Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Semarak Agustusan di Rutan Kebumen, Warga Binaan dan Pegawai Ikut Lomba HUT RI ke-81
Petani Cilongok Terapkan Sawah Pokok Murah, Solusi Hadapi Kemarau dan Krisis Air

Petani Cilongok Terapkan Sawah Pokok Murah, Solusi Hadapi Kemarau dan Krisis Air

Kemarau Panjang Ganggu PertanianKemarau Panjang Ganggu Pertanian
MENINJAU: Habib saat meninjau pertumbuhan tanaman padi SPM di sawahnya, di Desa Cilongok

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Musim kemarau berkepanjangan mulai memberikan dampak terhadap sektor pertanian di Kabupaten Banyumas.

Debit air irigasi yang terus menurun membuat sejumlah petani menghadapi keterbatasan pasokan air untuk mengolah lahan. Kondisi tersebut bahkan meningkatkan risiko gagal tanam hingga puso.

Situasi ini mendorong petani mencari cara alternatif agar kegiatan pertanian tetap berjalan meski ketersediaan air terbatas.

Salah satunya dilakukan petani di Desa Cilongok, Kecamatan Cilongok, dengan menerapkan sistem Sawah Pokok Murah (SPM).

Metode SPM menjadi pilihan karena dinilai lebih hemat air dan biaya produksi dibandingkan pola tanam padi secara konvensional.

Sistem tersebut memungkinkan petani mengurangi sejumlah tahapan pengolahan lahan sekaligus menekan penggunaan bahan produksi.

Salah seorang petani Desa Cilongok, Habib Soleh, mengatakan sistem SPM memiliki perbedaan dalam proses persiapan lahan.

Petani tidak perlu melakukan pengolahan tanah menggunakan traktor seperti yang umum dilakukan pada sistem konvensional.

Menurut Habib, persiapan lahan cukup dilakukan dengan membuat bedengan. Cara tersebut membuat biaya yang harus dikeluarkan petani sejak awal masa tanam menjadi lebih rendah.

“SPM lebih hemat biaya karena tidak menggunakan olah tanah dengan traktor, cukup membuat bedengan. Penggunaan pupuk kimia juga jauh lebih sedikit,” kata Habib.

Penghematan tidak hanya berasal dari biaya pengolahan lahan. Penggunaan pupuk kimia yang lebih sedikit juga menjadi salah satu pertimbangan petani dalam menerapkan metode tersebut.

Kondisi ini dinilai penting ketika biaya produksi pertanian menjadi salah satu beban yang harus diperhitungkan petani.

Selain persoalan biaya, Habib menyebut sistem SPM memiliki keunggulan dalam membantu pengendalian hama tanaman.

Menurutnya, pola budidaya tersebut dapat menciptakan kondisi yang mendukung keberadaan predator alami sehingga perkembangan hama tertentu dapat ditekan.

Pengendalian hama menjadi perhatian penting bagi Habib karena sebelumnya ia beberapa kali mengalami masalah akibat serangan wereng dan tikus.

Saat masih menggunakan pola tanam konvensional, serangan hama tersebut membuat hasil panen tidak maksimal.

“Dulu saya menggunakan sistem konvensional dan lebih sering gagal panen karena serangan wereng maupun tikus. Setelah beralih ke SPM, alhamdulillah wereng tidak bisa masuk dan tikus juga lebih mudah dikendalikan,” ujarnya.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan Habib mencoba metode SPM.

Selain berharap dapat mengurangi biaya produksi, ia juga ingin menekan risiko kerugian akibat serangan hama yang berulang.

Saat ini, penerapan sistem SPM yang dilakukan Habib masih berada pada musim tanam pertama.

Tanaman padi belum memasuki masa panen sehingga hasil akhir dari metode tersebut belum dapat diketahui secara pasti.

Meski begitu, Habib melihat pertumbuhan tanaman padi yang dibudidayakan menggunakan metode SPM cukup menjanjikan. Ia menggunakan varietas Sunggal untuk musim tanam tersebut.

“Ini baru tanam pertama dengan sistem SPM, tetapi pertumbuhan padinya terlihat lebih bagus dibandingkan sistem konvensional,” katanya.

Bagi petani di wilayah yang mengalami keterbatasan air, pola budidaya seperti SPM menjadi salah satu pilihan untuk beradaptasi dengan kondisi musim.

Kemarau panjang membuat ketersediaan air irigasi tidak selalu mampu memenuhi kebutuhan seluruh lahan pertanian.

Keterbatasan air tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petani karena tanaman padi membutuhkan pengelolaan air yang tepat selama masa pertumbuhan.

Ketika pasokan irigasi menurun, petani harus mencari strategi agar lahan tetap produktif tanpa mengeluarkan biaya yang terlalu besar.

Penerapan SPM di Desa Cilongok menjadi salah satu bentuk adaptasi petani terhadap kondisi tersebut.

Metode ini tidak hanya ditujukan untuk menghemat biaya, tetapi juga diharapkan dapat membantu petani menghadapi risiko gagal panen akibat kondisi lingkungan dan serangan hama.

Habib berharap metode Sawah Pokok Murah dapat terus dikembangkan dan diterapkan oleh lebih banyak petani, khususnya di wilayah yang menghadapi persoalan pengairan.

Menurutnya, metode budidaya yang mampu menekan biaya dan menyesuaikan diri dengan kondisi lahan dapat menjadi alternatif bagi petani ketika menghadapi musim kemarau panjang.

“Mudah-mudahan dengan SPM ini hasilnya lebih baik dan bisa mengurangi risiko gagal panen,” pungkasnya.

Dengan kondisi cuaca yang semakin menantang, petani dituntut mampu menyesuaikan pola budidaya agar produksi pertanian tetap berjalan.

Sistem SPM menjadi salah satu inovasi yang sedang dicoba petani Cilongok untuk menjawab persoalan tersebut.

Hasil panen dari penerapan SPM memang masih harus menunggu hingga musim tanam pertama selesai.

Namun, dari sisi biaya produksi, penggunaan pupuk, pengolahan lahan, serta pengendalian hama, metode tersebut mulai memberikan alternatif bagi petani yang ingin menerapkan pola pertanian lebih efisien.

Jika hasil panennya sesuai harapan, penerapan Sawah Pokok Murah di Banyumas berpotensi menjadi salah satu pilihan bagi petani di daerah dengan keterbatasan air.

Terutama ketika musim kemarau panjang membuat pasokan irigasi semakin terbatas dan risiko gagal panen meningkat. (zet/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Semarak Agustusan di Balik Tembok Rutan

Semarak Agustusan di Rutan Kebumen, Warga Binaan dan Pegawai Ikut Lomba HUT RI ke-81