuti Miss Hijab Jawa Tengah 2026.
Ajang ini menjadi ruang bagi para muslimah berprestasi untuk menunjukkan kemampuan, kecerdasan, kepribadian, sekaligus kontribusi sosial.
Untuk mencapai babak Grand Final, Septi harus melewati proses seleksi yang cukup panjang.
Audisi luring yang berlangsung di Semarang diikuti sekitar 50 peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah.
Para peserta mengikuti sejumlah tahapan penilaian. Mulai dari deep interview, wawasan umum dan keislaman, unjuk bakat, pemaparan program advokasi, catwalk, hingga kemampuan public speaking.
“Dari 50 peserta tersaring menjadi 23,” ujar Septi.
Persaingan semakin ketat setelah jumlah peserta berkurang. Tidak hanya dituntut tampil percaya diri, Septi juga harus mampu menjelaskan gagasan dan program advokasi yang dibawanya.
Kemampuan komunikasi yang telah ia latih sejak kecil akhirnya menjadi salah satu bekal penting dalam perjalanan tersebut.
Septi mampu memanfaatkan pengalaman public speaking untuk menyampaikan gagasan mengenai pemberdayaan perempuan.
Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Septi Rahmadani berhasil meraih Runner Up Miss Hijab Jawa Tengah 2026 pada malam Grand Final yang berlangsung di TATV Solo, Surakarta, Minggu (2/8/2026).
Prestasi tersebut tidak hanya menjadi pencapaian pribadi. Septi juga membawa program advokasi SpeakUp.Sister (The Unheard Project) yang berfokus pada pemberdayaan perempuan melalui public speaking dan edukasi komunikasi.
Bagi Septi, gelar Runner Up Miss Hijab Jawa Tengah 2026 bukanlah akhir perjalanan. Justru, pencapaian tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas pesan yang selama ini ia perjuangkan.
Ia ingin semakin banyak perempuan berani menyampaikan pendapat, percaya terhadap kemampuan diri sendiri, dan tidak takut menggunakan suara mereka untuk hal-hal positif.
Septi percaya bahwa suara tidak harus keras untuk bisa didengar. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah ketulusan dan manfaat dari pesan yang disampaikan.
Perjalanan Septi pun menjadi gambaran bagaimana sebuah pengalaman sederhana dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.
Dari seorang anak yang pernah berdiri di depan mikrofon di ruang kelas madrasah di Banyumas, kini ia mampu tampil di panggung tingkat Jawa Tengah.
Gelar Runner Up Miss Hijab Jawa Tengah 2026 menjadi salah satu bukti perjalanan tersebut. Namun, Septi masih ingin melanjutkan langkahnya.
Ia tidak ingin berbicara hanya agar dirinya didengar. Lebih dari itu, Septi ingin menggunakan kemampuan komunikasi yang dimilikinya untuk membantu semakin banyak perempuan menemukan keberanian dan suara mereka sendiri. (*/stch/dda)